Jalan-jalan ke Kamboja: Makan di Warung Bali (Bagian II)

_

Urusan mulut dan perut menjadi persoalan krusial bila bepergian ke luar negeri. Terutama bagi umat muslim di negara yang mayoritas penduduknya non muslim. Mencari makanan halal adalah prioritas, selain rasa.

Di Kamboja, yang mayoritas penduduknya non muslim, sangat sulit mencari makanan halal bagi pemeluk muslim. Hampir setiap rumah makan – baik besar maupun kecil – selalu menyediakan tiga jenis daging dalam menunya: beef (daging sapi), chicken (daging ayam) dan pork (daging babi), selain ada sayuran, ikan atau udang laut serta ikan air tawar. Kamboja yang dilewati Sungai Mekong dan memiliki banyak rawa, memang sangat kaya dengan ikan air tawar. Ikan yang dijual di pasar umumnya masih segar.

“Emang sih kita bisa pesan menu yang halal, tapi kan masaknya di tempat yang sama,” kata seorang teman dari Indonesia.

Ketika ada undangan dari Kedubes RI (KBRI) untuk datang di hari kedua di Pnom Penh, anggota Delegasi Indonesia yang mengikuti Festival Film Asia Pasifik (FFAP) ke-57 di Pnom Penh menyambut dengan antusias. Selain akan bertemu dengan Pak Kedubes dan keluarganya serta orang-orang Indonesia, berharap juga dijamu makanan yang halal dan sesuai lidah. Kabarnya di KBRI sedang ramai, karena baru saja ada acara donor darah.

Pukul 10.00 Waktu Pnom Penh – sama dengan di Jakarta – kendaraan yang membawa kami dari hotel tiba di Gedung KBRI. Suasana memang sedang ramai. Ada puluhan orang lelaki dan perempuan, anak-anak maupun orang dewasa yang sedang mengikuti perlombaan. Ada lomba ketangkasan memasukan pensil ke botol bagi anak-anak, lomba gaple dan tenis meja bagi anak-anak muda dan orang dewasa. Suasanya mirip Agustusan. Hampir semua yang datang memakai kaus merah dengan gambar Garuda di depan.

Setelah melihat-lihat sebentar, kami langsung masuk ke sebuah ruangan. Di atas sebuah meja, terdapat kue-kue dan singkong rebus. Tanpa nunggu dipersilahkan, kami mencomot singkong rebus yang digelar di sebuah tampah. Entah kenapa singkong rebus di Pnom Penh rasanya enak sekali. Rasanya membawa kami langsung kembali ke tanah air. Di sana kami bertemu dengan seorang pemilik rumah makan di Pnom Penh, nama rumah makannya “Warung Bali”.

Sayang waktu itu Pak Dubes Pitono dan isteri tidak berada di tempat, karena ada acara mendadak menjemput tamu ke Bandara Pnom Penh. Staf KBRI tidak menjelaskan siapa tamu yang dijemput Pak Dubes. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan staf KBRI dan beberapa WNI yang ada di sana, potrat-potret, kami pamit. Sebab tidak ada tanda-tanda akan disediakan makan siang (wah ngarep!).

Staf KBRI memanggilkan sebuah tuk-tuk. Berenam kami naik becak bermotor itu, sedangkan 5 orang lain berpisah untuk tujuan lain. Saya dalam rombongan yang 6 orang. Di antaranya Kepala Sinematek Indonesia Adisurya Abdy dan isteri.

Interior Rumah Makan Bali di Pnom Penh. (Foto: HW)

“Di Pnom Penh ada Warung Bali. Kita ke sana, makanannya enak,” kata Adisurya Abdy yang mengaku pernah makan di tempat itu. Kebayang sudah makanan Bali Bebek Betutu atau ikan bakar ala Seminyak.

Setelah berjalan setengah jam, dan dua kali bertanya, akhirnya kami tiba di Warung Bali yang terletak tidak jauh dari National Museum of Cambodia (Musium Nasional Kamboja). Tepatnya di Jalan Street.178, Pnom Penh. Kawasan tersebut hampir seperti Legian, Bali. Banyak galeri, rumah makan dan turis-turis asing.

Rumah makan itu tidak terlalu besar. Berada di sebuah ruko berukuran 4 X 8 Meter, dua lantai. Lantas atas mungkin untuk karyawan tinggal. Rumah makan berada di lantai bawah, dengan lima meja panjang, masing-masing meja memiliki 4 buah kursi. Sebuah meja dipergunakan oleh pemilik rumah makan sendiri sebagai meja kasir.

Di jalan depan rumah makan mangkal dua buah tuk-tuk. Di halaman rumah makan juga terdapat dua buah meja. Ketika kami masuk ada dua turis wanita kulit putih sedang makan. Dinding rumah makan dihiasi lukisan-lukisan Bali.

Pekerja rumah makan itu adalah anak-anak muda warganegara Kamboja, tetapi satu di antaranya, juru masak dan pimpinan mereka, sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Kami memilih makanan dari daftar menu yang disodorkan. Kami memilih udang saus tiram, tempe goreng tepung, tumis kangkung dan ikan air tawar diberi bumbu pedas. Tidak ada Bebek Betutu atau ikan bakar ala Seminyak di sana.

Tidak lama kemudian makanan yang kami pesan datang, termasuk nasi yang sudah ditaruh di atas piring masing-masing. Seperti di rumah makan Padang, tetapi porsinya banyak. Untuk orang yang menjaga bentuk tubuh, porsi nasi di Pnom Penh memang terlalu banyak.

Sayangnya ukuran tempe goreng tepungnya terlalu kecil. Jika pernah makan di Warteg Warmo di Tebet, ukuran tempe di Warung Bali kira-kira sepertiganya. Tiga kali gigitan langsung lenyap di mulut. Tetapi itu sudah mampu mengobati kerinduan akan makanan rumah.

Makanan yang disediakan dengan cepat ludes. Baru saja kami menyelesaikan makan, datang sang pemilik rumah makan yang kami temui di KBRI sebelumnya. Penulis lalu mengajaknya berbincang-bincang. Ternyata pemilik rumah makan itu, lelaki gempal berusia 53 tahun, bukan orang Bali, melainkan asal Cilacap. Kasmin namanya.

“Nama kulo Kasmin. Kulo saking Cilacap, Jawa Tengah,” kata Kasmin sambil tertawa.

Kasmin, 53 tahun, pemilik Warung Bali di depan ruman makan miliknya di Pnom Penh. (Foto: HW)

Kasmin mengaku datang ke Pnom Penh sejak tahun 1996. Sudah 23 tahun. Ketika itu ia bekerja sebagai karyawan perusahaan telekomunikasi asal Indonesia yang mengerjakan proyek di Pnom Penh. Tahun 2000 pekerjaan selesai, dan bossnya buka kafe di Pnom Penh, namanya Bali Kafe. Kasmin ikut bekerja di situ.

Tahun 2007 Bali Kafe tutup karena gedung yang disewa dijual oleh pemiliknya. Bosnya tidak bisa menyewa tempat lagi. Bos tempat Kasmin bekerja kembali ke perusahaan telekomunikasi, tetapi Kasmin memilih tidak ikut. Kasmin merasa usianya sudah agak tua untuk bekerja. Dia berpikir untuk membuka usaha sendiri. Bosnya mengijinkan, dan memberikan barang-barang sisa kafe untuk dipergunakan oleh Kasmin. Berbekal barang-barang itulah Kasmin membuka rumah makan. Warung Bali.

“Walau pun saya orang Jawa, demi kepentingan bisnis saya pake nama Bali. Kalau Bali kan orang-orang asing sudah pada kenal. Dan tamu-tamu saya banyak orang asing di sini. Kalau kita peka nama Warcil (Warung Cilacap) atau Warung Karawang, orang enggak ngerti nanti,” tutur lelaki yang memiliki satu anak sudah menikah di Indonesia ini.

Pertama kali buka Kasmin menjadi juru masak sendiri bersama Firdaus, kompanyonnya, eks juru masak KBRI yang juga pernah sama-sama bekerja di perusahaan telekomunikasi. Warung Bali memang didirikan bersama oleh Kasmin dan Firdaus.

Untuk tempat usahanya itu Kasmin menyewa mulai dari 600 dolar, kemudian naik 800 dolar dan kini 1.000 dolar. Jika membeli ruko yang ditempati pernah ditawarkan oleh pemiliknya seharga 350 ribu dolar.

Kasmin mempekerjakan 5 orang karyawan lelaki orang Kamboja. Alasannya pekerja lelaki lebih cepat dan bisa menginap di tempat kerja. Kasmin membayar karyawannya 300 dolar untuk yang membantu memasak, dan yang lain, untuk pelayan dan cuci piring digaji 100 dolar lebih per bulan.

“Enaknya mempekerjakan mereka kita tidak perlu membiayai tempat tinggal atau transport. Tetapi kelemahannya rata-rata mereka kurang punya inisiatif. Misalnya ada pesanan orang Indonesia, kita harus perintahkan terus apa yang harus dikerjakan,” kata Kasmin.

Sebagai orang asing yang telah lama tinggal di Kamboja, menurut Kasmin tidak terlalu sulit untuk membuka usaha. Yang penting ikuti aturan dan bayar pajak. Di Pnom Penh tidak ada pungli, tukang palak, pengemis atau pengamen yang ke luar masuk rumah makan, sehingga tamu-tamu merasa tenang, dan pemilik usaha pun tidak perlu pusing.

Dengan usahanya itu Kasmin mengaku bisa mengirim uang untuk anaknya di Indonesia, meski pun sang anak sudah berkeluarga dan bekerja di Jakarta. Oleh sang anak, uang jerih payahnya banyak dibelikan tanah dan sawah, untuk hari tua sang ayah. Isteri Kasmin sudah lebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Share This: