Hazrina Akhirnya Terbebas Dari Gangguan Penglihatan Akibat Peradangan Syaraf Mata

_

Seorang wanita bernama Hazrina Syahdan

Foto-foto: Doc. Pribadi

mengalami Papilitis Optic Neuritis (gangguan penglihatan akibat peradangan pada saraf mata / saraf optik).

Menurut penuturannya melalui video call pada Kamis (9/4/2020) malam, pertama kali sakit ia kelas 5 SD mau naik ke kelas 6 pads tahun 2005.

Awalnya, malam sebelum sekolah demam tinggi cuma paginya sudah turun panasnya jadi ia memutuskan tetap sekolah.

“Di sekolah ada pelajaran komputer. Saat itu saya mulai ngerasa aneh. Saya lihat monitor komputer jadi abu-abu. Padahal harusnya putih. Saya sempet bertanya sama teman tapi teman saya bilang warnanya putih,” tuturnya.

Setelah makan siang disekolah, ada shalat dzuhur berjamaah, ketika itu dua merasa kepalanya sakit sekali. Ketika ruku dan sujud matanya seperti ingin keluar, sakit sekali.

Sorenya sepulang sekolah ia cerita ke orang tuanya kalau mengalami sakit yang luar biasa itu. Bola mata seperti mau keluar, tetapi orangtuanya melihat matanya normal.

“Saya diberi obat pusing dan demam waktu itu dan istirahat. Besoknya saya tetap sekolah seperti biasa, tapi sakitnya makin luar biasa sampai saya izin minta pulang sama guru disekolah karna rasanya sudah benar-benar sakit,” katanya.

Sampai dirumah ia bilang kepada orang tuanya kalau penglihatannya makin aneh. Sudah bukan abu-abu lagi tapi benar-benar menuju silver seperti ada asap atau kabut.

“Saya sudah susah melihat. Saya lupa waktu itu mata kanan atau kiri saya yang sakit tapi satu mata ini susah melihat beda dengan yang satu lagi masih normal melihatnya. Saya berjalan harus dituntun dan pelan-pelan agar tidak ada gunjangan karna sakit sekali kalo terguncang,” tutur Haruna.

Siang itu dia dibawa ke klinik mata dan diperiksa dokter, namun dokter tersebut menyarankan untuk CT Scan dirumah sakit rujukan dokter tersebut karna beliau praktek disana. Sore hari itu juga sesuai janji dengan dokter tersebut dia dibawa untuk CT Scan.

Setelah hasil CT Scan keluar sebenarnya tidak ada apa apa dikepalanya, namun dokter tersebut memaksa agar dia di opname dan segera tindakan pembedahan.

Orang tuanya kaget saat itu dan meminta penjelasan yang lebih terkait hal tersebut namun dokternya hanya memaksa agar saya di opname. Orangtuanya membawanya pulang karna merasa ada yang tidak benar dengan si dokter.

Hari ketiga saya sakit, orang tuanya mencari rumah sakit dan dokter yang dapat membantu saya. Lalu diputuskan ke RS mata AINI. Pagi itu dia diperiksa dan bertemu dokter. Dia disarankan untuk bertemu dengan dr. Tanzil.

“sorenya saya bertemu beliau saya ceritakan apa yang saya alami dan dokter langsung menyuruh untuk foto mata. Hasil foto mata keluar dan terlihat seperti saraf mata saya bengkak dan berdarah,” kata Haruna.

Hari itu juga dokter memutuskan untuk rawat inap karna jika tidak akan jadi buta permanen. Penyakit ini disebut “papilitis optic neuritis” adalah gangguan penglihatan akibat peradangan pada saraf mata (saraf optik)._

Ia menjalani rawat inap selama 5 hari karna harus suntik setiap pagi, suntik ini untuk membangunkan saraf saraf yang tidur dan mengobati saraf yang bengkak dan berdarah.

Setelah 5 hari saya diharuskan pulang walaupun belum sembuh total, penglihatan saya belom sepenuhnya pulih. Namun, rangkaian pengobatan memang hanya sampai di hari ke-5 saja selebihnya sama bedrest dirumah selama 2 minggu dan minum obat yang diresepkan dokter.

Papilitis optic neuritis ini kambuh hingga 5 kali, hampir setiap tahun kambuh. Kambuh terakhir kali dokter meminta saya untuk MRI ingin lihat sebenarnya ada apa dan hasilnya bagus semuanya.

Setelah hasil MRI keluar, dr. Tanzil yang menangani saya menyerah merawat saya sudah bingung katanya karna saya sering sekali kambuh. Padahal dosis obat suntik sudah di naikan yang sebelumnya saat saya kambuh ke 2 dan ke 3 kali hanya 1 kali sehari suntik dipagi hari namun saat saya kambuh ke 4 dan ke 5 ini dosis ditinggikan dan saya suntik per 10 jam sekali selama 5 hari rawat inap._

Dengan berat hati dr. Tanzil menyuruh saya untuk dirawat di rumah dan tidak perlu datang lagi ke RS mata AINI karena dokter benar-benar sudah tidak tahu harus menangani saya dengan cara apa lagi. 

“Akhirnya saya dibawa pulang dan dirawat dirumah dalam kondisi mata saya masih buram dan sakit,”

Keesokan hari, Hazrina dibawa ke RSPP untuk bertemu dengan dokter ahli saraf dengan membawa hasil MRI sebelumnya. Dokter langsung menyarankan saya untuk cek darah keseluruhan dan setelah hasil tes keluar toxoplasma IGg saya sebesar 1600 sekian saya lupa persisnya berapa dan dokter tsb menyarankan orang tua saya untuk membawa saya ke RSPI bertemu dengan dr. Soehendro spesialis penyakit dalam tropis.

Sorenya dia dibawa ke RSPI untuk menemui dr. Soehendro dengan membawa hasil lab. Seteleh bertemu saya diberi obat isoprinosine dan dokter menyarankan untuk kembali setiap 1 bulan sekali dan rutin mengkonsumsi obat tersebut.

Setelah hampir 1 tahun saya bulak balik ke RSPI dengan meminum obat yang sama dan cek darah setiap bulannya toxo IGg saya mulai turun perlahan tapi dokter menyarakan untuk meminum obat tsb seumur hidup saya.

Keluarganya tidak putus ikhtiar agar dia sehat dan benar benar pulih. Sampai akhirnya Allah SWT memberikan jalan lewat acara televise, dimana Ir. H. Juanda sedang membicarakan TORCH dan herbal.

“Saya ingat betul, saya langsung dibawa ke bandung pagi itu karna ada seminarnya pak Juanda, sampai disana saya bertemu bapak dan menjelaskan apa yang saya alami. Alhamdulillah saya konsumsi herbal ini sejak saya SMP kelas 3 tahun 2009 akhir kalau tidak salah saya sudah tidak minum obat resep dari dr. Soehendro karna ingin ikhtiar dengan herbal ini.”

Setelah menjalani pengobatan herbal Pak Juanda ini, Hazrina bisa melihat lagi dan nggak kambuh penyakitnya. Yang paling seneng akhirnya bisa makan makanan yang dilarang sama dokter selama proses pengobatan dan bisa olahraga sekarang karena sebelumnya dokter melarang untuk olahraga karena tidak boleh ada guncangan di mata.

“Saat saya kuliah ditahun pertama (2013) saya sempat terkena rubella karna imunitas saya sedang lemah dan saat itu sempat sudah tidak konsumsi herbal beberapa bulan, alhamdulillah saya konsumsi kembali herbal pak Juanda sampai saat ini umur saya sudah 24 tahun (2020), saya konsumsi herbal ini dan sehat tidak pernah kambuh papilitis optic neuritis saya alhamdulillah saya bisa melihat kembali,” tutur Hazrina.

Ir. H. A. Juanda merupakan pakar pengobatan herbal yang telah berpengalaman selama 20 tahun. Dia berhasil membuat formula obat herbal untuk mengatasi Toxoplasmosis, Rubella, CMV, dan Herves (TORCH) yang menjadi penyebab pasutri (pasangan suami istri) susah mempunyai anak.

Adanya wabah pandemik Coronavirus (Covid-19), pihak Aquatreat therapy Indonesia mengikut anjuran pemerintah _#WorkFromHome_ dan _#DirumahAja_ tak menggelar seminar tentang TORCH.

Namun demikian, demi tak terputus kontak dengan pasien dan calon pasien, Juanda mengungkapkan, menempuh cara live streaming melalui Facebook dan IG setiap hari Sabtu jam 10.00 WIB.

“Pilihan ini dilakukan supaya pasien dan calon pasien tetap bisa berkomunikasi tentang TORCH,” ujarnya yang pernah mendapat penghargaan The Asean Most Dedicated Award, tahun 2002 ini.

Share This: