Film “Pocong Origin”, Teror Arwah Pemegang Ilmu Hitam Banaspati

Foto: Adegang film 'Pocong Origin" produksi PT. Kharisma Starvision
_

Kisah-kisah tentang orang mati, hantu dengan berbagai jenisnya nampaknya tak akan pernah mati dalam perfilman Indonesia.

Entah sudah berapa judul film dibuat sejak industri perfilman Indonesia lahir dan bertumbuh hingga saat ini – bahkan ada yang berjudul sama karena merupakan film remake (dibuat ulang) atau karena memikiki kesamaan tema.

Para sineas yang beregenerasi terus mengolah daya kreasi mereka untuk melahirkan sebuah tontonan menarik, meski dari genre dan tema yang sama. Pihak produser yang melihat genre horor masih bisa menghasilkan uang, selalu membuka pintu bagi sineas kreatif, dan siap membuka keran untuk mengucurkan dana.

Pocong Origin produksi PT Kharisma Starvision yang digagas oleh sutradara berpengalaman, Monti Tiwa, adalah gambaran dari tesis di atas: tema dan genre lawas, sutrdara kretif dan produser yang jeli melihat gagasan sang sineas.

Film “Pocong Origin” produksi PT. Kharisma Starvision.

Pocong Origin berkisah tentang Ananta, seorang pembunuh berdarah dingin telah dieksekusi mati oleh Negara. Sasthi, putri satu-satunya harus mengantarkan jenazah sang ayah untuk dikuburkan di kampung halamannya. Dengan ditemani oleh Yama, seorang sipir penjara, keduanya berpacu dengan waktu untuk mencapai kampung Ananta. Hal ini menjadi semakin sulit karna berbagai gangguan ghoib menghalangi mereka di sepanjang perjalanan.

Tidak seperti film horor kebanyakan yang sejak awal sudah menteror penonton dengan adegan menyeramkan dan musik yang menggedor jantung, karya Monti Tiwa ini dibuka oleh alunan lagu keroncong “Di Bawah Sinar Bulan Purnama” yang manis dan enak didengar.

Film ini sendiri dibuka dengan adegan seorang lelaki berbadan besar di balik terali besi di bangunan tua penjara, tengah memandang bulan yang bersinar penuh. Sang lelaki bernana Ananta (Surya Saputra), terkesan sebagai lelaki yang bijak, murah senyum. Tidak ada kesan beringas pada wajahnya.

Ketika dua orang sipir datang membawa borgol dan rantai berkilat tertimpa cahaya lampu, Ananta menyodorkan tangannya dengan tenang, tanpa perlawanan. Ia tersenyum, pasrah, dan menyuruh kedua petugas penjara itu untuk melakukan tugasnya.

Malam itu eksekusi mati terhadap Ananta dijalankan. Kepala Ananta ditutup kain hitam, ia diikat di sebuah tiang dengan tangan dan kaki terborgol, lalu satu regu penembak jitu menekan pelatuk agar peluru tajam segera ke luar dari moncong senjata laras panjang yang mereka pegang, dan segera menghujam tubuh Ananta.

Sampai di sini, meskipun proses eksekusi itu memggambarkan kesadisan, rasa horor yang ingin disajikan Monti, belum terlalu terasa. Namun ketegangan orang-orang di luar panjara, termasuk seorang wartawati yang ingin meliput peristiwa tersebut, mulai menggiring emosi penonton untuk menyeruak lebih dala isi cerita.

Kedatangan Sasthi, anak satu-satunya Ananta bersama petugas ke dalam penjara, kemudian diikuti penjelasan Kepala Lapas yang mengatakan Ananta tidak akan mati kecuali oleh tangan anaknya sendiri karena memiliki ilmu banaspati, membuat beban ketegangan — bahkan kengerian — semakin bertambah. Monti juga berhasil membuat suasana makin mencekam dengan mati hidupnya lampu secara tiba-tiba di dalam penjara, dan kehadiran bocah misterius yang hanya bisa dilihat oleh Sasthi, sejak Sasthi masih mengamen.

Bagian kedua dari cerita film ini adalah perjalanan mengantar jenazah Ananta ke kampung Cimacan, menggunakan ambulans yang dikemudikan oleh Yama (Samuel Rizal) ditemani oleh Sasthi.

Sejak awal sudah diberikan informasi bahwa Ananta adalah penjahat sakti yang memiliki ilmu banaspati. Dia tidak akan mati kecuali oleh anaknya sendiri. Dan bila bulan purnama berwarna merah muncul, maka malapetaka akan datang di sebuah tempat yang warganya melihat bulan merah itu.

Karena Ananta semasa hidupnya dikenal sebagai pembunuh sadis, maka warga Cimacan menolak jenazah Ananta dimakamkan di sana. Namun lurah Dirman mengijinkan, sehingga terjadi konflik di tengah masyarakat. Lurah Dirman yang depresi akhirnya gantung diri.

Perjalanan panjang yang ditempuh oleh Yana bersama Sasthi yang membawa mayat Ananta dalam ambulan, merupakan plot yang berhasil dimainkan

Sedemikian rupa oleh Monti Tiwa. Perjalanan yang melewati hutan dengan pohoh-pohon besar, salah jalan, HP mati, kehabisan bensin hingga berpapasan dengan sekelompok mahluk halus menggotong keranda yang sempat meneror Yama dan Sasthi, membuat ketegangan dalam perjalanan panjang ini semakin menjadi-jadi. Terlebih lagi ketika jenazah Ananta yang sudah dibungkus kain kafan, jatuh dari dalam mobil, karena mobil terguncang hebat ketika didorong oleh Yama dan dua lelaki bermotor yang mereka temui di jalan, sementata Sasthi memegang kemudi.

Keberadaan Jayanthi ( ) wartawati gigih yang terus mengikuti perjalanan mereka hingga ke kampung, ikut membuat suasana semakin kisruh. Namun perjalanan mencekam itu berhasil dilalui oleh Yama dan sang wartawati yang sempat cedera karena mobil jipnya tertimpa ambulans yang mundur tidak sengaja.

Ketegangan selesai? Belum, masih ada konflik antara warga dengan Abah (Tio Pakusadewo) kakak kandung Ananta soal pemakaman Ananta, dan puncaknya adalah bangkitnya banaspati di saat bukan berwarna darah, dan Abah salah menancapkan senjata kujang wasiat.

Pocong Origin merupakan sebuah film horor yang diharap dengan cermat oleh Monti Tiwa. Semua unsur dalam film ini tertangani dengan baik. Dan Monti Tiwa tidak terjebak dalam pembuatan adegan-adegan klise kemunculan hantu tiba-tiba yang dibarengi suara musik menggelegar untuk mengagetkan penonton. Melalui suara-suara misterius atau bayangan yang muncul, Monti seperti mengingatkan bahwa akan ada sesuatu yang bakal menakuti penonton.

Sedemikian rupa oleh Monti Tiwa. Perjalanan yang melewati hutan dengan pohoh-pohon besar, salah jalan, HP mati, kehabisan bensin hingga berpapasan dengan sekelompok mahluk halus menggotong keranda yang sempat meneror Yama dan Sasthi, membuat ketegangan dalam perjalanan panjang ini semakin menjadi-jadi. Terlebih lagi ketika jenazah Ananta yang sudah dibungkus kain kafan, jatuh dari dalam mobil, karena mobil terguncang hebat ketika didorong oleh Yama dan dua lelaki bermotor yang mereka temui di jalan, sementata Sasthi memegang kemudi.

Keberadaan Jayanthi ( ) wartawati gigih yang terus mengikuti perjalanan mereka hingga ke kampung, ikut membuat suasana semakin kisruh. Namun perjalanan mencekam itu berhasil dilalui oleh Yama dan sang wartawati yang sempat cedera karena mobil jipnya tertimpa ambulans yang mundur tidak sengaja.

Ketegangan selesai? Belum, masih ada konflik antara warga dengan Abah (Tio Pakusadewo) kakak kandung Ananta soal pemakaman Ananta, dan puncaknya adalah bangkitnya banaspati di saat bukan berwarna darah, dan Abah salah menancapkan senjata kujang wasiat.

Pocong Origin merupakan sebuah film horor yang diharap dengan cermat oleh Monti Tiwa. Semua unsur dalam film ini tertangani dengan baik. Dan Monti Tiwa tidak terjebak dalam pembuatan adegan-adegan klise kemunculan hantu tiba-tiba yang dibarengi suara musik menggelegar untuk mengagetkan penonton. Melalui suara-suara misterius atau bayangan yang muncul, Monti seperti mengingatkan bahwa akan ada sesuatu yang bakal menakuti penonton.

Tak diragukan, Pocong Origin merupakan salah satu film horor terbaik yang pernah dihasilkan oleh sineas di Indonesia.

merupakan salah satu film horor terbaik yang pernah dihasilkan oleh sineas di Indonesia.

 

 

Share This: