Genting Highland, Tempat Wisata yang Dingin Tapi Panas

_

Genting Highland Resort, Malaysia, adalah lokasi perjudian terbesar di Asia Tenggara yang letaknya di puncak gunung Pegunungan Titiwangsa di perbatasan antara Pahang dan Selangor, dua negara bagian yang berada di tengah-tengah Malaysia.

Hotel First World yang memiliki 6.000 kamar lebih. Di sinilah kasino Genting terletak. (Foto: HW)

Nama Genting Highland sudah terkenal ke mancanegara, termasuk bagi kalangan penjudi dari Indonesia. Para penjudi yang tidak bisa menyalurkan hobinya di Indonesia – karena judi dilarang di Indonesia – banyak yang menyalurkan hobinya sekaligus cari peruntungan ke tempat ini. Namun harus diingat, seperti kata pomeo, tidak ada pemenang dalam judi. Yang menang adalah setan.

Lepas dari imejnya yang jelek sebagai tempat judi, Genting adalah tempat yang indah. Udaranya sejuk, bisa mencapai 17 derajat Celsius bila malam hari. Jadi yang datang ke Genting tidak melulu untuk berjudi, melainkan ada pula yang berwisata. Banyak yang membawa keluarga ke Genting. Jadi tidak semua orang yang datang untuk berjudi. Jangan heran kalau menemui wanita-wanita berjilbab di Genting.

Terdorong rasa penasaran, balaikita mencoba datang ke Genting disela-sela agenda kegiatan di Kuala Lumpur Malaysia. Tidak sulit untuk datang ke Genting. Dari hotel yang saya tempati di Jl. Tun Sambanthan, tinggal jalan laki ke mal NU Semtral, yang jaraknya sekitar 50 meter.
Di bawah Nu Sentral itu terdapat stasiun kereta api antarkota, MRT, LRT, monorel dan buskota ke berbagai jurusan, termasuk ke Genting. Dari NU Sentral ke Genting yang berjarak sekitar 40 km, harga tiket bus RM 4,30 atau setara dengan Rp.13.000.

Bersama seorang teman, balaikita pertama kali berangkat dengan bus pukul 06.00 sore. Perjalanan ke Genting ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam. Setelah ke luar dari tol, jalan mulai menanjak dan berliku-liku. Awalnya jalan memiliki 4 jalur, masing-masing 2 jalur untuk naik, dan 2 jalur turun. Aspalnya mulus dengan rambu-rambu jelas. Makin ke atas jalan mengecil hingga 3 jalur, 2 jalur untuk kendaraan menuju Genting, dan satu jalur untuk turun.

Perjalanan melewati hutan-hutan yang masih terawat baik. Tidak ada bangunan apapun. Baru ketika memasuki kampung Janda Baik, terlihat rumah-rumah, dan setelah itu kembali melewati hutan-hutan.

Memasuki kawasan Goh Tong, mulai terlihat bangunan-bangunan modern, ruko-ruko, termasuk hotel-hotel pencakar langit. Tempat itu tidak terlalu ramai, kecuali oleh wisatawan. Tidak lama kemudian masuk ke pos pemeriksaan. Tidak lama, mobil kembali bergerak.
Nama Goh Tong diambil dari nama pendiri kasino Genting, Lim Goh Tong. Tidak jauh sebelum masuk terminal terdapat makam Lim Goh Tong yang mendapat gelar Dato Tan Sri Lim Goh Tong, lelaki dari Anxi, China yang menjadi orang terkaya di Malaysia.

Perjalanan menuju Genting melewati pegunungan dan hutan-hutan melalui jalan yang mulus. (Foto: HW)

Bus yang kami tumpangi masuk ke terminal khusus bus di Genting. Ada beberapa bus dari berbagai kota di Malaysia, termasuk dari Bandara Sepang, bahkan dari Thailand dan Singapura.

Turun dari bus kami berpindah menuju stasiun gondola yang akan membawa penumpang ke puncak, tempat hotel-hotel dan kasino berada. Harga tiket gondola RM8 atau setara Rp24 ribu. Gondola berwarna merah hati yang bisa muat 10 orang dewasa itu akan membawa sampai ke tempat tujuan akhir, hotel First World yang memiliki 6000 kamar lebih. Di tempat ini pulalah terdapat kasino Genting.

Perjalanan dengan gondola ditempuh dalam waktu 10 menit hingga ke puncak. Dari gondola pemandangan terlihat indah. Hutan tropis, hotel-hotel dan bangunan lain, serta jalan mulus yang berkelok-kelok.

Matahari sudah hampir tenggelam ketika kami berada di atas gondola, sehingga foto yang dibuat berwarna kebiru-biruan. Magic hour. Lampu-lampu hotel mulai menyala. Akhirnya kami sampai di tempat pemberhentian terakhir.

Wisatawan yang meninggalkan genting siap-siap naik bus ke tempat tujuannya, di terminal bus Genting. (Foto: HW)

Oleh teman yang sudah lama menetap di Genting, ditawari untuk membuat kartu anggota Genting Club. Bila memiliki kartu itu, sudah bisa main di kasino, dan fasilitas hotel gratis bila ada kamar kosong. Mau santai-santai di karaoke sambil menikmati minuman juga gratis.

“Tinggal berikan paspor untuk dicatat data-datanya,” kata Deyan, teman yang sudah lama tinggal di Genting.

Mengikuti anjuranya balaikita ikut antri di tempat pendaftaran yang dilayani 3 orang anak muda yang bejas rapi. Antrian cukup panjang, karena selain pendaftar baru ada pula yang ingin memperpanjang kartu anggotanya.

Tiba giliran, balaikita menyerahkan paspor. Anak muda yang melayani mencatat di komputer, menanyakan nonor telepon, lalu memotret wajah. Dalam sepuluh menit kartu selesai. Sang petugas mengatakan, kartu itu sudah bisa digunakan dan memiliki deposit RM 20, yang harus digunakan malam itu juga.

“Selamat memiliki kartu neraka,” kata Deyan teman yang mengantar sambil tertawa.

Dari sana balaikita mencari kamar hotel, dengan memasukan kartu anggota ke mesin. Setelah dicoba beberapa kali ternyata gagal. Semua kamar penuh. Malam itu suasana di genting memang sangat ramai. Banyak orangtua yang mengajak anak-anak kecil untuk berlibur di Genting.

“Tapi kalau Abang mau hotel yang tarifnya lima ribu ringgit per malam, ada. Sayang duitnya, tidur di kamar saya aja,” kata Deyan.

Akhirnya saya dan Ketua Parfi sepakat numpang tidur di kamar Aan. Sebuah kamar ukuran 2,5 X 4 meter dengan dua tempat tidur kecil. Kamar itu tanpa AC. Tapi di Genting semua kamar hotel tidak memakai AC karena suhu cukup dingin.

Sebelum tidur, kami pergi ke kasino dulu. Pertama pergi ke kasino baru yang bentuknya bulat. Semua mesin dikumpulkan dalam satu ruangan. Tata letak ruangan kasino ini mirip dengan kasino di The Venetian, Macau yang pernah di masuki balaikita.

Hampir semua mesin ada pemainnya. Tua muda, termasuk para lansia, Umumnya orang-orang Cina. Di Genting, pribumi Malaysia beragama Islam dilarang masuk. Kalau ketahuan bisa ditangkap.

Di meja yang memerlukan pelayan, ditunggui oleh pegawai-pegawai muda, lelaki dan perempuan. Mereka dengan sigap melayani pemain yang menggunakan kartu, atau menukar uang dengan koin.

Dengan modal RM 20 yang ada di kartu anggota, balaikita mencoba main rolet. Sebenarnya Deyan yang lebih aktif, karena dia yang paham bermain di kasino. Setelah beberapa lama, deposit sebesar RM20 itu berkembang menjadi RM120.

“Udah kita berhenti. Kalau kita nafsu, uang kita dimakan lagi,” kata Deyan.

Main di Genting, kepala memang harus tetap dingin, tidak boleh panas. Kalau hati panas, dan kepala panas, alamat bisa ke laut. Duit sekapal tanker pun bisa habis. Menurutnya sudah tak terhitung jumlah orang kaya yang bangkrut di Genting.

Dari kasino baru kami berjalan ke kasino lama. Cukup jauh meski berada di bawah satu atap. Setelah 3 kali naik eskalator sampailah kami di sebuah ruangan penuh mesin. Ada beberapa ruangan besar.

“Ini yang namanya Genting. Ini kasino lama,” kata Deyan.

Di tempat ini kami menoba bermain jackpot. Tidak lama. Setelah itu kami kembali ke kamar untuk tidur. Sebelum ke kamar, kami mampir di rumah makan Babajia, untuk menikmati bubur dan laksa yang lezat.
Malam itu kami tidur bertiga dalam satu kamar. Suhu sangat dingin. Semua jendela ditutup rapat untuk mengurangi rasa dingin. Jam menunjukkan pukul 02.00 dinihari waktu setempat.

Pukul 08.30 waktu setempat, kami bangun. Genting tertutup kabut putih. Tidak terlihat sedikitpun bangunan di luar jendela. Bahkan ketika kami mulai naik gondola menuju terminal bus, semua terlihat putih oleh kabut.

Dua hari kemudian kami datang lagi ke Genting. Segalanya sudah lebih lancar.

Share This: