Forum Silaturahim Keraton Nusantara Prihatin Dengan Radikalisme

Foto: Ihsan Expose
_

Ketua Forum Silaturahim Keraton Nusantara (FKSN) Sultan Sepuh XIV bernama Pangeran Radja Adipati Arief Natadiningrat mengatakan, FKSN  akan tetap menjaga persatuan dan kesatuan, serta demokrasi pancasila.  Dia mempersilahkan orang mau bicara apapun tapi lakukan dengan beradab, dan tidak merusak.

Foto: Dudut Suhendra Putra

“Kita prihatin dengan adanya radikalisme ini. Dan kraton sekarang ini sedang mengangkat kearifan-kearifan lokal. Secara global secara umum bagiamana budaya tepok seliro, gotong royong, solidaritas ada di kraton semuanya. Sehingga pada waktu itu usaia kerajaan-kerajaan itu usianya panjang,” kata Sultan Arief ketika diwawancarai saat menghadiri penutupan Pekan Budaya Nusantara di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (12/10/2019).

Sultan Arief menjelaskan, FKSN merupakan salah satu organisasi kraton yang dua tahun terakhir ini cukup, maju, dekat dengan pemerintah, dan selallu didatangai presiden.

“Sudah pastilah kalau ada yang iri. Saya juga kurang tahu tetapi yang jelas kita merangkul semjua Keraton Nusantara,” kata Sultan Arief.

Terkait minimnya perhatian pemerintah terhadap kehidupan keraton, Sultan Arief mengakui dalam beberapa tahun ini anggaran kebudayaan sangat rendah.  Anggaran kebudayaan APBN  saat ini juga terendah. Namun dia berharap pemerintahan berikut di bawah Presiden Jokowi  akan ada dana abadi bagi kebudayaan akan meningkatkan kebudayaan.

Menurut Sultan Arief, keraton-keraton yang ada di Indonesia saat ini masih hidup. Tradisi yang ada di kraton-kraton berjalan, dan tidak bertentangan dengan agama yang dianut oleh masyarakat setempat. Seperti  di Bali yang mayoritas beragama Hindu, adat dan tradisi Hindu berjalan di kerajaan. Di lingkungan keraton yang masyarakatnya beragama Islam, tradisi-tradisi Islam seperti Muharam dan Maulid berjalan;  di NTT banyak Katolik ikut mempengaruhi adat dan budaya.

Keraton juga peduli dengan situasi bangsa kekinian, antara lain dengan mengevaluasi bagaimana demokrasi dan politik saat ini.

Revitalisasi Keraton

Dr. Anna Mariana, SH, MBA

Ketua Dewan Pakar FKSN Anna Mariana mengatakan, keraton merupakan penjaga warisan Budaya Nuasantara yang masih eksis sampai saat ini. Namun sayangnya banyak keraton di Nusantara yang sudah kurang mendapat perhatian baik dari pemerintah, masyarakat maupun ahli warisnya sendiri.

Kesulitan biaya merupakan persoalan utama yang dihadapi oleh banyak keraton-keraton kecil yang tidak memiliki asset besar, sehingga untuk biaya perawatan asset saja mengalami kesulitan.

Hilangnya asset budaya yang dimiliki keraton karena kurangnya kemampuan untuk menjaga atau merawat, tentu akan merugikan bangsa Indonesia sendiri, karena kehilangan hartanya yang sangat berharga, di samping tergerusnya nilai-nilai sejarah yang dimiliki.

Oleh karena itulah Forum Silaturahim Keraton Nusantara (FSKN) meminta pemerintah untuk segera melakukan revitalisasi keraton-keraton yang ada di Nusantara.

“Kami berharap dapat dukungan dari pemerintah dalam program revitalisasi kraton. Seperti  kita ketahui banyak keraton-keraton yang sudah tua, rusak dan bahkan sudah punah. Itu semua perlu direvitalisasi dengan bantuan pemerintah. Karena banyak juga keraton-keraton kecil yang kesulitan biaya untuk mengatasi semua itu,” kata Anna Mariana.

Menurut disainer yang teguh memasyarakatkan kain tenun dan songket itu, menjaga kelestarian keraton adalah bagian dari menjaga budaya bangsa. Dan budaya itu diharapkan

ditularkan kepada masyarakat secara luas, terutama bagi generasi muda agar mau mengenal dan menjaga budayanya sendiri.

Anna tidak menampik ada beberapa organisasi keraton Nusantara, tetapi sampai saat ini

FKSN menurutnya masih eksis dan anggotannya semakin banyak. Raja-raja yang dulu belum bergabung sekarang semakin banyak.

“Ada yang membentuk organisasi lain sejenis sah aja, yang penting harus tetap menjaga silaturahmi, tetap dalam kenhinekaan karena raja-raja ini menjadi panutan di daerah. Jangan sampai saling mengadu domba, memecah belah karena raja-raja ini punya andil, punya masyarakat dan kekayaan budaya yang dimiliki keraton masing-masing. Kraton yang sudah punya kita bangun kembali supaya dikenal bukan saja di dalam negeri tapi juga di luar negeri,” katanya.

“Kita juga mendukung Pak Jokowi yang menggulirkan program revitalisasi kraton. Kalau raja-raja bersatu pemerintah juga mendukungnya tidak setengah-setengah. Kalau kedengaran ribut-ribut, pemerintah juga pusing, mau dukung yang mana?” tambahnya.

 

 

Share This: