“FLIGHT 555”, Kisah Lucu Dalam Pembajakan Pesawat

Mathias Mucus (kanan) dan para pemain "Flight 555" di lokasi syuting di Bandar Cengkareng. (Foto: Ist).
_

 

PILOT Julius Sitanggang berusaha tetap bersikap tenang. Co-pilot Awwe tegang. Tiga pramugari jelita; Mikha Tambayong, Gisella Anastasia, dan Meriza Febriani, menahan ketakutannya. Betapa tidak, pesawat Komodo Air mereka tengah diancam pembajak. Celakanya bukan hanya satu pembajak, melainkan tiga kelompok pembajak dengan tujuan berbeda!

Di antara empat ratusan penumpang pesawat Airbus tersebut terlihat pasangan kakek-nenek gaul Jaja Miharja-Ingrid Widjanarko, anggota DPR palsu Mathias Muchus, si gembrot Mo Sidik, cowok bule Hans De Kraker, dan si cilik lincah Neona.

Itulah yang terlihat saat sejumlah wartawan diundang untuk meliput jalannya syuting film FLIGHT 555 produksi ketiga PT Citra Visual Sinema yang dipimpin duo produser Duke Rachmat-Niken Septikasari dan disutradarai Raymond Handaya, di Hanggar Satu Garuda, Bandara Soekarno-Hatta, pada Selasa, 16 Mei 2017 lalu.

Pesawat Airbus Lion Air yang disewa khusus untuk kepentingan syuting film komedi ini disulap menjadi Komodo Air (tentu saja nama fiktip). “Syuting di dalam pesawat ini diperkirakan berlangsung sampai dua minggu lamanya,” jelas sineas muda yang angkat nama lewat film Operation Wedding dan terakhir menggarap Cahaya Cinta Pesantren (kebetulan keduanya diperan-utamai oleh Yuki Kato).

Mantan penyanyi cilik Julius Sitanggang yang didapuk memerani pilot, menambahkan, “Sebenarnya saya harus menerbangkan Flight 555 dari Jakarta ke Bali, namun ada pembajak yang memaksa untuk mendaratkannya ke Papua, sedangkan pembajak kedua minta ke Lombok, sudah begitu pembajak lainnya menuntut uang tebusan lima miliar. Jadi apakah saya berhasil mendaratkan pesawat ke bandara Ngurah Rai? Inilah pertanyaan yang baru terjawab pada klimaks film!”

Skenario yang ditulis oleh Isman HS lantas disempurnakan oleh Raymond Handaya memang membutuhkan banyak sekali pemain yang sebagian besar adalah komika. Selain nama-nama yang sudah tercantum di atas masih ada lagi: Tarra Budiman, Samuel Zylgwyn, Rian d’Masiv, Ajun Perwira, Beddu, Arief Didu, Abdur Rasyad, Anyun Cadel, Raim Laode, Yudha Keling, Coki Pardede, Muslim, Arafah Rianti, Marsya Doeni, dan adiknya, Frilly Doeni.

FLIGHT 555 yang akan beredar di bioskop-bioskop pada akhir tahun 2017 ini merupakan film tentang pembajakan pesawat kedua yang dibuat di Indonesia. Sebelumnya pada tahun 1981 yang terhalang karena keberatan dari partai Islam dan MUI.

Rencana pembuatan film tentang Operasi Woyla mengemuka selang sebulan setelah peristiwa itu terjadi. Sejumlah produser film kala itu menyatakan minat untuk memfilmkan kisah sukses operasi militer di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, itu.

Dari drama pembajakan Woyla, mereka berambisi melahirkan film seperti Raid on Entebbe, diangkat dari kisah komando Israel membebaskan pesawat El Al yang dibajak ke Entebbe, Uganda, April 1976. Film yang disutradarai Irvin Kershner dan dibintangi aktor Charles Bronson itu berdurasi lebih dari dua jam.

Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, pemerintah mengambil alih rencana tersebut. Menteri Penerangan Ali Moertopo menerbitkan surat keputusan pada 24 April yang menunjuk Dewan Film Nasional (DFN) sebagai penanggung jawab pelaksana produksi film itu. Untuk pelaksanaannya, DFN ditugasi membentuk tim gabungan produser Indonesia dengan luar negeri.

Keputusan Menteri Ali itu sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden Soeharto pada sidang kabinet terbatas bidang ekonomi dan industri pada 1 April 1981. Presiden memberikan petunjuk agar peristiwa pembajakan pesawat DC-9 Garuda Woyla dijadikan film yang bermutu dan berbobot.

Tapi, dalam perjalanannya kemudian, sejumlah politikus dari kalangan Islam dan Majelis Ulama Indonesia mempersoalkan rencana tersebut. Mereka khawatir materi film itu akan dijadikan propaganda yang memojokkan Islam. Bahkan jadi bahan propaganda menjelang pemilu sehingga hanya menguntungkan Golongan Karya.

Atas kekhawatiran itu, Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film Sumadi bersama Ketua DFN Asrul Sani kepada pers menjamin bahwa pembuatan film tidak akan digunakan untuk kepentingan politik. Menurut Asrul, film itu akan menonjolkan sikap pemerintah yang antiterorisme. Juga untuk menunjukkan bahwa ABRI, sesudah konsolidasi, punya cukup kemampuan melindungi warga negaranya.

“Tidak ada suatu target politik dan film itu bukan merupakan propaganda,” ujar Asrul menegaskan.

Meski demikian, Husni Thamrin dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan tetap tidak sepakat. Bagi dia, lebih mendesak jika pemerintah membuat film mengenai transmigrasi.

 

 

 

Share This: