Indiskop Diresmikan, XXI Juga Akan Masuk Bioskop Rakyat

_

Minat investor untuk menanamkan modalnya di bidang perbioskopan, terus menigkat setiap tahun. Tidak hanya kalangan investor besar yang membangun bioskop-bioskop mewah bekerja sama dengan modal asing, investor kelas menengah pun tergerak untuk menanamkan modalnya di sector ini.

Gubernur DKI Anies Baswedan, Senin (17/10/2019) meresmikan berdirinya bioskop rakyat yang diberinama Indiskop, di Pasar Teluk Gong, Jakarta Barat. Bioskop ini dibangun oleh PT Keana milik artis Marcella Zalianti bekerja sama dengan PT BMW, dan didukung oleh Perum Pasar Jaya dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). 

Peresmian berlangsung meriah, dihadiri oleh Kepala Bekraf Triawan Munaf, Ketua Kadin DKI, Ketua GPBSI Djonny Syafruddin, S.H., Ketua LSF Ahmad Yani Basuki, Direktur Operasional XXI Jimmy Haryanto, sutradara film Eros Djarot, aktris senior Widyawati, aktor Ray Sahetapy, beberapa produser film dan undangan lainnya.

Usai peresmian dilakukan pemutaran film “Ambu” yang dibintangi oleh Widyawati dan film “Tjoet Nya Dhien” karya Eros Djarot. Indiscop di Pasar Teluk Gong Jakarta Barat memiliki 2 layar dengan jumlah kursi 200-an.

Gubernur DKI Anies  Baswedan dalam sambutannya mengatakan berdirinya bioskop rakyat ini merupakan babak baru dalam perfilman di Indonesia. Nantinya Indiscop tidak hanya di Teluk Gong, tetapi juga di semua pasar rakyat di Jakarta.

Yang tidak kalah penting, menurutnya,  bagaimana masyarakat yang begitu bervariasi termasuk latar belakang sosial maupun ekonomi untuk mendapatkan kesempatan menyaksikan film, baik film Indonesia saat ini maupun akan datang.

“Kita tahu banyak masyarakat yang sudah mandiri dan menuju sedang mandiri. Bagi mereka yang menuju mandiri belum tentu menuju bioskop menjadi ranking prioritas karena ada kebutuhan yang lain. Tapi ketika harganya dilakukan penyesuaian maka dia masuk dalam ranking itu. Harapannya seluruh masyarakat Jakarta bisa mendapatkan kesempatan,” kata Anies.

Pembukaan bioskop rakyat, menurut Anies, sangat sejalan dengan apa yang ingin dilakukan di kota ini (Jakarta).

“Ada tiga ruang di kota kita, yakni di rumah, tempat kerja dan ruang ketiga di antara keduanya. Ketika kita membangun ruang ketiga kita membangun interaksi kepada masyarakat. Ruang ini harus memberi perasaan kesetaraan, mengayomi semua, masyarakat yang datang merasa kesetaraan,” katanya.

Kepala Bekraf Triawan Munaf mengatakan sangat gembira dengan diresmikannya Indiskop, karena akhirnya terwujud satu pilot projek yang sangat luar baisa. Jika proyek di Teluk Gong ini berhasil, tambahnya, akan berhasil juga di tempat lain. Ada 150 tempat serupa di Jakarta. Jika seratus saja dibangun bantuan investor, akan sangat fisibel buat usaha.

“Kantong-kantong film nasional ada di tempat seperti ini. Mungkin mereka (masyarkat bawah) tidak nonton film Joker. Bekraf akan mendukung sepenuhnya. Kita tidak tahu seperti apa tanggal 20 Oktober nanti.

Ketua GPBSI Djoni Syafruddin mengatakan lahirnya Indiskop merupakan suatu lompatan dalam teknologi modern. Meskipun disebut bioskop rakyat, menurutnya,  tetapi bukan seperti rakyat jaman dulu.

“Rakyat jaman ini adalah rakyat yang modern. Jadi menurut saya ini cukup representatif, mewakili masyarakat menengah ke bawah. Tetapi ini perlu ada subsidi. Kalau dia berdiri sendiri agak berat jalannya, karena 18 ribu ada 200 seat. Pemerintah harus membantu, seperti pengembalian pajak untuk film nasional,” kata Djonny.

Direktur Indiskop Jakarta, Marcella Zalianti memaparkan, peresmian bioskop miliknya adalah bagian dari sejarah perfilman Indonesia, di mana untuk pertama kalinya bioskop rakyat lahir di DKI Jakarta. Dia berharap proyek semacam ini bisa diteruskan di seluruh Nusantara.

“Bioskop terus bertambang. Layar kita sekarang sudah ada 1949 buah. Tetapi tidak semua bioskop mengakomodasi film Indonesia. Dari pertumbuhan bioskop sekarang tidak ada insfrastruktur pada tingkat kedua yang saya pikir sangat mungkin menjadi salah satu penyebab pembajakan masih masif. Karena masyarakat di tingkat dua masih belum bisa mengakses bioskop karena terlalu jauh dan sebagian dari mereka minder dan merasa mahal,” katanya.

Menurut Ketua Parfi 56 itu, Indiskop adalah bioskop rakyat yang diperuntukan bagi masyarakat ekonomi mengengah ke bawah. Ada keberpihakan bagi film nasional, serba merah putih, makanan yang dijual di tempat ini pun lebih merakyat. Dia menjamin tidak akan ada franchise kuliner internasional di bioskopnya.

Selain sebagai tempat masyarakat mencari hiburan, Indiskop juga akan dijadikan tempat pelatihan bagi masyarakat, untuk belajar film.

Grup XXI juga akan masuk.

Peluang bisnis bioskop rakyat ternya tidak hanya menarik minat pengusaha kecil dan menengah, raksasa perbioskopan Indonesia XXI juga tertarik untuk masuk. Menurut Direktur Operasional XXI Jimmy Haryanto, pihaknya juga akan mendirikan bioskop rakyat di Pasar Kenari Jakarta, dan ijinnya dari Pemda DKI sudah dikantongi.

“Kebetulan bioskop kita yang di TIM kan tutup. Asetnya akan kita pindahkan ke sana. Tentu  XXI akan punya standar sendiri,” kata Jimmy.

Share This: