GKR Hemas: Agenda Bidang Legislasi Masih Menunggu

GKR Hemas (kiri) menyalami perwakilan Perempuan Parlemen dari berbagai daerah, usai pembukaan Konas III KPP di Senayan, Kamis (16/11/2017) - Foto: HW
_

Agenda perjuangan di bidang legislasi masih menunggu untuk diselesaikan. Seperti tentang kesetaraan jender, perlindungan pekerja rumahtangga, penghapusan kekerasan seksual dan sebagainya. Oleh karena itu, capaian keterwakilan perempuan dalam Pemilu 2019 sangat menentukan bagi perjuangan penuntasan berbagai draf UU tersebut.

Ketua Kaukus Perempuan Parlemen Indonesia, GKR Hemas menyampaikan hal itu, dalam pembukaan Konsolidasi Nasional Kaukus Perempuan Parlemen (Konas KPP) III di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (16/11/2017) pagi.

“Saya optimis dalam Konas III ini akan menjadi sarana sebagai untuk merefleksikan kinerja sekaligus merumuskan agenda bersama serta implementasinya,” kata GKR Hemas.

Ammy Amalia Fatma Yahya (Foto: HW)

Menurut GKR Hemas, agenda perjuangan di bidang legislasi masih menunggu untuk diselesaikan. Seperti tentang kesetaraan jender, perlindungan pekerja rumahtangga, penghapusan kekerasan seksual dan sebagainya.

Capaian keterwakilan dalam Pemilu 2019, menurutnya sangat menentukan bagi perjuangan penuntasan berbagai draf UU tersebut.

“Mengenai keadilan dan kesetaraan jender sudah diratifikasi menjadi aturan hukum di Indonesia. Perempuan Parlemen harus merumuskan rencana aksi peluang masa depannya di tengah berbagai kendala yang menghadang,” tambah GKR Hemas.

Mengiringi konsolidasi nasional ini, lanjutnya, para perempuan parlemen akan saling bertukar gagasan bersama para narasumber yang berkompeten di bidangnya dalam seminar, diskusi kelompok, job paralel dalam berbagai isyu strategis dalam menuju pemilu legislatif 2019.

Peran Ketua MPR
Ketua Panitia Pengarah Konas III KPP, Ammy Amalia Fatma Surya, SH, M.Kn menjelaskan, suksesnya acara pembukaan Konas III KPP ini karena telah memfasilitasi dan didukung penuh oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Ammy juga mengayakan, peremouan merupakan komponen yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu peningkatan peran dan kualitas perempuan sangat penting dan layak diperkuangkan.

Perjuangan perempuan, menurutnya, sudah diawali pada awal abad ke-20 oleh RA Kartini. Saat itu perjuangannya agar perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki untuk mendapat pendidikan.

“Sekarang karena perjuangan Kartini, karena potensi dan kualitasnya, banyak perempuan yang mendapat tempat strategis baik di parlemen maupun pemerintahan. Namun demikian perempuan masih dianggap kaum yang termarjinalkan. Oleh karena itu perjuangan belum selesai,” katanya.

Angka kesenjangan sosial saat ini menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi bangsa Indonesia. Oleh karena itu hal ini menjadi hal penting untuk diagendakan.
“Politik adalah salah satu wadah perjuangan. Untuk itulah Kaukus Perempuan Parlemen dibentuk,” tambah Ammy.

Share This: