Jakarta akan Miliki Kain Khas Sendiri

Plt. Gubernur DKI Jakarta Soni Sumarsono (syal kuning) bersama Dr. Anna Mariana meninjau tempat pembuatan kain tenun Babe di Bali, 12 April 2017 lalu (Foto: Dudut Suhendra Putra)
_

Sebagai ibukota negara, Jakarta merupakan tempat berkumpulnya berbagai budaya dan kesenian dari berbagai daerah. Berbagai jenis kain daerah bisa diperoleh di Jakarta seperti ulos dari Tapanuli, kain songket Palembang atau Makassar, tenunan Bali dan NTT, dan tentu saja berbagai jenis batik dari Jawa Barat dan Tengah.

Ironisnya Jakarta yang sudah berusia limaratus tahun lebih, tidak memiliki kain tenun sendiri, yang menjadi ciri khas dan kebanggaan kota. Suku Betawi yang merupakan etnis asli di Jakarta, tidak memiliki budaya menenun, sehingga kerajinan tenun yang merupakan karya seni dan budaya yang banyak ditemui di daerah-daerah lain, tidak ada di Jakarta.

Fakta itulah yang membuat Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Jakarta, Soni Sumarsono merasa terusik, dan di masa tugasnya yang singkat berusaha mencari kain tenun yang akan menjadi ikon Jakarta.

Soni Sumarsono lalu bertemu dengan kolektor dan disain kain tenun dan songket Dr. Anna Mariana. Tidak hanya mendisain dan menjadi kolektor, Anna Mariana juga berusaha mengembangkan kain tenun tradisional, dan membina para pengrajin kain. Salah satunya terdapat di Bali.

Pada 12 April 2017 lalu Anna Mariana bersama suami Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, SH, MS, MSc, menerima kunjungan Pelaksana Tugas (Plt) DKI Jakarta Soni Soemarsono di dua lokasi binaan tenun dan songket mereka di Bali.

Kunjungan Soni Sumarsono diagendakan di sela-sela jadwal rapat kerjanya dengan para walikota se DKI di Bali. Soni Sumarsono datang untuk melihat proses pembuatan tenun dan songket Betawi yang sudah dikerjakan di tempat itu, sejak Desember tahun lalu. Penenunan memang tidak bisa dilakukan cepat, karena semua dikerjakan dengan tangan (hand made).

Ditarget pada ulang tahun Jakarta ke-450 di bulan Juni mendatang, karya tenun yang berciri khas Betawi sudah bisa kita selesaikan.

“Pak Gubernur sudah berkunjung ke Putri Ayu dan Mengah Agung, ini merupakan dua dari 64 lokasi binaan yang kami miliki di Bali. Pilihan pada ini hanya karena alasan kepraktisan, mengingat durasi waktu Pak Gubernur yang pendek, kami pilih lokasi yang tidak memakan lama untuk perjalanan, “ujar Anna Mariana, di kawasan Sukawati, Kabupaten Gianyar Bali, seperti rilis yang diterima Harian Terbit, Jumat (14/4/2017).

Sumarsono mengaku cukup puas melihat hasil tenun dan songket yang sudah dikerjakan oleh penenun binaan Anna Mariana. Meski mengaku bukan seniman, Sumarsono memberi usul untuk bisa dibuatkan ragam disain yang lebih banyak untuk tenun Betawi.

“Kalau bisa, tolong dibuatkan kain tenun dengan disain hanya satu ikon Betawi saja. Misalnya hanya ada kepala Ondel-ondel saja, atau hanya ornamen Gigi Balang saja. Namun design itu dibuat untuk penuh dalam satu kain!” ujar Sumarsono

Sumarsono juga memaparkan ide cemerlang yakni membuat disain baru untuk kain Betawi, yakni batik akulturasi. Untuk tahap awal ia terpikir memadukan design Bali dan Betawi dalam satu kain. Sumarsono sendiri mengaku sudah membicarakan hal ini kepada Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika.

“Saya namakan kain Babe, yakni singkatan dari Bali dan Betawi. Betawi sendiri sebelum ini sudah punya kain. Dan kain yang lama akan tetap dan terus ada. Mutunya kita coba tingkatkan lagi!” ungkap Sumarsono. “Saya akan buat langsung Pergub kain Babe besok pagi!” tambahnya.

Untuk disain Babe, Sumarsono menyebut sepenuhnya diserahkan kepada seniman binaan Anna dan Tjokorda.

“Penerbitan Perpu Gubernur ini sekaligus untuk menegaskan budaya Betawi itu yang sangat open. Dari dulu budaya Betawi tumbuh dan berkembang dari akulturasi antara Cina, India, Arab, Melayu dan lain-lain. Jadi Betawi asli sebenarnya tidak ada. Adanya akulturasi,” katanya.

Share This: