Hidup Pedagang Koran Semakin Berat

Pedagang koran tertidur di bangku trotoar di depan Sarinah, Sabtu (4/2) sore. (Foto: HW)
_

Hari terasa berat bagi Idris (40 tahun, bukan nama sebenarnya). Sejak pagi hanya beberapa eksemplar koran dagangannya yang laku. Idris  berulangkali menguap. Ia mencoba bertahan melawan kantuk yang semakin berat. Akhirnya ia kalah. Tak tahan melawan ngantuk, ia duduk di kursi panjang yang ada di trotoar di depan Pusat Perbelanjaan Sarinah, Jl. Thamrin Jakarta. Dengan tumpukan koran (suratkabar) yang masih dalam genggamannya, ia memejamkan mata. Sebelah kakinya diangkat di atas besi kursi panjang trotoar, yang sudah ada sejak jaman Jokowi masih menjadi Gubernur DKI.

Idris tidak sendirian melewati hari yang berat itu. Sofyan (53), pedagang koran yang bisa mangkal di depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan setiap sore, harus sabar menunggu orang yang mau membali korannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.15, tapi koran di tangannya masih banyak.

“Kalau enggak laku yang dibawa pulang. Paling nanti dikiloin,” kata Sofyan, yang mengaku membeli koran secara borongan dari pengecer lain yang mau pulang karena hari sudah sore.

“Sebetulnya hasilnya lumayan. Satu koran bisa untung seribu perak atau lebih,” kata Sofyan. “Tapi itu kalau laku, kalau enggak laku ya resikonya ditanggung sendiri,” kata lelaki berkulit legam itu sambil tersenyum.

Sofyan mengaku sudah berjualan sejak jaman krisis moneter tahun 99, setelah terjadi kerusuhan. Awalnya dia bekerja di sebuah percetakan “security printing”, yang mencetak lembaran cek atau giro bilyet. Di tempat itu juga ia menemukan jodoh, walau kemudian sang isteri harus berhenti bekerja karena tidak boleh suami isteri bekerja di tempat yang sama.

Ketika krisis moneter melanda, ia di PHK. Untuk menyambung hidup, apalagi isterinya sudah melahirkan anak, ia berjualan koran sampai saat ini.

Sofyan, pengecer koran di luar Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. (Foto: HW)

Setiap pagi, pukul 04.00 ia bangun, dan berjalan dari rumahnya di kawasan Cipinang Muara, Jakarta Timur, menuju stasiun Tebet. Biasanya ia mampir dulu di Masjid Attahiriyah untuk shalat Subuh, lalu mengambil koran di agen yang ada di bawah flyover Tebet. Di situ dia mengambil 100 eksemplar beberapa suratkabar.

Dari Tebet dia naik kereta ke Depok, dan mengambil 100 eksemplar lagi koran lain di agen yang ada di dekat stasiun Depok. Dari situ dia berjalan kaki menjajakan korannya di kampung-kampung yang ada di Kecamatan Pancoran Mas, Perumnas Depok I dan Kampung Lio. Sore harinya kembali lagi ke Tebet, dan mangkal di luar stasiun, tempat penumpang commuter line lalu lalang.

Tetapi jika hujan datang, seperti saat ini di musim hujan, ia terpaksa memasukan dagangannya ke dalam plastik besar, dengan risiko korannya tidak terjual karena calon pembeli tidak tahu.

Pernah ia mencoba berteduh di dalam stasiun Tebet sambil memegang korannya, tetapi ditegur oleh petugas, dan diminta tidak berjualan di situ.

“Katanya saya kelihatan di tivi (maksudnya CCTV). Jadi tidak boleh masuk ke area stasiun, kecuali koran yang saya bawa dimasukin plastik. Pernah sekali diijinin, tapi enggak boleh menghadap ke dalam stasiun, harus menghadap jalanan, ya enggak laku, karena orang yang ke luar dari stasiun enggak lihat saya pegang koran,” kata Sofyan.

Jualan di sekitar stasiun Tebet biasanya dilakukan hingga pukul 21.00. Setelah itu ia harus kembali ke rumah. Itu pun berjalan kaki dulu dari stasiun Tebet ke terminal Kampung Melayu untuk mengirit ongkos, baru setelah itu naik mikrolet tujuan Pulogadung, yang lewat Cipinang Muara.

Berdagang koran dijalani sejak anaknya masih kecil, hingga kini sudah tamat sekolah. “Yang pertama tamatan STM, kerja di bengkel. Yang kedua tamat SMK, tapi nganggur. Isteri juga sejak berhenti kerja dulu tidak kerja lagi,” tutur Sofyan.

Tidak banyak yang dibawanya pulang untuk diberikan kepada isterinya setiap hari. “Cukup enggak cukup limapuluh ribu perak. Habis dari mana lagi tambahnya. Kalau uang bulanan dari langganan paling buat bayar kontrak rumah,” kata Sofyan, yang sejak menikah selalu mengontrak rumah.

Uang Rp.50 ribu itu pun kadang harus mengambil dari uang setoran koran. Kalau sudah begitu ia terpaksa ngutang dengan agen yang memberinya koran setiap hari. “Hari ini min dua puluh ribu. Habis kalau enggak begitu enggak bawa pulang duit,” katanya.

Mengandalkan hidup dengan berjualan koran, menurutnya semakin hari semakin berat. Pembeli koran makin sedikit, karena orang beralih ke gadget untuk mendapatkan informasi. Yang membeli koran kepada Sofyan, menurutnya, kebanyakan orang-orang tua para pekerja kasar yang mau pulang. Ketika Balaikita berbicara dengannya, beberapa pembeli kebanyakan orang-orang yang diperkirakan berusia 50 tahun ke atas.

“Kalau hari Sabtu ada juga anak muda yang beli, tapi mereka biasanya mau lihat iklan lowongan kerja. Kan di Kompas ada banyak iklan lowongannya tuh kalau hari Sabtu,” tutur Sofyan. “Pernah juga ada yang beli koran sampe 10 eksemplar, tapi katanya buat tutup meja,” Sofyan menambahkan.

Baginya, siapa pun yang datang membeli, tidak jadi soal. Sofyan tetap menunggu pelanggannya hingga malam, walau harga koran sebagian sudah turun menjadi Rp.1000 per eksemplar.

Sofyan, dan pedagang koran lainnya, mungkin hanya tinggal menunggu waktu sampai kapan dia bisa mengais rejeki dari dangannya. Sebab mata dagangan yang telah memberinya rejeki selama sekian tahun, satu persatu rontok karena tiras suratkabar terus menurun, sejak kebiasaan membaca menusia beralih dari media cetak ke media online. Melihat orang membaca koran, apalagi di kendaraan umum, sekarang merupakan peristiwa langka. Dan Sofyan hidup di tengah kebiasaan yang semakin langka itu.

Di Indonesia, para penerbit yang tergabung dalam SPS menyadari bahwa bisnis media cetak semakin berat. Jangankan di Indonesia, di negara-negara maju yang budaya membacanya sangat tinggi, satu persatu suratkabar rontok. Alasan utama dari runtuhnya media cetak di negara-negara Barat adalah karena berkembangnya media baru internet.

Sudah banyak agen atau pedagang eceran suratkabar yang beralih pekerjaan. Entah menjual dagangan yang lain, menjadi pengemudi ojek online atau bekerja serabutan. Sayangnya di usianya yang semaki tua, Sofyan belum menemukan pekerjaan apa yang cocok dengannya.

“Saya ikutin ajalah jalannya, sampai di mana,” katanya, pasrah.

 

Share This: