Novel Baswedan Siap Dikonfrontir Dengan Miryam

_

Novel Baswedan,  salah satu penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membantah telah melakukan pengancaman saat memeriksa mantan Anggota Komisi II DPR, Miryam S Haryani dalam kasus dugaan korupsi KTP elektronik (e-KTP).

“Saya pastikan tidak ada ancaman. Yang mengancam siapa, nanti dijelaskan,” ujarnya di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (24/3/2017).

Dalam persidangan kasus e-KTP di Pengadilan Tipikor kemarin (23/3), Miryam mengatakan di depan Majelis Hakim, bahwa hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dirinya dalam kasus e-KTP,  semuanya salah.

Menurut Miryam keterangan yang diberikan kepada penyidik KPK semata-mata untuk menyenangkan penyidik, karena saat itu dirinya mengaku diancam saat pemeriksaan berlangsung. Miryam diperiksa oleh tiga penyidik KPK, yakni Novel Baswedan, Susanto dan Damanik.

Miryam juga membantah isi BAP yang menjelaskan secara rinci,  mengenai titipan amplop berisi uang kepada asisten rumah tangganya. Dalam BAP tertulis, Miryam lalu melaporkan penerimaan uang ke mantan Ketua Komisi II DPR RI Chairuman Harahap dan memerintahkan pembagian uang.

Majelis Hakim menilai  kesaksian Miryam pada saat persidangan Kamis kemarin (23/3) janggal, karena berbeda dengan yang tertulis di BAP.  Miryam juga mengaku tidak kenal dengan Andi Narogong.

Setelah mendengar  kesaksian Miriyam, Mejelis Hakim, Jaksa Penuntut dari KPK dan Kuasa Hukum terdakwa Irman dan Sugiharto sepakat untuk mengkonfrontir Miriyam  dengan ketiga penyidik KPK yang memeriksanya.

Terhadap keinginan Majelis Hakim, Jaksa KPK dan Kuasa Hukum terdakwa, Novel menyatakan siap jika dibutuhkan keterangannya.

“Bukan dikonfrontir. Itu penyidik menjelaskan di persidangan, nanti sesuai kebutuhan, kalau dibutuhkan gak masalah,” kata Novel.

Terhadap bantahan Miryam tersebut, Novel Basweda mengatakan kesaksikan palsu bisa dikenakan sanksi pidana. “Ketika dia berbohong, sanksinya pidana, jelas. Soal dia mengambil resiko itu, itu urusan dia,” ungkap Novel.

 

 

Share This: