Host “Kacamata Petualang” Chaesa Ramadhanis: Suka Travelling Sejak Sekolah.

Chaesa Ramadhanis, di samping fotonya yang dipamerakan di Galeri Antara, Jakarta, Jum'at (17/2) malam. Foto: dudut suhendra putra
_

 

Tidak ada pekerjaan yang lebih menyenangkan selain bekerja di ladang yang sesuai dengan hobi kita sendiri. Nampaknya host program televisi Kacamata Petualang Chaesa Ramadhanis sudah menemukan pekerjaan itu.

Kacamata Petualang ditayangkan di Global TV, sebuah program travelling anti mainstream, petualangan ke tempat-tempat yang tidak biasa. Chaesa terpilih memandu acara itu selain mengikuti audisi, juga karena direkomendasikan kru televisi yang telah mengenalnya sebagai traveller.

Ditemui ketika melihat pameran foto Kilas Balik 2016 di galeri Kantor Berita Antara Jakarta, Jum’at (17/2) malam, Chaes menuturkan tentang hobi dan pekerjaan yang ditelutinya sekarang.

“Aku udah mulai travelling sejak SMA kelas dua. Waktu itu lebih independen sih, siapa aja yang mau ikut diajak. Kalau buat aku dari travelling lebih menghargai hidup, karena kita mendapat pelajaran yang di kota besar belum kita dapat,” kata alumnus SMA Boedi Oetomo tahun 2012 ini.

Selesai kuliah ia masuk Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Teknik Sipil Jurusan Transportasi Air. Meski pun teleh lulus kuliah, Chaesa tidak buru-buru kerja, karena ia mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kesenangannya travelling, yaitu menjadi host acara Kacamata Petualang.

“Aku memang enggak kepingin buru-buru berada di belakang meja sih. Masih asyik mengikuti jiwa petualangku,” kata gadis tinggi semampai ini.

Ketika SMA dulu ia sudah mendatangani berbagai tempat di Indonesia. Di antaranya ke Labengki di Sulawesi, Sumba di NTT, Medan, Labuan Bajo, Sambori dan berbagai tempat lainnya. Sebagai anak perempuan satu-satunya di dalam keluarga, tentu saja tidak begitu saja ia mendapatkan ijin bepergian, karena orangtuanya kadang khawatir dengan keselamatan Chaesa.

“Demi travelling, terpaksa bohong-bohong kecilah. Tapi sekarang setelah di acara ini orangtua lebih tenang, walau pun mereka bilang hati-hatilah kalau di tempat baru, minta ijin, numpang-numpang, assalamualaikum, ya gitu-gitulah,” kata kelahiran 4 Maret 1995 ini.

Selama berpetualang, baik ketika masih sekolah maupun setelah menjadi pemandu di acara televisi, begitu banyak pengalaman menarik yang dialaminya. Yang tak terlupakan adalah ketika dia bersama teman-temannya ke Karimun Jawa.

Ketika hendak pulang dari Karimun Jawa menuju Jepara, ombak sedang besar. Syahbandat tidak mengijinkan kapal berlayar. Karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda esoknya, bersama teman-temannya Chaesa nekad bernegosiasi dengan nelayan setempat untuk minta diantar ke Jepara. Akhirnya dengan perahu nelayan mereka berlayar. Malam itu mereka diombang-ambingkan ombak, dan baru pukul 08.00 pagi sampai di Jepara.

“Waktu itu perasaan campur aduk. Antara takut dan nekad. Perasaan kepingin nelepon ke Mama, tapi takut dimarahin. Tapi akhirnya selamat,” tutur Chaesa seraya menambahan,”Itu merupakan keputusan yang patut disesali, tapi tepat.”

Saat ini usia program yang dipandunya sudah lewat setahun lebih. Dia menikmati perjalanan ke tempat-tempat baru, petualangan-petulangan ekstrim bersama tim televisi yang membuat acara itu. Pengalaman paling menarik dalam memandu acara itu adalah ketika ia menelusuri trek Curug Sidoardjo di Jawa Tengah. Dia harus turun dari ketinggian 75 meter dengan medan yang licin. Sungguh pengalaman tak terlupakan.

“Kalau budayanya, aku Sumba. Karena di sana kerajaannya masih berlaku, ada Raja, ada Sumba. Suku Kajang di Sulawesi Selatan juga oke,” ujarnya.

Sebagai pemancu acara petualangan, Chaesa tentu harus menjaga fisiknya. Untuk itu seminggu dua kali ia mengikuti olahraga wall climbing di Taman Rasuna Jakarta. “Dan juga lari — lari dari kenyataan,” katanya sambil tertawa. “Maksudnya jogging lho!”

Chaesa tidak tahu sampai kapan akan tetap berpetualang, karena dengan berpetualang ia makin mencintai negerinya, Indonesia, mengenal budaya-budaya masyarakatnya.

“Pokoknya Indonesia top banget. Kalau kita cityscape Eropa, Asia, lebih juara. Kalau eksotis Indonesia juara,” katanya, yakin.

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: