Film “The Lawyers, Pokrol Bambu”, Kisah Para Pengacara Garis Lucu!

Produser, sutradara dan pemain menjelang preview film "The Lawyers - Pokrol Bambu" di XXI Epicentrum, Kamis (15/5/2019).
_

Pengacara adalah profesi bergengsi. Selain cerdas, berani dan memiliki kekebalan hukum terbatas ketika menjalankan tugasnya, profesi yang satu ini juga sering membuat mata orang terbelalak karena gaya hidupnya yang glamor.

Namun siapa sangka, seperti juga profesi yang lain, banyak pengacara hidup dalam kondisi memprihatinkan. Berbeda dengan tampak luarnya yang gemerlapan.

Begitulah nasib yang dialami oleh Suparman Simanjuntak alias Supermen (Dicky Chandra), pengacara Pokrol Bambu pemilik sebuah kantor pengacara yang memiliki beberapa anak buah.

Supermen dan kawan-kawan termasuk kelompok pengacara rindu order. Sehingga mereka harus aktif memprospek klien, apapun kasus yang dihadapinya.

Celakanya tidak semua klien orang berduit. Ada pemakai narkoba keturunan Tionghoa yang sudah tidak diurus lagi oleh keluarganya, ada perempuan berkasus yang bokek, hanya bisa memberi uang recehan kucel kepada salah seorang anak buah Supermen, sebagai jasa pengacara, dan berbagai persoalan lainnya, yang membuat mereka tidak bisa naik kelas sebagai pengacara.

Sementara itu, Supermen dan anak buahnya selalu dikejar tagihan dari pemilik toko sembako sekaligus pemilik bangunan yang dikontrak Supermen, untuk dijadikan kantor.

Yang paling beruntung adalah Supermen sendiri, dia mendapat klien perempuan cantik dalam kasus perceraian. Sang klien, Nina Tanjung (Kartika Berliana) menggugat cerai suaminya yang kaya karena tidak tahan dengan perilaku suaminya, Johan Nabawi (Jerio Jeffry), yang suka menyiksa ketika berhubungan suami isteri (sado machoism).

Johan sendiri menyewa pengacara kelas atas RM Wicaksono (Roy Marten).

Dalam persidangan, gugatan Nina dikabulkan sebagian oleh Majelis Hakim. Tuntutannya bercerai dikabulkan, tetapi tuntutan harta gono-gini ditolak, sehingga setelah perceraian hidupnya susah.

Rupanya itu siasat Wicaksono agar bisa menjerat Nina agar jatuh ke dalam pelukannya. Sementara Nina sendiri jatuh hati dengan Supermen, yang mendapat bayaran jasa pengacara dengan cinta.

Satire Dunia Hukum Indonesia.

Selain Dicky Chandra, Kartika Berliana, dan Roy Marten, film karya Ashar Fany ini dibintangi oleh aktris kawakan Rina Hassim, Tengku Rina, Poeljangga, Dika Anggara, Mugi Elman, Michelle Michy, Sumarni Kamaruddin, Nayla Erwin, dan Musdalifah.

Tema yang dipilih untuk film ini mengenai dunia hukum. Sangat beralasan, karena Erwin Kallo Film memang didirikan oleh pengacara Erwin Kallo yang berprofesi sebagai pengacara. Erwin tahu betul bagaimana dunia hukum di Indonesia, sehingga melalui film ini disorot juga sedikit kebobrokan hukum di Indonesia, seperti sogokan untuk aparat, meskipun belum seberani penggambaran film India.

“The Lawyers” adalah sebuah film komedi satire, dengan benang merah persoalan hukum. Banyak dialog-dialog satire yang dimunculkan, seperti kalimat yang diucapkan RM Wicaksono, “Kepastian dalam dunia hukum ya ketidakpastian itu sendiri.”

Melalui film ini penulis ingin menggambarkan betapa bobroknya dunia hukum di Indonesia. Pengacara, salah satu elemen yang berada di dalamnya, menjadi pemain penting dalam sistem yang bobrok itu. Lihatlah mereka, dengan kemampuan logika hukumnya, mempermainkan hukum untuk keuntungannya sendiri.

Anak buah Supermen merekayasa kasus seolah Engkoh pemilik toko sembako dan bangunan yang disewa Supermen terancam menghadapi masalah hukum. Mereka memperalat pegawai kelurahan untuk menakut-nakuti Engkoh pemilik bangunan. Buntutnya si Engkoh meminta bantuan kepada Supermen dengan membayar jada kepengacaraan yang cukup besar. Uang itulah yang digunakan untuk membayar tagihan sewa kantor.

RM Wicaksono juga sebelas duabelas. Dengan kelihaiannya dia mengatur persidangan yang memenangkan Nina dalam gugatan cerai, tetapi membuat Nina miskin karena tidak mendapat harta gono-gini. Wicaksono lalu menawarkan budi, agar Nina menerima cintanya.

Gagasan yang ingin disampaikan film ini menarik, dan merupakan tema yang segar. Apalagi kisah yang diangkat mengenai pokrol bambu, yang pernah menjadi fenomena dalam dunia hukum di Indonesia. Film ini menjurus ke arah komedi ketimbang berbicara tentang hukum secara serius.

Pokrol Bambu adalah istilah untuk orang yang memiliki kemampuan hukum, tetapi tidak memiliki pendidikan formal di bidang hukum. Dengan kemampuannya itu, Pokrol Bambu kerap menjadi pembela bagi orang yang mengalami masalah hukum. Tetapi Pokrol Bambu kemudian dilarang, karena hanya Sarjana Hukum yang boleh menjadi pengacara.

Dalam film ini tidak dijelaskan apakah pokrol bambu yang dimaksud sama dengan Pokrol Bambu yang pernah menjadi fenomena dalam dunia hukum di Indonesia.

Seperti dalam film Indonesia kebanyakan, hampir semua problem besar dan pemecahannya dalam film ini disampaikan secara verbal. Sutradara belum mampu menghadirkannya melalui bahasa gambar yang menarik. Tata fotografi film ini juga digarap kurang maksimal.

Meskipun demikian, para pemain, mulai dari yang kawakan seperti Roy Marten, Rina Hassim dan Dicky Chandra, hingga pemeran lain, nampak sudah bekerja keras menghidupkan karakter tokoh masing-masing. Roy Marten dan Dicky Chandra telah memperlihatkan kemampuan yang hebat sesuai dengan usia dan pengalaman mereka.

“The Lawyers – Pokrol Bambu” mulai beredar di bioskop sejak 16 Mei 2019.

 

Share This: