Garin Nugroho: Membuat Film Seperti Menanam Benih

Garin Nugroho (Foto: HW)
_

Pencinta film mengenal Garin Nugroho sebagai sineas yang memiliki karya-karya khas: artistik dan sulit dinikmati oleh penonton awam. Oleh karena itu kebanyak film Garin memang tidak komersil, atau kurang disukai penonton. Bahkan sebuah film yang dibuat lebih ngepop seperti Ach Aku Jatuh Cinta yang dibintangi oleh Velove Vexia dan Chico Jerikho pun tidak berhasil di pasaran.

Namun Garin punya alasan sendiri tentang filmnya. Menurut sutradara kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961 ini, membuat film seperti menanam pohon di tempat berbeda. Ada pohon yang buahnya hanya dinikmati oleh sedikit orang, dan ada pohon untuk konsumsi orang banyak.

“Oleh karena itu dalam film ini yang paling penting adalah memberikan inspirasi tentang hal itu dngan komunikasi. Tetang pemasaran itu tanggungjawab dari agen film itu sendiri,” kata Garin usai pemutaran film terbarunya, Moon Cake Story yang diproduksi oleh Multivision Plus dan Tahir Foundation di Plaza Indonesia Jakarta, Senin (13/2).

Hadir dalam pemutaran film tersebut pemilik Tahir Foundation, Dato Sri Prof. DR Tahir, MBA, pendukung film tersebut artis Bunga Citra Lestari, Morgan Oey dan Dominique Diyose.

Garin memamaparkan, setiap film yang dibuatnya memiliki “warna” yang berbeda, tergantung tujuan dari pembuatan film itu. Film Setan Jawa yang dibuat tahun lalu misalnya, disponsori oleh Orchestrea Melbourne dan Melbourne Art Center. Penontonnya 3000 orang per hari, dan itu dia tidak akan rugi karena itu tujuannya, ada penontonnya.

Kemudian film Opera Jawa (2006) dibuat untuk perayaan ulang tahun Mozart ke 250 tahun di Wina. “Yang paling penting, kata mereka, film itu diputar selama dua hari pembukaan pada ulang tahun Mozart yang didatangi seniman-seniman dunia. Sangat jelas,” kata Garin.

Film lainnya, Mata Tertutup, merupakan film antiradikalisme yang akan diedarkan disekolah-sekolah dan sekarang sudah diedarkan lebih dari 250 sekolah ya di seluruh Indonesia.

“Dan banyak sekali film saya yang diedarkan di sekolah, dan bioskop itu nomor sekian. Itu diskusi kita dengan Pak Syafiie Maarif,” ungkap Garin.

Menurutnya ketika ingin membuat film ia akan mendengar dulu keinginan si pemilik modal, untuk mengetahui apakah tujuannya dengan pemilik modal sama. Lalu ia akan membuat filmya selama cocok dengan tujuan bersama itu.

Tentang film barunya, Moon Cake Story, sudah disampaikan kepada Dato Sri Tahir, bahwa tujuannya adalah jelas, tentang cinta. Tetapi bukan cinta romantis, melainkan cinta pada kemanusiaan.

“Makanya dalam film ini anda akan menemukan perasaan-perasaan kemanusiaan menyentuh. Misalnya orang yang kehilangan keindahan dan harus menemukan keindahan tentang apa yang dicita-citakan ibunya lewat doa, justru menemukan tokoh perempuan yang hidup di daerah kumuh. Itu mengingatkan akan ibunya bahwa dia berdoa suatu saat bisa mempunya meja untuk belajar dan untuk makan bersama, untuk pendidikan dan kesejahteraan,” papar Garin.

Karena kerap berganti-ganti “warna” dalam setiap filmnya, menurut Garin ada penulis kritik Inggris terkenal yang mengatakan karyanya selalu berubah dari film ke film lain. Dan itu jarang dilakukan oleh kebanyakan sutradara.

“Bagi saya film seperti bibit tanaman saja. Kalau bibit tanaman satu dengan yang lain itu berbeda. Jadimemang agak bunglonlah saya. Maksud saya begitu berbicara dengan partner saya, saya ingin memahami betul tujuan-tujuan saya. Dan ketika kita memiliki bibit tanaman yang sama, pasti akan saya rawat sebaik-baiknya,” kata sutradara yang banyak meraih penghargaan dari berbagai festival film di luar ngeri ini.

“Memang melompat dari satu jenis karya ke karya yang lain menegangkan. Seperti mendaki gunung. Ada orang mendaki gunung suka satu trek saja, saya tidak, karena tidak melihat pemandangan yang lain kalau dari trek yang sama,” tambahnya.***

 

 

 

Share This: