Ismail Basbeth Tentang Karya Eksperimental dan Komersial

Ismail Basbeth (Foto: HW)
_

Berkarya tidak melulu untuk tujuan menghasilkan uang atau atas dukungan uang. Ada motivasi lain yang kerap mendorong seseorang untuk berkarya selain tujuan komersil, yakni kepuasan batin, menyampaikan gagasan atau pesan-pesan kepada masyarakat, yang kadang bernilai lebih dari sekedar uang.

Sutradara film asal Yogyakarta Ismail Basbeth, ingin menunjukkan bahwa dalam berkarya uang bukan segala-galanya. Melalui film terbarunya, “Mobil Bekas” dan “Kisah Kisah Dalam Putaran” bisa dikerjakan tanpa modal dasar yang besar. Umumnya di Indonesia setiap film dibuat dengan nilai antara Rp.700 juta – Rp10 milyar, tergantung lokasi dan set, kebutuhan artistik dan bintang-bintang yang dipakai.

“Kalau dinilai dengan uang, film aku terbaru Mobil Bekas menghabiskan dana sebesar delapan ratus juta rupiah,” kata Ismail dalam wawancara usai menghadiri acara peluncuran “Festival Film Kawal Harta Negara” di Pusat Perfilman H Usmar Ismail Kuningan, Jakarta, Selasa (14/3) kemarin.

Namun dijelaskan, jumlah Rp.800 juta itu bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan kompilasi berbagai jenis bantuan dari teman-temannya yang terlibat dalam film itu, baik secara langsung maupun tidak.

“Saya buka crowd funding dan semuanya bersifat non profit dari hulu ke hilir. Donasi ini bisa bersifat suporter, partisipan atau donatur. Kalau suporter itu dia menyumabangkan skill-nya, kalau donatur dia menyumbangkan uangnya, dan partisipan itu menyumbangkan fasilitas yang dia punya. Biasanya perusahaan,” papar Ismail.

Di film ini dia mendapat fasilitas dari Super 8 Milimiter Studio milik Andi Pulung, featsound meilik sahabatnya Kiki, didukung oleh Focus Equipment untuk teknologi dan sistemnya, Hide Project Film untuk menajemennya produksinya, dan Rini Picture untuk promosi media di dalam dan luar negeri.

Untuk berkarya, Ismail Basbeth memiliki dua lembaga. Yang pertama Hide Project Film, perusahaan film yang membuat karya-karya unik dan kreatif yang punya tujuan market berbasis market yang jelas, biasanya Indonesia dan internasional audience. Di perusahaan ini ia bergabung bersama Cornelio Sani, Suryowiyogo dan beberapa kawan lain.

Perusahaan kedua, diberinama Bosan Berisik Lab. Lembaga ini berfokus pada jejaring pengetahuan yang berekspektasi pada kemungkinan-kemungkinan lain dalam bentuk film. Di sini dia antara lain bergabung bersama Lelami Hermiasih atau Frau, dia pemain musik dan Charly Meliala.

“Karena kemudian kita bertemu banyak orang, kita putuskan Bosan Berisik Lab ini difokuskan pada lintas seni. Jadi ada irisan dari berbagai kesenian, bagaimana membuat sebuah karya yang eksperimentatif, kreatif dan seringkali eksperimensial,” kata sutradara kelahiran Wonosobo, 12 September 1985 ini.

Hide Project Film sudah membuat dua film pendek yang akan rilis tahun ini antara berjudul Happy Family sama Djoko. Sementara untuk film panjangnya bersama Bosan BerisikLab sudah memproduksi dua film yakni Another Trip to the Moon, dan yang kedua Mobil Bekas, baru selesai, mungkin tahun ini akan rilis.

“Nah dua film yagn saya kerjakan bersama Bosan Berisik Lab ini memang film yang personal sebagai seniman. Ini agak berbeda dengan Mencari Hilal atau

Talak Tiga di mana saya berkarir secara professional sebagai sutradara, bekerjasama dengan produser, mengelaborasikan persepektif visi keproduseran tanpa kehilangan visi kesutradaraannya,” papar Basbeth.

Selain di kedua perusahaan itu, Ismail Basbeth juga aktif menjalankan Jogja Netpac Film Festival bersama pembuat film lain di Yogya, antara lain sutrdara kawakan Garin Nugroho dan Isfa Isfansyah. Di situ Basbeth menjabat sebagai Direktur Program.

“Melalui festival film itu kami berupaya untuk memberikan tontonan film yang baik kepada masyarakat, baik film-film Indonesia maupun film Asia,” katanya.

Basbeth memulai kariernya lewat film-film pendek, antara lain berjudul Shelter, dan Ritual. Kedua film itu dibuat tahun 2011. Film-film Basbeth umumnya irit kata-kata.

“Fokus di style memang benar juga. Tapi begini, storytelling itu kan sesuatu yang kalau kamu pengin ngomong terus kamu omongin. Tapi aku kan enggak perlu ngomong kalau gambarku udah ngomong,” jelas Basbeth.

“Di film pendek, aku akan berusaha membuat orang enggak akan pernah lupa dengan filmku. Jika filmku berdurasi lima belas menit, aku akan buat lima belas menit itu lima belas menit terbaik yang pernah mereka tonton. Salah satu caranya, mainan visual,” tambahnya.

Basbeth sendiri tidak pernah belajar film di sekolah formal. Ia kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mempelajari pendidikan musik tradisional dan komunikasi. Soal film, prosesnya berkarya adalah sekolahnya — tempat ia menggali, mengeksplorasi, dan belajar tentang apa itu sinema.

Film-filmnya selain film pendek adalah Another Trip to The Moon (Menuju Rembulan) film yang dikemas dengan visual yang sengaja menggabungkan hikayat masa lalu dan budaya kontemporer. Sepanjang film kita akan bertemu dengan orang-orang yang tengah makan kelinci plastik, UFO yang mengangkut orang meninggal, serta adegan-adegan lain yang sarat dengan kejanggalan. Penonton dihadapkan pada film yang seolah-olah dibuat tanpa pola.

Menuju Rembulan adalah filmku yang berbasis perasaan. Saat aku ingin berbagi perasaan, aku tidak peduli ceritanya mau kayak gimana, ceritanya ta’ karang bebas. Yang bikin aku kok, kok aku diminta manut aturan. Saat aku bikin film yang berbasis perasaan, fokus saya ya di situ, perasaan, perasaan, dan perasaan,” jelas Basbeth.

Berbeda dengan Menuju Rembulan, film Basbeth berikutnya, Mencari Hilal merupakan sebuah film komersil, meski keteguhan sikap Basbeth sebagai sutradara terasa kental di situ. Ia bersama Hanung Bramantyo bekerja sama membuat film yang komunikatif tetapi juga memikirkan sisi estetika. lewat film Mencari Hilal, Basbeth juga dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik dalam ajang FFI 2015.

Mencari Hilal menjadi film yang sangat penting di pengalamanku sebagai pembuat film karena tema religinya, bahasan Islamnya. Ketika film religi sudah jatuh ke titik yang paling rendah. Ceritanya sekedar orang kerudungan yang bercinta saja kan? Tidak ada yang berdialog tentang ketuhanan. Religi itu bukan dagelan e. Religi itu ageman. Ageman itukan pegangan hidup betul,” kata Basbeth kemarin.

Talak 3 adalah film bioskop kedua Basbeth setelah Mencari Hilal. Baginya, Talak 3 adalah film produser dan sutradara yang bekerja dalam gagasan produser.

“Jika orientasinya pada jumlah penonton, sebuah film harus memenuhi syarat bahwa film harus bisa menghibur. Dari Talak 3 aku belajar membuat film yang menyenangkan banyak orang,” ucap Basbeth.

 

Share This: