“It’s Me!” kata Irma June

Penyanyi Irma June tampil di sebuah kafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (1/2) malam. (Foto-foto: HW)
_

Panggung yang kecil, ruangan temaram, dan penonton yang begitu dekat, ternyata tidak mempengaruhi penampilan Irma June. Dia bergerak ke sana ke mari, mulai dari atas panggung, berkeliling mendekati penonton, menyanyi bersama dengan penggemar yang hapal lirik lagunya atau duduk di sebuah level berbentuk kubus di depan stage sambil menghayati lagu yang dibawakannya.

Begitulah penampilan Irma June di Foodism Cafe, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (1/3) malam. Tidak ada yang berubah jauh dari penampilannya di masa muda lalu, baik dalam aksi maupun kualitas suara. Power suaranya masih kuat, seolah dia bukan seorang ibu yang kini memiliki dua anak remaja. Kepada penggemarnya, seakan Irma June ingin mengatakan, inilah aku, “It’s me!” seperti judul album yang baru dirilisnya.

Irma baru muncul kurang sedikit dari pukul 22.00 WIB, nyaris terlambat hampir satu jam dari jadwal yang dirilis. Begitu masuk, ia langsung menghentak dengan lagu I Wanna Dance With Somebody, sebuah lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi Amerika, Whitney Houston. Untuk penyanyi seusia Irma, lagu itu sebenarnya berat, tetapi Irma tetap membawakannya penuh tenaga. Itu mungkin karena ia menjaga fisiknya dengan baik. Sebelum tampil di infocus menampilkan aktivitas Irma untuk mempersiapkan konsernya, termasuk melakukan jogging.

Setelah ia nyaris tanpa jeda – kecuali ia mencoba berkomunikasi dengan pengunjung – Irma menyanyikan lagu-lagu berikut. Ada sepuluh lagu dibawakan malam itu. Yakni, I Wanna Dance With Somebody, Egidio, Datanglah, Bila, KKC, Kan S’lalu, And I am Telling You-I Have Nothing, Lay Me Down, Halo dan It’s Me!

Pengunjung terhibur dengan penampilan Irma. Terutama penggemar setianya yang sudah lama menantikan kehadiran penyanyi kelahiran Jakarta, 30 April 1973 yang memiliki nama lengkap Irma Ivonne June Kairupan itu. Di antara penonton nampak pencipta lagu Lilin Lilin Kecil, James F Sundah, yang tak henti bertepuk tangan setiap Irma usai menyanyikan lagu, dan tersenyum melihat penyanyi bertubuh mungil itu.

“Irma June adalah satu talenta keren Indonesia. Walau pun dia sempat ngilang, muncul lagi, dia masih sehebat dulu,” kata James kepada balaikita, ketika dimintai komentarnya.

James menurutkan, Irma muncul di jaman yang setiap penyanyi tampil dengan karakter sama warnanya sendiri. Di jaman sekarang pun dia tetap karakter yang belum dimiliki penyanyi lain. “Irma kan satu pemenang ajang bakat. Jaman dulu (ajang bakat) benar-benar sebuah kontes, yang kalau sampai juara, kamu bisa melewati ujian yang cukup berat.”

James mengaku ketika itu bertemu dalam beberapa event dengan Irma. Dan ia mengagumi karakter vocal maupun penjiwaan Irma terhadap lagu. Ia yakin Irma tetap bisa bertahan, karena musik tidak pernah mati. Di Amerika dan dunia lain, sampai umur 80 orang masih bisa bernyanyi. “Sepanjang Irma bisa menjaga kualitas vokalnya, dia akan tetap seperti dulu.”

“Hasil pemenang-pemenang lomba jaman dulu, kekuatannya tidak bisa hilang, kecuali ada penyakit yang tidak bisa kita tebak ya. Sekarang Irma tinggal menyesuaikan dengan perubahan musik-musik yang ada,” tambahnya.

Irma June merupakan salah seorang penyanyi yang sangat diperhitungkan menjelang tahun 2000-an. Suaranya yang indah dan khas telah melahirkan penggemar-penggemar yang fanatik terhadap Irma. Namun sejak tahun 2012 ia memutuskan menarik diri dari dunia tarik suara.

“Aku selama delapan belas tahun mundur dari dunia showbiz. Tetap menyanyi sih, tapi untuk lagu-lagu rohani (gospel). Tapi sejak tahun 2012 nyaris tidak nyanyi sama sekali sampai sekarang. Dari seratus persen paling aku nyanyi 10 persen. Itu pun karena diojok-ojok oleh teman. Saya jarang nyanyi karena lebih banyak bisnis. Jadi saya baru nyanyi tahun,” tutur Irma ketika ditemui di kawasan Sudirman Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bersama suaminya yang seorang pebisnis dan juga penginjil, Irma sering melakukan blusukan ke berbagai daerah untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Kesulitan transportasi dan medan yang sulit tidak menjadi halangan bagi dan suami. Hatinya terpanggil untuk menolong orang lain.

“Aku terinspirasi mama yang punya panti asuhan di Solo. Dia selalu memberi contoh untuk berbuat baik kepada orang lain. Jadi sejak kecil saya sudah berpikir, kalau punya uang akan melakukan sesuatu seperti mama,” ujar isteri dari Marthin Luther Josua Lengkey ini.

Sebagai penyanyi, dulu Irma ingin berkarier di Amerika. Tetapi tidak pernah kesampaian. Tahun 1995 ia sudah ke Amerika. Membuat rekaman, demo video klip, main dengan teman-teman orang Afro Amerika semua. Lalu dia pulang ke Indonesia, rencana cuma berapa bulan tetapi tidak balik lagi kesana karena dilarang manajemen. Akhirnya pupuslah semuanya.

“Saya sudah tidak berpikir lagi tentang Amerika. Saya pikir sudahlah lupain aja Amerika. Tidak mungkin lagi karena sudah makin jauh,” katanya.

Tetapi bisnis suaminya di bidang telekomunikasi membuatnya harus bolak-balik Indonesia – Amerika. Berapa bulan di Indonesia, lalu berapa bulan lagi di Amerika. Suatu saat dalam acara gathering perusahaan, Irma menyanyi. Ternyata ada rekan suaminya yang seorang pemusik jazz.

“Dia lalu bilang ke suami saya, minta dikirimi video waktu saya menyanyi live. Suami saya bilang oke. Akhirnya suami saya kirim lewat email. Ternyata tidak direspon. Kita pikir udahlah. Awal tahun ini suami saya iseng menghubungi dia lagi. Suami saya bilang boleh enggak saya kirim lagi video Irma sedang menyanyi. Dia bilang saya tunggu. Rupanya yang dulu dia tidak pernah terima,” ujar Irma.

Suami mengirim lagi video Irma menyanyi. Satu hari kemudian mendapat respon. Waktu itu dia sedang ke luar Amerika. Dia bilang, nanti kalau saya kembali ke Los Angeles, saya akan masuk ke studio dan akan saya kasih lihat videonya Irma kepada teman saya, seorang CEO label di Amerika, sepupunya Whitney Houston.

Waktu sang CEO label itu kembali ke LA, Irma harus meeting dengan mereka melalui skype. Ketika itu dia diperkenalkan dengan sepupunya Whitney Houston. “Dia bilang kepada saya, Irma saya sudah lihat video kamu. I like your voice, Ia like your style, the way you sing. I love it! Kamu mau enggak kalau kita kerjasama. Saya mau buat kamu untuk jadi penggantinya Whitney Houston. Waktu itu kalau dibilang badan terbelah dua, benar-benar saya rasakan. Jangan-jangan gue mimpi nih!”

Kemudian Presiden Directornya menelepon, mereka ngobrol selama dua jam. Dia bilang saya merasa terhormat sekali kalau kamu mau menerima penawaran dari kami. Harusnya kan gua begitu. “He is very humble, I’m very happy so much”. Tapi suami saya bilang begitu, kamu jangan menandatangani apa pun. Kita ketemu dulu face to face. Kalau oke tandatangani kalau pun tidak, Tuhan pasti akan bukan jalan yang lain.

Kini nama dan wajah Irma sudah diannounce di website mereka. Foto-Irma sudah kirim lagu ke sana, dan mereka sudah terima. “Mereka sudah approve lagu-lagu saya. Saya sudah direheasal oleh mereka. Sudah jauhlah pembicaraannya. Dan Desember 2016 tanggal 11 saya berangkat lagi ke Amerika sekeluarga untuk meeting dengan mereka.”

Irma sendiri mengawali kariernya sejak 1984-1985 dengan album anak-anak, Sakit Aduh Sakit dan Kumpulan Lagu-Lagu Soundtrack Cartoon Jepang Populer. Ketika ia beranjak remaja, jelang dewasa, iapun muncul lagi antara lain dengan, Egidio, album yang menghasilkan hits, Bila. Lalu disusul dengan Maaf, dan Takkan Berubah. Ia juga sempat menghasilkan album kompilasi hitsnya, The Best of Irma June, sebuah album eksklusif.

Ia juga mengisi album soundtrack beberapa film. Di antaranya adalah,’Kristal Kristal Cinta’, duet dengan Hedi Yunus, lalu lagu, ‘Alkisah Cinta’, yang meramaikan album soundtrack “Catatan Si Boy 2”.

Masih ada lainnya, lagu ‘Satu Rasa’, dimana ia berduet dengan Orbar Amputra. Itu salah satu yang mengisi soundtrack Catatan Si Emon.

Irama menjadi guest star dalam album kelompok Catwalk, dimana ia ikut menyanyi lagu, ‘Pasir Putih’. Ikut album Voice of Asia, dengan menyanyikan,’Datanglah’. Di album LCLR – Dasa Tembang Tercantik Prambors, dimana ia membawakan lagu,’Pesta Dansa’ bareng Dyah Kutut dan Asa.           Setelah terlibat dalam album Harry Toledo and Friends, menjadi guest star menyanyikan,’Kan Selalu’, Irma menekuni karir menyanyinya di wilayah musik rohani, gospel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: