Film “Ten – The Secret Mission”: Aksi Heroik 10 Model Cantik.

_

Anak duta besar Amerika di Indonesia disandera oleh sekelompok penculik bersenjata lengkap dan canggih. Sandera dibawa ke sebuah pulau dan dijaga dengan ketat. Akibat aksi teror ini Presiden mendapat tekanan Amerlka yang mengancam mengirim pasukan khususnya untuk mengambil alih penyelamatan.

Pasukan keamanan Indonesia bisa saja melakukan operasi pembebasan, tetapi dengan resiko yang sangat tinggi karena para penyendera mengusai pulau dan memiliki persenjataan lengkap. Resiko terberat adalah sandera bisa saja dibunuh. Lantas siapa yang bisa menjalankan missi penyelematan?

Satuan Intelijen rahasia negara SIS (The Secret intelligen Serice) yang dipimpin seorang Jenderal Militer (Roy Marten) lalu merekrut 10 orang model untuk aksi pembebasna Kelly, anak duta besar Amerika yang disandera terorls. Para model adalah mantan atlit bela dlrl yang kemudian berallh profesi.

Kolonel John (Jeremy Thomas), yang bakerja untuk SIS adalah pencetus ide merekrut para model untuk operasi khusus penyelamatan. Para model yang memiliki kemampuan bela dlrl lnl, diberikan latihan keras, lalu disusupkan ke pulua seakan sedang melakukan pemotretan di atas yatch di lautan yang jaraknya dekat pulau itu. Mayor Cathy (Karenina) jadi pelatih, juga komandan 10 model dalam melakukan penyelamatan, dibantu oleh Kapten Dalton (Gibran Marten).

Fllm TEN The Secret Mission merupakan obsesi sutradara Helfi Kardit untuk menghadirkan film action yang bisa menyamai film-film serupa dari Hollywood. Karena itu dibutuhkan kerja keras untuk mewujudkannya. Menurut sang sutradara, produksi film inl memakan waktu lebih dari 2 tahun – pembuatan film yang tergolong lama di era ini, di mana di Indonesia orang bisa membuat film hanya dalam tempo 1 bulan

Menurut keterangan tertulis yang dibagikan, Persiapan pembuatan film memakan waktu 5 bulan, dengan action training dan workshop serta pembuatan action choreography yang memakan waktu 3 bulan. Shooting days 43 hari dilakukan di Jakarta, Bogor, dan 2 bulan di Kepulauan Seribu. Bahkan untuk 1 fighting scene yang ladi golden scene untuk ending film, memerlukan pengambilan gambar selama 14 hari. Adegan perkelahian ini disuguhkan nonstop selama 17 menit.

“Inl salah satu target saya dalam merealisasikaan sebuah film action dengan durasl fighting panjang tapi tetap intens dan dramatik. Adegan perkelahian ini melibatkan SFC (Stunt Fight Choreography) Gibran Marten, Wahyudi Beksi dan Svetlana Zavialova,” tutur Helfi

Dengan komposlsl adegan action yang cukup banyak, membutuhkan hampir 1 tahun edeting dan pengerjaan CGI selama 2 bulan Akhirnya karya bersama yang kami kerlakan dengan kecintaan untuk Perfilman Nasional lnl. slap kami suguhkan untuk seluruh pencinta lilm bioskop dl tanah air. Semoga kerja keras kami dapat diapresiasi,”  Helfi menambahkan.

Persoalan teknologi

Helfi Kardi bukan satu-satunya sutradara Indonesia yang bermimpi melahirkan film yang berbeda, yang kemasannya diberi sentuhan teknologi dengan rumus-rumus dan kemasan bisa menghibur. Perkembangan teknologi komputer memang sangat memungkinkan orang mewujudkan impian-impiannya di film, untuk menghasilkan adegan-adegan yang dulu tidak pernah bisa diwujudkan, tanpa biaya besar.

Jika di masa lalu pembuat film banyak memanfaatkan teknologi blue screen (layar) biru untuk membuat adegan-adegan yang tidak bisa diambil langsung gambarnya, kini dengan teknolog CGI impian itu lebih mudah diwujudkan, dengan biaya yang lebih murah dibandingkan membuat realshot (pengambilan gambar dengan obyek atau subyek sesungguhnya).

Memang tidak mudah mengejar kemampuan Hollywood dalam membuat film. Meski pun perangkat teknologi bisa dibeli, tetapi kemampuan mengoperasikannya merupakan hal lain yang perlu dipikirkan. Di Indonesia, belum ada tenaga professional maupun studio canggih yang mampu mewujudkan pembuatan gambar dengan rekayasa computer (CGI) yang mampu menghadirkan adegan seperti kejadian nyata.

Dalam film garapan Helfi Kardit ini misalnya, antara lain terlihat dalam dalam adegan helicopter pengintai yang ditembak jatuh.  Terlihat kilatan peluru stinger meluncur dan menghantam helicopter, dan langsung meledak. Ledakan helicopter hanya sekejap, terlihat bersih tanpa kepingan. Sebelumnya juga tidak digambarkan bagaimana situasi di kokpit pesawat ketika sang pilot mengamati situasi atau berkoordinasi dengan markas komando.

Helfi memang telah mencoba adonan Hollywood untuk membuat daya tarik bagi penonton. Rumusnya sederhana, yakni ada wanita cantik nan seksi, darah dan peluru. Namun bagaimana mengolah adonan, itulah yang jadi persoalan. Helfi Kardit masih kurang sabar, kurang detail dan tidak menggarap aspek dramaturginya dengan baik. Konsep seperti ini sudah banyak ditemui dalam film-film Hollywood murahan. Apa yang dilakukan Helfi Kardit baru memanjakan mata, belum menyentuh rasa.

 

Adegan perkelahian selama 17 menit yang disebut golden scene juga terlalu panjang dan menyesakkan, kalau tidak ingin dikatakan menjemukan. Penonton seperti tidak diberi kesempatan untuk bernafas.

Anak duta besar, seorang gadis berusia sekitar 10 tahun yang menyaksikan perkelahiran sadis seolah seperti patung tanpa ekspresi. Kalau sutradara atau produser mengatakan ini sajian menarik dan bagian sangat penting dalam film, rasanya kurang tepat. Adegan action yang panjang itu akhirnya tak menyisakan ruang untuk memperlihatkan sisi lain dari sebuah kekerasan: drama.

Lalu dari perkelahian berdarah-darah yang berhasil melumpuhkan semua teroris tangguh dengan persenjataan canggih itu, tidak satu pun korban dari pihak penyerang. Helfi mengenyampingkan logika, dan dala adegan sepanjang 17 menit, ia kehilangan banyak peluang melahirkan scene-scene dramatis.

Share This: