Harry Dagoe Akan Produksi Dua Film Horor dan Satu Animasi Untuk Anak

_

Harry Dagoe Produksi 3 Film Sekaligus.

Iklim produksi perfilman saat ini tengah membaik. Gairah orang untuk membuat film sangat tinggi. Harry Dagoe Suharyadi, sutradara berbakat yang beberapa bulan lalu membuat sebuah film bergenre thriller psikologi berjudul “Keira”, mengumumkan akan memproduksi 3 film sekaligus. Salah satunya bekerja sama dengan pihak Malaysia.

Harry mengumumkan rencana produksinya itu di sebuah kafe di Epicentrum Walk Jakarta, Rabu (6/11/2019), yang dihadiri oleh pemain, eksekutif produser dan musikus terkenal Vicky Sianipar yang akan menjadi penata musik dalam film produksi Harry Dagoe. Sedangkan dari pemain nampak aktor senior Soultan Saladin dan penain muda Ashira Zamita.

Ketiga film yang akan diproduksi masing-masing berjudul “Qasidah Barjanji” yang akan dibuat dalam bentuk animasi, dan dua buah film bergenre horor, masing-masing berjudul “Nimas Selendang Merah” dan “Nginep”.

Yang menarik, untuk produksi filmnya ini Harry Dagoe banyak melibatkan anak-anak remaja yang tergolong bukan bintang terkenal di dunia perfilman Indonesia. Tetapi Harry yakin, dengan formula dan konsep yang dibuatnya, sosok bintang bukan faktor terpenting dalam film, sehingga akhirnya penonton bisa menerima.

“Membuat film kan tidak ada profesornya. Artinya kalau membuat film dengan formula-formula yang diperhitungkan, kalau belum waktunya tidak perform juga. Ketika saya membuat Cinta Setaman tahun 2008 saya tidak kenal anak-anak baru, saya hanya kenal bintang-bintang top. Tetapi nama-nama terkenal itu saya coret, dan ternyata mereka bermain exited,” kata Harry.

Tentang “Qasidah Barjanji” yang akan dibuat dalam bentuk animasi, Harry yakin kemampuan seniman-seniman animasi dan teknologi di Indonesia sudah mampu mengerjakamnya. Film animasi sangat diperlukan sebagai sebuah tontonan sehat bagi anak-anak.

Film “Nimas Selendang Merah” menurutnya akan menjadi sebuah film bergenre horor dengan warna Indonesia, tepatnya mengikuti aliran yang dibuat oleh raja film horor Indonesia, Sisworo Gautama.

“Untuk film itu saya dan pihak Malaysia masih terus berunding, bagaimana wajah kedua negara akan tampil secara seimbang. Kita berusaha win win solutionlah. Cuma saya tekankan, untuk tone film kita tidak mengikuti begitu saja Hollywood sistem yang sekarang banyak diikuti orang. Saya kepingin warna horor Indonesia seperti yang dibuat oleh Sisworo Gautama,” kata Harry.

Aktor senior Soultan Saladin berharap gairah membuat film yang saat ini sedang tinggi, bisa diapresiasi oleh pihak bioskop dengan memberikan layar dan masa tayang yang cukup bagi sebuah film.

“Sekarang ini kan bioskop mau tahu dulu film apa yang akan dibuat, baru nanti akan dikasih layar sesuka mereka. Harusnya kan tidak begitu. Di Malaysia setiap film mendapat kesempatan untuk main di bioskop selama 10 hari. Kita harusnya juga begitu,” kata Soultan. “Insha Allah kalau Parfi kami sudah berdiri nanti, kami juga akan berjuang di situ,” tambahnya.

Share This: