Firman Nurjaya: Berkarya Tanpa Banyak Kata

_
Firman Nurjaya (memakai topi) bersama Bupati Majalengka ketika syuting film “Sofie, Dendam Dalam Dosa”. (Ist.)

Perfilman Indonesia ibarat magnit yang bisa menarik siapa saja. Mereka yang eksis adalah yang bisa menghasilkan karya-karya untuk mewarnainya. Ada yang ramai mempromosikan karyanya, tetapi ada yang diam tetapi tetap menghasilkan karya.

Firman Nurjaya, adalah insan film yang masuk ke dalam kelompok kedua. Dia tidak gembar-gembor, tetapi terus berjalan untuk memberikan karya terbaiknya bagi perfilman Indonesia. Sutradara kelahiran Jakarta yang mengawali kariernya sebagai pemain ini, baru saja merampungkan sebuah film layar lebar karyanya berjudul “Sofie, Dendam Dalam Dosa”.

Film Sofie, Dendam dalam Dosa yang diproduksi oleh Motion Brother Studio mengisahkan sosok roh Sofie, seorang wanita  Indo-Belanda selalu muncul dan menghantui keluarga Subrata dan Raden Sasmita. Keduanya adalah  tokoh masyarakat yang kaya dan sangat berpengaruh

Raden Sasmita adalah pria kaya raya mempunyai istri bernama Sofie yang muda dan cantik. Perbedaan usia keduanya 30 tahun Sofie lebih muda dari suaminya. Raden Sasmita membeli Sofie dari orang tuanya. Tidak lama setelah pernikahan mereka, Sofie di temui oleh penduduk setempat meninggal secara misterius.

Ternyata Kematian Sofie didalangi oleh Bertha kolektor  barang antik tingkat dunia, Sofie diwarisi sebuah benda dalam bentuk Liontin yang menurut info adalah peninggalan jaman dahulu yang menyimpan misteri dan kekuatan, Sasmita tergiur akan  harga liontin yang amat mahal di samping itu juga benda tersebut memiliki kekuatan gaib. Raden Sasmita bekerjasama dengan Subrata dan Nyi Gandasari berusaha untuk memiliki Liontin tersebut,  Liontin itulah yang berakibat  menimbulkan kematian bagi Sofie.

Subrata mempunyai anak bernama Awang, yang ternyata adalah kekasih Sofie, dikarenakan Sofie tidak mencintai Raden Sasmita, Subrata yang rekan bisnis Raden Sasmita itu untuk merebut Sofie dari Raden Sasmita  menyerahkan Sofie kepada putranya Awang, asal Awang ia bisa membujuk Sofie untuk menyerahkan  Liontin yang di milikinya.

Film bergenre Suspense ini  di bintangi oleh Defwinta Zuhara    (Sofie ), Vicky Joe (Awang), Devi Sukistyowati (Lastri),Tien Kadaryono (Bi Atun)  Ferdian Ariyadi    (Satria), Dolly Martin (Subrata),Lela Anggraini (Nyi Gandasari), Erwin ST Bagindo (Raden Sasmita, Ertha Shahab (Bertha), Sofie Syahab ( Nyi Kerincing Wesi )  serta sederetan bintang muda lainnya seperti Nadia Edra ( Fitri), Arian Koerniawan (Nanda), Anisa Dewi (Iis),  Rizkiansyah ( Beni ), TB. Zaelani ( Juki ), Zilman ( Al ) Sheren Stepa (Dewi).

“Film ini sudah dapat jadwal tayang dari XXI, Insha Allah akan beredar pada Januari atau Februari 2020,” kata Firman tentang karyanya tersebut.

Sofie, Dendam Dalam Dosa” adalah salah satu karya yang masuk dalam proyeksi kerjanya pada tahun 2019 – 2020 ini. Di tahun 2020 ada dua judul film yang akan dikerjakan, masing-masing berjudul “Intaro”, sebuah drama berdasarkan kisah nyata seorang tokoh penggerak ekonomi di Bali, dan satu lagi sebuah drama komedi berjudul “Guru Kami Yang Cantik”, yang mengisahkan tentang kisah seorang gadis desa cantik yang berprofesi sebagai guru, meskipun ibunya menginginkan dia menjadi bintang film karena kecantikannya.

“Dua judul itu akan diproduksi oleh PT Sandi International Picture kemudian saya juga akan bekerjasama dengan PT Amro Sinema Perkasa untuk memproduksi film-film layar lebar. Insha Allah sudah ada investor yang menyiapkan dana, tinggal mengatur jadwal produksinya saja. Mungkin saya juga akan merekrut teman-teman sineas lain untuk bekerja sama,” kata Firman.

Selain merancang produksi beberapa judul film layar lebar, saat ini Firman Nurjaya bersama Parfi yang dipimpin oleh aktor Soultan Saladin juga sedang mempersiapkan ajang Parfi Award, bekerja sama dengan beberapa jurnalis film.

Parfi Award adalah ajang pemberian penghargaan untuk aktor / aktris, sutradara dan film terbaik Indonesia. Kegiatan ini rencananya akan berlangsung di Bali pada 10 Maret 2020.

Meskipun banyak proyek dan kegiatan perfilman yang sedang dikerjakan, Firman Nurjaya tak ingin gembar-gembor. Baginya memberikan bukti jauh lebih penting daripada mengumbar janji-janji atau omongan kosong.

“Kita membuktikan dengan hasilnya ajalah. Apakah itu nanti bermanfaat buat orang banyak dan memberikan hasil yang menggembirakan bagi kita, biar Tuhan aja yang menentukan. Saya percaya kalau kita bekerja dengan sungguh-sungguh, Allah tak akan memberikan berkahnya buat kita,” kata suami dari artis Devi Sukistyowati ini.

Firman Nurjaya terjun ke film sejak tahun awal tahun 80-an. Hampir semua bidang perfilman dilakoninya, mulai menjadi pemain, unit produksi, pimpinan produksi, disain produksi film, asisten sutradara, sutradara hingga produser film.

Ia pernah terlibat dalam pembuatan beberapa judul film dan sinetron. Antara lain pada tahun 2000-an sinetron “Raja Jalanan”, “Kabayan Main Ludruk”, kemudian menjadi manajer produksi film layar lebar “Ada Sorga di Rumahku” (2013) karya sutradara Aditya Gumay.

“Jadi hampir semua bidang di film sudah saya geluti. Jadi kalau bicara soal film, Insha Allah saya cukup paham. Apalagi ketika masih aktif di Parfi tahun 80 sampai 90-an, banyak workshop saya ikuti, karena Parfi waktu itu memang memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk menambah ilmu dan wawasan,” kata penerima penghargaan “Prima Karya” dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya Marzuki Usman tahun 1999 ini.

Meskipun belakangan lebih banyak bekerja di belakang layar dalam dunia perfilman, Firman Nurjaya mengaku sangat mencintai Parfi, organisasi artis yang diakui sangat berjasa dalam perjalanan kariernya. Ia mengaku prihatin dengan nasib Parfi saat ini yang terpecah-pecah dan dipermainkan oleh segelintir oknum.

“Ya sedih aja. Biar bagaimana pun Parfi sangat berjasa bagi karier saya, dan saya pernah berada di dalamnya. Itulah sebabnya saya menggagas Parfi Award, biar nama Parfi tetap dikenal oleh masyarakat secara positif. Bukan karena ribut-ributnya,” kata ayah lima orang anak — 3 laki-laki dan 2 perempuan — ini.

Share This: