Jalan-jalan ke Kamboja: Menuju Siem Reap (Bagian III)

Penjual jangkrik dan ulat kayu goreng di dekat Kompong Thom, Kamboja (Foto: HW)
_

Malam pemberian award kepada seluruh pemenang Festival Film Asia Pasifik (FFAP) ke-57 yang berlangsung tanggal 31 Juli 2017 malam berakhir. Esoknya seluruh delegasi yang hadir harus meninggalkan tempat menginap, di Hotel Garden City Pnom Penh.

Pukul 10.00 waktu setempat kendaraan minibus yang akan membawa delegasi Indonesia ke bandara sudah menunggu di depan lobi. Semua berkemas-kemas dan membawa barang bawaan, lalu memasukannya ke mobil. Sebelum ke bandara anggota Delegasi Indonesia akan mampir dulu ke KBRI, untuk memenuhi Undangan Dubes RI untuk Kamboja, Pitono Purnomo.

Saya tidak bisa ikut ke KBRI, karena pukul 11.30 sudah harus berada di Hotel Pnom Penh, untuk naik bus menuju Siem Reap. Saya sudah booking tiket ke Siem Reap seharga US$ 10 (sepuluh dolar), yang dititipkan kepada pegawai Hotel Pnom Penh sehari sebelumnya. Bus luar kota di Pnom Penh ternyata bisa dipesan di hotel-hotel. Tidak ada bukti pembayaran, tetapi pegawai hotel itu menyerahkan nama dan nomor teleponnya untuk meyakinkan. Antara percaya dan tidak, saya ikuti saja aturan mainnya.

Pukul 11.30 saya tiba di Hotel Pnom Penh diantar oleh kendaraan yang membawa Delegasi Indonesia. Sedangkan rombongan meneruskan perjalan ke KBRI. Kepada petugas hotel saya mengatakan akan ke Siem Reap menggunakan bus. Petugas hotel lalu membuka lacinya dan menyerahkan selembar tiket. Dia meminta saya menunggu di ruang tunggu hotel, nanti akan ada yang menjemput. Di ruang tunggu hotel ada beberapa orang lain yang juga sedang menunggu jemputan.

Seperempat jam kemudian petugas hotel mengatakan jemputan sudah datang. Ternyata sebuah Tuk-tuk. Saya sempat bertanya apakah harus membayar lagi ongkos Tuk-tuk; petugas hotel meneruskan pertanyaan saya kepada pengemudi Tuk-tuk, ternyata tidak perlu membayar lagi. Pengemudi Tuk-tuk menaikkan koper ke atas Tuk-tuk, lalu kami berangkat.

Tuk-tuk melaju lincah di jalan raya Pnom Penh yang padat dan panas. Kadang memotong begitu saja. Tidak ada yang marah. Tuk-tuk lalu memasuki sebuah jalan yang lebih kecil, dan berhenti di sebuah hotel kecil. Terlihat sepasang bule, backpacker sedang duduk di lantai lobi hotel. Pengemudi Tuk-tuk mendekatinya. Mereka berbicara sebentar, pasangan bule itu lalu ikut dengan Tuk-tuk yang saya naiki. Keduanya mengaku berasal dari Perancis, dan akan ke Siem Reap juga.

Pengmudi Tuk tuk dari perusahaan bus. (Foto: HW)

Bertiga kami naik Tuk-tuk yang dikemudikan lelaki berperakan kekar itu. Tidak lama kemudian Tuk-tuk berhenti di depan sebuah ruko. Barang-barang kami diturunkan. Dari situlah, nanti kami akan naik bus menuju Siem Reap. Selain ke Siem Reap, ada juga bus jurusan lain seperti ke Provinsi Batambang dan Ho Chi Min City (Saigon), Vietnam. Tidak lama kemudian bus kami datang, berwarna oranye.

Bus itu cukup nyaman, ber-AC, dan tiap kursi disediakan air mineral dalam kemaasan. Ketika kami naik, penumpang tidak terlalu penuh. Sesuai jadwal, pukul 12.15 bus berangkat meninggalkan agen bus Mey Hong, yang berkantor di ruko itu.

Bus berjalan dengan kecepatan 80 Km/jam. Jalan menuju Siem Reap ternyata cukup besar. Empat jalur: dua di kiri dan dua di kanan. Di Kamboja kendaraan berjalan di sebelah kanan seperti di negara-negara Barat. Negara ini pernah dijajah Perancis.

Jalan yang kami lewati sangat mulus. Tidak bergelombang, sehingga kendaraan nyaris tak bergetar. Jalan tol terbaik di Indonesia pun kalah nyaman dengan jalan menuju Siem Reap ini, meski bukan jalan tol. Meski pun ngantuk, saya tak ingin memejamkan mata, ingin menyaksikan apa saja yang ada di sepanjang perjalanan.

Pemandangan sepanjang jalan tidak terlalu menarik. Monoton. Hanya ada sawah-sawah, pohon lontar, atau rumah-rumah panggung seperti di Indonesia. Mirip seperti kalau kita melewati perkampungan di Lampung atau Takalar, Sulawesi Selatan. Bedanya di sini banyak rumah panggung yang di kolongnya terparkir mobil, atau sapi diikat, meski pun banyak juga rumah panggung yang atapnya hanya daun lontar.

Dua jam perjalanan bus berhenti di sebuah rumah makan, di sebelah SPBU yang belum dibuka. Ada Wifi di situ dan tertera passwordnya. Walau tertulis Fiwi, tetapi maksudnya bisa dipahami. Ini kesempatan bagus bagi saya untuk mengirim tulisan – karena selama di Kamboja hanya mengandalkan wifi hotel atau tempat lain.

Bus berhenti di tempat perstirahatan, sebuah rumah makan. (Foto: HW)

Di depan rumah makan itu ada kios terbuka memanjang, menjual kue-kue kering dan keripik, buah jeruk bali yang sudah dikupas maupun masih utuh, dan gorengan belalang serta ulat batang pohon. Hampir mirip dengan goreng belalang yang dijual di kawasan Gunung Kidul. Warnanya kemerahan menggugah selera. Tetapi saya tidak membelinya.

Saya masuk ke rumah makan. Melihat-lihat menu yang ada di balik etalase. Akhirnya pilihan jatuh kepada sayur ikan gabus. Kuahnya bening, diberi bumbu potongan-potongan tomat dan batang sayuran kecil-kecil. Rasanya agak asam sedikit dan batang itu baunya hampir mirip dengan daun seledri, entah daun apa.

Menikmati makanan bukanlah tujuan saya yang utama. Yang penting adalah bisa mengirim tulisan mumpung ada wifi. Jadi sambil makan mengirim tulisan. Baru saja kiriman tertulis, klakson bus sudah berbunyi berulang-ulang. Ternyata sopir bus dan penumpang lain sudah naik. Mereka menunggu saya. Wah, waktunya cuma 15 menit.

Akhirnya saya berhenti makan, mengeluarkan uang R-10.000 (sepuluh ribu riel), setara dengan Rp.35 ribu. Pemilik rumah makan mengangguk-angguk sambil tersenyum. Rasanya uang itu lebih untuk membayar harga makanan. Tapi karena kendala bahasa, sudahlah. Apalagi bus sudah menunggu.
Bus kembali melaju. Tidak ada pemandangan yang menarik. Hanya perkampungan, rumah-rumah panggung atau sawah-sawah yang sebagian kebanjiran oleh limpasan air sungai. Di dekat aliran sungai-sungai yang deras dan berair bersih, terlihat ada bubu-bubu plastik, seperti jaring plastik yang dipasang untuk menangkap ikan.

Kamboja yang dilewati sungai Mekong yang besar dan anak-anak sungainya, nampaknya kaya akan ikan air tawar. Di pasar-pasar banyak ditemui pedagang ikan air tawar, seperti ikan gabus, tawes, atau beberapa jenis ikan air tawar lainnya. Kondisi ini mirip seperti di pedalaman Kalimantan.

Dua jam kemudian bus berhenti lagi di sebuah pasar yang ramai. Ternyata itu adalah pusat kota Kompong Thom. Sopir dan kernetnya masuk ke sebuah rumah makan, Arunas namanya. Seperti sopir-sopir bus di Indonesia, mereka langsung mengambil tempat di sebuah meja makan dengan empar kursi. Pelayan langsung menyiapkan makanan untuk mereka.

Pasar Kompong Thom (Foto: HW

Saya dan penumpang lain, terutama dua bule yang sama-sama ikut dari Pnom Penh, tidak makan. Selain masih terasa kenyang, pengalaman di rumah makan terdahulu masih terasa menyebalkan. Ternyata benar. Selesai makan, sopir bus dan awaknya langsung naik ke bus. Langsung menghidupkan mesin tanpa memperdulikan penumpang lain yang sedang makan.

Tidak lama kemudian bus bergerak lagi. Melewati Kompong Thom, jalan lebih kecil. Hanya bisa dilewati dua kendaraan, dan di pinggir kiri kanannya ada jalur untuk kendaraan kecil seperti Tuk-tuk atau sepeda motor.

Pukul 18.30 bus berhenti di depan ruko-ruko. Bagasi dibuka, tetapi pintu bus tetap terkunci. Saya minta pintu dibuka karena saya lihat koper saya diturunkan dan dibawa oleh seseorang. Sopir bus tidak mengubrik. Saya menunjukkan tablet berisi alamat yang akan saya tuju. Dia cuma bilang tidak tahu dengan ketus. Ketika saya bilang koper saya diturunkan, dia bilang tidak apa-apa! Ngehek!

Setelah semua koper diturunkan, baru pintu bus dibuka, dan penumpang diminta turun. Ternyata kami sudah sampai. Di ruko itulah agen bus Mey Hong berada. Begitu kami turun pengemudi Tuk-tuk langsung mengerubuti, menawarkan jasa.

Saya tidak langsung mengambil Tuk-tuk, tetapi masuk ke ruko tempat agen bus berada. Saya bertanya-tanya dulu tentang harga Tuk-tuk ke Angkor Wat dan keliling kota Siem Reap. Sesuai saran teman yang pernah ke Siem Reap, saya juga langsung memesan tiket untuk ke Pnom Penh, lusa.

Seorang pengemudi Tuk-tuk, anak muda, mendekati. Charon namanya, berkulit agak gelap. Cukup simpatik. Bahasa Inggrisnya lumayan. Mungkin sama begonya dengan saya, tapi kami bisa berkomunikasi dengan baik. Setelah tawar menawar, saya setuju naik Tuk-tuknya. 2 dolar ke penginapan yang telah saya pesan melalui situs pemesanan hotel dan transportasi sejak di Indonesia.

Penginapan yang saya tuju ternyata tidak terlalu jauh. Hanya memutari sebuah taman, lalu masuk ke jalan besar enam jalur (National Highway), sudah sampai. Penginapan bernama Tasom Guest House dan Travell itu tidak terlalu besar, seperti rumah bisa berlantai tiga, tetapi bersih. Di hotel itu ternyata bisa juga memesan bus ke berbagai jurusan. Selain ke Pnom Penh, ada juga bus jurusan Bangkok atau Pattaya.

“ Ke Bangkok enam dolar, ke Pattaya 10 dolar,” kata pemilik hotel.

Wah nyesel juga sudah booking tiket pesawat dari Pnom Penh ke Jakarta. Kalau ada bus dari Siem Reap ke Bangkok dengan harga lebih murah, lebih baik pulang lewat Bangkok. Mungkin tiket pesawat dari Bangkok ke Jakarta juga lebih murah dibandingkan dari Pnom Penh – Jakarta. Selain itu di Siem Reap juga ada bandara internasional. Itulah kalau malas buka internet.
Sebelum berpisah dia menanyakan apakah perlu diantar ke Angkor Wat, besok? Saya mengatakan iya. Setelah tawar menawar, akhirnya kami sepakat dengan harga 17 dolar. Katanya dia akan menunggu selama saya keliling di Angkor Wat dan Angkor Thom, sampai sore.

Malam itu setelah istirahat sebentar dan mandi, saya ke luar penginapan untuk mencari makan. Kawasan di pinggir jalan National Highway masih ramai, karena banyak hotel-hotel besar, rumah makan dan tempat hiburan malam seperti karaoke. Di sini warung-warung dadakan di pinggir jalan juga ada. Menggunakan tenda dan kursi yang disusun mirip rumah makan. Saya berjalan menelusuri trotoar sambil melihat-lihat rumah makan yang cocok.

Saya masuk ke sebuah rumah makan yang terbuka. Suasananya ramai. Setiap meja ada kompor gas kecil untuk memanaskan shabu-shabu. Saya memesan sepiring nasi dan cap cay seafood. Dengan sebotol air mineral harganya 5 dolar. Itu paket termurah di situ. Ternyata isi capcay hanya beberapa potong kembang kol, brokoli dan daun kailan, plus empat ekor udang. Yang banyak campurannya: paprika, bawang Bombay dan tomat. Tetapi untuk mengganjal tanki yang miring, lumayanlah. Selesai makan saya kembali ke penginapan. Harus segera tidur, karena janji dengan Charon pukul 04.30 dinihari esok, supaya bisa sampai Angkor Wat sebelum fajar. (Bersambung).

Share This: