Hidup Wartawan Tidak Susah, Kok!

_

Dalam sebuah forum diskusi yang diadakan oleh sebuah kelompok wartawan, seorang pakar komunikasi yang menjadi pembicara mengatakan, media massa sudah memasuki senjakala.

Media cetak berguguran karena kalah bersaing dengan media online. Bahkan dalam 10 tahun ke depan, televisi sudah habis penontonnya, karena orang tidak punya waktu lagi nongkrong berlama-lama melihat program televisi yang membosankan.

Dia menyarankan agar anak-anak muda yang bercita-cita menjadi jurnalis, segera putar haluan, mengubah cita-citanya. Jurnalis bukan pekerjaan menjanjikan di masa depan. Yang sekarang masih menjadi jurnalis — apalagi berpikir idealis — lebih baik berpikir realistis, mencari pekerjaan yang lebih jelas atau mulailah berwiraswasta.

Apa yang dikatakannya benar juga. Baru-baru ini Tabloid Bola yang sangat berjaya di tahun 80 – 90an baru saja tutup, menyusul media-media cetak yang punya nama pada masanya.

Beberapa rekan wartawan memberitahukan baru saja mengalami pemutusan kerja karena media tempatnya bekerja juga tutup. Pesangon yang menjadi haknya masih diperjuangkan karena pemilik buang badan.

Sementara itu tidak sedikit wartawan yang diajak mengikuti program pengetatan ikat pinggang di kantornya, dengan cara menerima pemotongan gaji atau penundaan gajian. (Semoga mereka tidak berubah jadi monster pembunuh warung atau menjadi buronan debt collector).

Menghadapi masa depan yang berkabut, tidak sedikit wartawan yang ‘move on”. Maksudnya berpindah dari profesi yang keren itu masuk ke dalam dunia nyata (nyata punya kesibukan, nyata dapat penghasilan).

Saya bertemu beberapa teman yang kini menekuni bisnis di luar pers. Ada yang membuka biro perjalanan dan menjual tiket online; membuka warung kecil-kecilan (sesuai anjuran Mochtar Lubis); membuka kos-kosan bagi yang punya tanah luas; biro wisata; wedding photography; pemilik rumah makan; artis manajemen; produser rekaman; punya lapak duren; kedai kopi, jual rendang dan manisan, dan lain sebagainya.

Beberapa yang yang sudah berhasil mengaku masih mencintai dunia pers. Walau ada pula yang skeptis dan sinis.

Suatu ketika, saat sedang kumpul-kumpul sambil membicarakan nasib, ada saja wartawan senior yang menasihati agar jangan membiarkan anaknya bercita-cita jadi wartawan.

Yang lain malah lebih ekstrim lagi, walau bercanda, “Daripada anak dikawinin sama wartawan, mending dikasih macan, matinya sekaligus!”

Beralihlah para jurnalis ke jenis pekerjaan yang lebih ‘jale’ itu karena mereka merasa dunia pers sudah tidak lagi memberi harapan. Media cetak yang bisa dijual kepada pembaca — walau tidak punya iklan — sudah ditinggalkan pembacanya.

Banyak pemilik media massa cetak menutup bisnis persnya daripada terus-menerus menanggung kerugian. Bagaimana nasib karyawan dan wartawannya setelah itu, ya tergantung individu masing-masing.

Seorang pemilik usaha pers yang mulai mendekatkan diri kepada Tuhan, menjawab diplomatis sambil mengutip ayat Alkitab Matius 6:26, ketika ditanya soal itu.

“Pandanglah burung-burung di langit yang tidak bekerja dan menuai, dan tidak mengumpulkan bekal di lumbung, tapi diberi makan oleh Bapamu di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”

Ketika wartawan yang di-PHK mau berargumen, dikeluarkan lagi ayat dalam Alkitab. Kali ini dari Matius 6:34.

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Ayat-ayat Alkitab itu mampu meluluhkan sang jurnalis. Celakanya ketika ia pulang, anaknya yang baru masuk SMP bersikap seperti debt collector, menyodorkan angka-angka dengan embel-embel huruf K di belakangnya.

“Beli pakaian pramuka 350K, study tur ke Yogya 1500K, nanti disuruh nyumbang buat guru yang lagi sakit, 25K! Abis bulan harus dibayar yah!” kata si anak.

Jika sudah menghadapi soal-soal seperti itu, memang sudah ketemu kesimpulannya, dunia pers sudah tidak bisa lagi dijadikan sandaran hidup.

Tetapi bila melihat kenyataan di lapangan berbeda. Makin banyak orang yang berkecimpung sebagai wartawan. Di bidang hiburan saja, jumlah peliputnya seperti butir-butir pasir di laut.

Jika tahun 90-an, di masa media cetak masih berjaya, wartawan film tidak lebih dari 40 orang. Itu termasuk wartawan yang bekerja untuk media-media daerah. Saat ini setiap pemutaran film untuk wartawan, bioskop penuh. Sehingga waktu makan prasmanan yang disediakan oleh produser di kafe, semua harus antri, lalu makanan pun disendokin oleh pegawai kafe (mirip narapidana sedang “nyadong’ makanan di penjara).

Yang tidak mau antri karena merasa malu atau direndahkan, memilih mencari makan sendiri di tempat lain, dengan merogoh saku tentunya.

Di era digital ini, ternyata jumlah wartawan memang meningkat drastis. Organisasi-organisasi wartawan kebanjiran anggota. PWI punya belasan ribu anggota, organisasi wartawan lain yang lahir setelah reformasi tak kalah banyak. Kini ada beberapa organisasi media online yang masing-masing memiliki anggota ribuan.

Sejak reformasi membuat media makin mudah, apalagi media online. Tidak diperlikan ijin, modal besar dan infrastruktur yang memadai. Seseorang bisa dengan mudah memiliki media online, dan langsung berposisi sebagai pemegang saham, reporter, redaktur dan pemimpin redaksi sekaligus.

Apakah bisa menulis atau tidak, memahami teknik penulisan, kaidah jurnalistik atau kode etik jurnalistik, itu persoalan-persoalan yang tidak penting untuk dipikirkan atau dipraktekan.

Banyak juga yang merasa tidak perlu Uji Kompetensi atau verifikasi keabsahan media yang diadakan oleh Dewan Pers, sesuai UU Pokok Pers. Sebab tanpa itu pun wartawan masih bekerja. Apalagi Uji Kompetensi juga tidak memberi nilai tambah yang signifikan bagi profesi.

Walau kata orang dunia pers sudah memasuki senjakala, profesi sebagai jurnalis tidak menjanjikan, kenyataannya profesi ini dipenuhi oleh pendatang baru.

Hidup wartawan juga tidak susah-susah amat. Kita masih bisa melihat banyak jurnalis yang terbang ke berbagai pelosok negeri, bahkan ke luar negeri.

Dari postingan-postingan mereka di media sosial seperti instagram dan facebook mengesankan betapa nikmatnya jadi wartawan. Bisa melihat-lihat tempat di berbagai belahan dunia, yang mungkin tidak pernah dialami oleh masyarakat kebanyakan, apalagi di tengah kehidupan yang semakin berat saat ini.

Para wartawan itu telah menjadi duta yang baik. Pesannya jelas: jadi wartawan itu nikmat! Bisa jalan-jalan ke luar negeri, menginap di hotel mewah, makan enak, dan bisa bertemu dengan orang-orang penting.

Jadi, jangan takut jadi wartawan. Lihatlah burung-burung di langit, yang tidak menanam dan menuai, tidak menyiapkan makanan di lumbung, tetapi tetap diberi makan oleh Sang Pencipta.

Apalagi wartawan yang dibekali pendidikan dan ketrampilan, serta belajar memahami 5 W + 1 H (What, Who, Why, When, Where + How2).

 

 

 

 

 

 

Share This: