Film “The Lawyers (Pokrol Bambu)”: Kritik dan Satire Dunia Hukum di Indonesia

_

Pengacara selama ini dipandang sebagai profesi yang glamour, prestisius, penuh kenewahan. Lihat saja penampilan pengacara-pengacara (lawyer) sukses seperti Hotman Paris Hutapea, Hotma Sitompul, atau beberapa pengacara lain yang selama ini sering muncul di media.

Namun seperti profesi lainnya, pengacara ada yang sukses, ada pula yang hidupnya memprihatinkan.

Foto-foto: HW

“Cuma yang membedakannya, pengacara itu rata-rata gengsinya tinggi. Dia tidak mau kelihatan miskin, walau pun kondisinya pas-pasan,” kata produser film yang juga pengacara, Erwin Kallo dalam peluncuran poster film produksinya yang berjudul “The Lawyers (Pokrol Bambu)” di Casa Grande Recidence, Kota Kasablanka, Kamis (9/5/2019) sore.

Film karya sutradara Azar Fanny ini dibintangi oleh Roy Marten, Dicky Chandra, Rina Hassim, Kartika Berliana, Jerio Jeffry, Musdalifah Basri (komika), Tengku Rina, Poeljangga, Dika Anggara, Mugi Elman, Nayla Erwin dan lain-lain. 

Executive Producer Sumarni Kamaruddin menjelaskan, Erwin Kallo Film adalah sebuah PH baru yang didirikan 3 tahun lalu. Film-film yang akan dibuatnya akan mengambil latar belakang hukum, sesuai dengan latar belakang para pendiri rumah produksi ini.

“Banyak peristiwa menarik darindunia hukum. Film ini sendiri ceritanya tentang hukum dan drama keluarga.
Di film berikutnya kami juga akan mengangkat tentang dunia hakim yang lucu-lucu. Tentang humanisme hakim. Hakim itu juga manusia,” kata Sumarni. 

Selain digarap dengan unsur komedi, “The Lawyer” juga banyak mengkritisi kondisi hukum di negeri ini. Film adalah salah satu medium untuk menyampaikan kritik.

“Kami mengkritik lewat film. Kalau lewat medsos kan bisa kena Undang-undang ITTE. Jadi mengkritik itu mahal,” tambah Erwin Kallo.

Sutradara Azwar Fanny menjelaskan, begitu banyak yang ingin diangkat ke dalam film ini, sehingga skenario yang ditulisnya mencapai 290 scene. Tetapi karena jatah dari bioskop hanya 90 menit, maka film yang dibuat panjang itu harus disesuaikan.

“Ketika saya ketemu Pak Erwin, banyak masukan dari beliau, sehingga scenenya nambah terus,” kata Azar, seraya menambahkan, “Ini komedi satir, komedi cerdas, mudah-mudahan bisa dapat dua juta penonton.”

Aktor senior Roy Marten merasa tertantang untuk memerankan tokoh pengacara dalam film ini. “Ceritanya menarik, tema baru yang bisa menjadi pilihan bagi penonton karena tema-tema yang ada sekarang bisa membuat orang jenuh. Dan saya seperti biasa main sebagai orang kaya,” kata Roy sambil tertawa.

Aktor yang pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Garut, Dicky Chandra sempat kaget ketika membaca skenario film ini karena dialognya satir dan penuh kritik.

“Banyak dialog dalam film ini yang membuat saya takut, tapi harus saya sampaikan. Sebagai pemain kan saya harus profesional,” kata Dicky.

Aktris senior kelahiran Makassar, Rina Hasyim, mengaku hanya main sedikit dalam film ini. Tetapi dia yakin ini adalah film bagus yang akan menjadi kebanggaan orang Makassar karena dibuat oleh putra Makassar.

“Orang Makassar harus nonton film ini, karena ini dibuat oleh putra Makassar,” kata Rina tentang film yang akan beredar di bioskop pada pertengahan Mei 2019 mendatang.

Share This: