Film “Valentine”, Kopi yang Terlambat Disajikan!

Srimaya (Estelle Linden), tokoh superheroine dalam film "Valentine" - skylar pictures.
_

Batavia City, sebuah kota yang padat penduduknya mengalami teror demi teror oleh para penjahat sadis. Polisi dengan kecanggihan peralatah yang dimilikinya, tak berdaya.

Untungnya keganasan para penjahat mendapat perlawanan setimpal dari seorang jagoan wanita bertopeng, bernama Sri, yang menggasak para penjahat tanpa ampun.

Kejahatan di Batavia City sendiri diotaki oleh seorang lelaki bertopeng yang dikawal oleh dua perempuan berkostum unik yang ahli berkelahi.

Harus kehilangan 80 data, karena dpt jadwal, film ini terpaksa tayang. Setelah ditarik, diaempurnakan film ini dibawa ke markte internasional.

Sri berhasil melumpuhkan lawan-lawannya, kecuali gembong penjahat yang berkostum ala superhero dengan badan tertutup dari kepala hingga kaki. Dalam satu perkelahian, Sri dapat dikalahkan oleh sang penjahat. Namun sebuah tembakan dari sniper yang berhasil menembus kepala sang penjahat, telah mengakhiri petualangannya.

Valentine adalah Film laga Indonesia yang disutradarai oleh Agus Pestol dan ditulis oleh Beby Hasibuan. Berdasarkan karakter fiksi Valentine terbitan Skylar Comics karya Sarjono Sutrisno, Aswin M.C. Siregar dan Ian Waryanto.

Film ini dibintangi oleh Estelle Linden sebagai Srimaya, seorang pelayan Cafeyang bercita-cita menjadi seorang aktris. Film ini memasang aktor Hollywood Matthew Settle sebagai Bono. Serta jajaran aktor & aktris Indonesia seperti Arie Dagienkz, Fendy Pradana, Joshua Pandelaki, Lily S.P., Mega Carefansa, Indra Birowo, Ahmad Affandy dan Nabila Putri.

Yang paling menonjol dari film ini adalah fotografi yang diambil menggunakan kamera generasi terbaru yang canggih, sehingga gambarnya sangat tajam, memiliki resolusi yang sangat tinggi, setara dengan gambar-gambar film produksi Hollywood terbaru. Rasanya baru film inilah di Indonesia yang memiliki kualitas gambar demikian bagus.

Menyadari kelebihan perangkat yang digunakannya, sutradara juga berusaha mengimbangi dengan tata artistik dan komposisi warna yang menawan, sehingga film ini memang lahir dari sebuah konsep yang dirancang matang. Film ini bisa menjadi raw model dalam menghasilkan gambar berkualitas untuk film di Indonesia.

Namun demikian, konsep yang dibuat menjadi seperti tidak menginjak bumi. Film ini menjadi sangat “Hollywood”. Set-set yang dibangun, lingkungan yang nampak di film maupun tokoh-tokoh yang dimunculkan hingga para pemeran pembantu maupun figuran, tidak mencerminkan sebagaimana gambaran yang biasa kita lihat di Indonesia sehari-hari.

Sutradara nampaknya sadar, ini adalah sebuah film fiksi yang boleh ditafsirkan secara bebas dalam implementasinya. Tidak salah juga, mungkin gambaran yang muncul dalam film ini adalah wajah Indonesia di masa depan.

Valentine bukanlah film baru. Film ini sudah tayang di Indonesia tahun lalu, dalam kondisi yang tidak sempurna.

“Waktu itu kami kehilangan 80 persen data film ini, sehingga tidak layak sebagai sebuah film. Tetapi karena sudah mendapat jam tayang, terpaksa kami edarkan. Film ini akan tayang di Amerika dan beberapa negara lain. Karena terdengar oleh pencinta superhero, kami bertekad untuk press screening ini,” kata perwakilan produser, aktor Marcellino Lefrand.

Fakta yang diungkapkan Marcellino memang membuat trenyuh. Film ini seharusnya dapat disaksikan oleh masyarakat luas maupun kalangan sineas, agar dapat pelajaran penting untuk membuat sebuah film yang bagus dalam konsep.

 

Sayang, ibarat secangkir kopi, film ini terlambat disajikan, hingga terlanjur dingin.

 

Share This: