IBOS Penting Buat Produser Film!

Hanung Bramantyo (Foto: HW)
_

Wacana penerapan Integrated Box Office System (IBOS) di bioskop-bioskop Indonesia, mulai mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Banyak yang setuju, tetapi ada pula yang menolak.

Sutradara dan produser film Hanung Bramantyo mengatakan IBOS diperlukan bagi produser maupun sineas, karena data penonton yang dikeluarkan oleh IBOS bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah yang akan dilakukan dalam memproduksi film.

“IBOS  itu penting buat produser, apalagi buat orang-orang seperti saya!” kata Hanung ketika ditemui usai pemutaran trailer film Kartini di Jakarta Theater, Selasa (21/3) sore.

Menurut Hanung, dirinya bisa mengetahui data penonton film Avenger dari IBOS. Ternyata film yang digembar-gemborkan bisa 7 juta penonton dapat penonton 3,9 juta. Selisihnya hanya 200 ribu penonton dibandingkan dengan Ada Apa Dengan Cinta. Bahkan kalah besar bila dibandingkan dengan Habibie dan Ainun atau Laskar Pelangi yang dapat 4 juta penonton.

“Jadi kalau saya dapat data itu, misalnya Fast and Furious ternyata cuma 2 juta penonton, Skull of Island ternyata cuma 500 ribu penonton, sementara film London Love Story 600 ribu penonton, atau Surga Yang Tak Dirindukan 2, 1,6 juta penonton. Dengan data itu kita punya acauan harus membuat film seperti apa. Saya harus membuat film ya seperti Surga Yang Tak Dirindukan, supaya dapat 1,6 juta penonton, untuk di Indonesia. Tapi kalau kita mau melihat market luar, ya IBOSnya harus dijadikan acuan,” papar Hanung.

“IBOS itu penting untuk parameter, supaya bandingannya tidak film Indonesia dengan film Indonesia melulu. Kalau cuma dengan film Indonesia berarti saya harus membuat film seperti Warkop dong. Enggak bisa dong, parameternya kan harus film yang lebih tinggi,” tambah Hanung.

Menanggapi pendapat kalangan tertentu yang merasa penerapan IBOS akan menelanjangi perfilman Indonesia, Hanung tidak sependapat. Ia tetap yakin data penonton untuk semua film sangat penting.

“Misalnya begini, saya akan membuat film Kartini, terus raw model-nya siapa untuk bisa membuat film Kartini. Masa film Soegija, Tjokroaminoto yang dapat cuma 200 ribu penonton, Masa Sang Pencerah, film saya sendiri, kan tidak mungkin. Parameternya saya yah film Lincoln-lah, Hidden Figures walau cuma dapat 200 ribu penonton di Indonesia. Nah saya kan bisa ngomong sama produsernya, film sebagus Hidden Figures aja cuma dapat 200 ribu penonton, bagaimana kita bisa membuat film Kartini. Jadi itu bisa jadi parameter.”

“Saya justru merasa tidak tertelanjangai dengan itu, saya dapat informasi yang jelas. Jadi saya dapat jumlah penonton Avenger itu karena saya dapat bocoran.

Jadi saya ngeklik sendiri, dapat. Karena dalam Indonesian box office, data dari Indonesia tidak ada. Malaysia , Singapura ada. Jadi kita mereka-reka sendiri dong. Masa kita harus mereka-reka terus sih?” tandasnya.

Wacana penerapan IBOS di Indonesia kembali menghangat setelah Kepala Bekraf Traiawan Munaf, awal Maret 2017 lalu mengungkapkan pihaknya mendapat hibah dari Korea sebesar 5,5 juta dollar untuk penerapan IBOS di Indonesia.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Bioskop Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin tidak setuju IBOS diterapkan, karena itu melanggar UU kerahasiaan perusahaan, dan seperti menelanjangi perfilman Indonesia.

Ketua APROFI (Asosiasi Produser Film Indonesia) Fauzan Zidny bersikap sebaliknya dengan Djonny. Dia menyambut gembira diterapkannya IBOS di Indonesia.

“Menurut saya sih enggak begitu. Data yang minta juga enggak perlu detail atau apa. Yang penting ada datanya. Kok ada orang seperti Pak Djonny yang menyalahkan bioskop lain di forum Kemendikbud. Waktu Raker Kemendikbud di Yogya, Pak Djonny bilang wancana IBOS hanya akal-akalan CGV untuk melihat data bioskop lain, karena bioskopnya tidak laku!” kata Fauzan yang ditemui usai peluncuran film anti pembajakan di Jakarta, baru-baru ini.

Mengetahui data penonton film, menurut Fauzan sangat penting untuk melihat tren film yang disukai penonton. Jika orang mengatakan saat ini film science fiction sedang laku, harus ditunjukkan datanya, bukan hanya asumsi. Bagi Fauzan tidak masalah sistem atau teknologi apapun yang digunakan – tidak harus dari Korea – yang penting data itu ada.

Mengeluarkan data penonton menurutnya praktek yang umum di setiap negara. Bukan cuma data penonton, tetapi jumlah uang yang dihasilkan dari peredaran film. Itulah perlunya IBOS diterapkan di Indonesia.

Namun ia mengakui masih banyak kendala yang dihadapai terkait rencana itu, terutama karena belum adanya Peraturan Menteri (Permen) yang mengatur tentang pembukaan data penonton dari bioskop. Permen itu sampai sekarang tidak muncul. Alasan di Kementerian karena tidak semua produser mau data dibuka. Padahal sekarang untuk film Indonesia udah klir, semuanya ada. Asosiasi produser bahkan sebuah media online khusus perfilman selalu mendapat kiriman datang penonton dari eksibitor.

“Yang jadi masalah kan begini, kalau tahun kemarin 33 persen film Indonesia, datanya ada. Yang 70, film impor, tidak ada. Mungkin yang 70 persen tidak mau terbuka. Alasannya tidak mau saya tidak tahu. Satu-satunya Permen tidak disahkan menyangkut IBOS,” kata Fauzan.

Menanggapi munculnya wacana penerapan IBOS, Kepala Pusbang Film Maman Wijaya yang ditemui di sela-sela Rapat Paripurna BPI di Jakarta, 23 April 2013 lalu mengatakan, pemerintah belum menentukan system apa yang akan dipakai untuk mengumumkan data penonton film di Indonesia.

“Kewajiban Menteri adalah mengumumkan data penonton secara periodik. Tapi bagaiaman bentuk pengumuman itu, ada di dalam Permen. Kita tidak menentukan harus dengan IBOS atau system apa. Yang jelas sesuai ketentuan undang-undang, Menteri pasti akan mengumumkan,” kata Maman.

 

 

Share This: