GKR Hemas Minta Dukungan Kaukus Perempuan Untuk Perbaiki DPD RI

_

Anggota DPD RI asal Yogyakarta, GKR Hemas meminta dukungan kepada Kaukus Perempuan, untuk maju menjadi pimpinan DPD RI mendatang. Dengan dukungan perempuan ia yakin dirinya bisa dipilih.

“Kalau kita punya jaringan, kita bisa dipilih. Karena itu saya mohon dukungan. Banyak yang mau saya perbaiki di DPD, karena banyak undang-undang dan aturan yang diubah. Setelah itu, sudahlah,” kata GKR Hemas dalam diskusi dengan tema “Keterwakilan Perempuan Diposisi Pimpinan Di Lembaga Legislatif” di Komplek Parlemen Jakarta, Kamis (29/8/2019) sore. 

Diskusi yang diadakan oleh Kaukus Parlemen Perempuan bekerjasama dengan Cakra Wikara Indonesia (CWI) itu juga menghadirkan narasumber lain yakni Anggota Komisi II DPR RI Nihayatul Wafiroh, Anggota Komisi VIII DPR RI Diah Pitaloka dan Ahli Hukum Tatanegara Bivitri Susanti.

Karena kuatnya dukungan perempuan, menurut GKR Hemas, pada periode 2009 – 2004 ia maju untuk menjadi pimpinan DPD. Ia mendapat suara terbanyak. Tetapi ada tekanan dari pihak tertentu, ia serahkan jabatan pimpinan kepada Irman Gusman.

Menurut Hemas, dirinya sangat mencintai DPD, karena ingin menjadikan marwah DPD sebagai lembaga terhormat, yang bisa memperjuangkan daerah. 

Dirinya pernah diminta untuk menjadi pimpinan MPR, didukung oleh beberapa partai politik, antara lain Golkar dan PDIP, tetapi dia menolak karena tetap ingin berada di DPD.

“Saya tidak ingin jabatan, tapi ingin menjaga DPD. Walau pun DPD tidak seimbang dengan DPR, tetapi harus bisa menperjuangkan daerah,” ungkapnya.

Namun kemudian, katanya, terjadj tragedi di DPD. Ia mengistilahkan kepala DPD dipotong dulu kemudian badannya diobrak abrik, karena ada yang mau jadi ketua.

Tekanan terbaru yang dialaminya adalah pembatalan undangan menghadiri Sidang Bersama DPR – DPD RI tanggal 16 Agustus 2016 lalu. Menurutnya 3 hari sebelum acara dia menerima undangan. Tetapi pada hari H, pukul 02.00 undangan dibatalkan oleh Sekjen DPD RI dan pukul 04.00 dibatalkan oleh Sekjen MPR.

“Waktu itu Kaukus Perempuan mengatakan akan mengawal dan bikin ribut. Tapi karena ada presiden saya minta jangan. Saya enggak datang gak apa-apa, tapi kalau saya datang ada yang apa-apa,” ujarnya.

Ahli Hukum Tatanegara Bivitri Susanti mengatakan, banyak keuntungan yang dimiliki oleh pimpinan di lembaga apapun, khususnya di parlemen. Menurutnya Ketua bisa mengatur persidangan; menentukan siapa yang akan diundang; dan pimpinan juga memiliki posisi strategis dalam menentukan arah kebijakan.

Nihayatul Wafiroh mengungkapkan, banyak anggota Dewan perempuan yang suka lupa kalau mereka juga sebenarnya perempuan. “Anehnya yang mempertanyakan kuota 30 persen untuk perempuan di partai politik, justru anggota perempuan sendiri,” kata politikus Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Sedangakan Diah Pitaloka memaparkan beratnya pertarungan dalam membahas RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di Badan Legislatif saat ini.

“Masa kerja kita kan tinggal satu bulan lagi. Untungnya pembahasan bisa diteruskan oleh anggota parlemen mendatang,” katanya.

 

Share This: