Jalan-jalan ke Kamboja: Pesona Angkor Wat dan Angkor Thom (Bagian IV)

Matahari terbit dari balik bangunan utama Angkor Wat. (Foto: HW)
_

Sejak semalam saya sudah tak sabar untuk segera melihat kemegahan Angkor Wat dan komplek kota tua Angkor Thom. Pukul 04.00 pagi saya sudah bangun karena janji dengan Charon, anak muda pengmudi Tuk-tuk akan ke luar penginapan pukul 04.30, supaya bisa menyaksikan matahari terbit di Angkor Wat.

Candi Bayon, dengan bangunan berbentuk wajah manusia (Foto: HW)

Tetapi karena harus ke kamar mandi, menjalankan ritual rutin dulu, baru meninggalkan kamar pada pukul 04.45 setelah makan dua potong biskuit untuk sekedar mengganjal perut, walaupun jauh dari memadai karena biasa diganjal nasi uduk atau lontong sayur. Di halaman penginapan, Charon sudah menunggu. Sejak pukul 04.30 katanya, seperti waktu yang dijanjikan. Saya minta maaf karena agak terlambat.

Dengan membelah jalan yang masih agak gelap, udara masih terasa dingin, Charon memacu Tuk-tuknya agak cepat. Tetapi jalan sudah mulai ramai, ada banyak Tuk-tuk lain bahkan bus yang mebawa wisatawan, dengan arah yang sama dengan yang kami tuju.

Tuk-tuk yang saya tumpangi belok ke sebuah pelataran luas. Sudah banyak tuk-tuk yang parkir di sana. “Tempat beli tiketnya di sana,” kata Charon sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan besar yang di dalamnya terdapat gerai kopi dan toko souvenir.

Saya masuk ke tempat yang ditunjukkan. Ternyata sudah banyak antrian. Ada empat baris. Umumnya wisatawan. Antrian bergerak agak lambat, karena setiap pembeli tiket difoto terlebih dahulu dan menunjukkan paspor, dengan membayar 37 dolar per tiket. Tiket langsung dicetak dengan foto pembeli terpampang di dalam tiket. Dalam tiket disebutkan, 2 dolar penjualan tiket didonasikan untuk Rumah Sakit Anak Kantha Bopha di Kamboja.

Setelah membeli tiket kami langsung berangkat menuju Angkor Wat. Sekitar 1 km dari tempat pembelian tiket, semua kendaraan yang menuju Angkot Wat harus berhenti untuk pemeriksaan tiket. Saya tidak perlu turun dari Tuk-tuk untuk karena petugas yang mendatangi untuk melihat tiket. Ada banyak petugas yang memeriksa – kebanyakan wanita, sehingga proses pemeriksaan berlangsung cepat. Setelah dinyatakan oke, Tuk-tuk bergerak lagi.

Jalan menuju Angkor Wat beraspal mulus dan lurus. Di kiri kanan berdiri pohon-pohon besar yang terjaga dengan baik. Tidak lama kemudian saya melihat sebuah danau yang tenang, dengan pulau yang penuh pohon-pohon besar di tengah-tengahnya. Hari sudah mulai agak terang. Setelah berbelok ke kiri, kemudian ke kanan lagi, kami sampai di tempat parkir. Banyak kendaraan terpakir di sana.

“Saya tunggu di sini. Angkor Wat ada di sana,” kata Charon sambil menunjuk ke sebuah bangunan siluet di tengah “pulau”.

Banyak wisatawan menuju ke “pulau” tempat Angkor Wat berada. Banyak pemadu wisata menawarkan diri, tarifnya 7 dolar, tapi saya tidak memakai jasa mereka. Lebih bebas bergerak sendiri, meski pun tidak memahami sejarah dan cerita di balik kemegahan Angkor Wat.

Saya mengeluarkan kamera, untuk memotret bayangan bagian depan Angkor Wat dari seberang. Setelah itu saya menyeberang jembatan menuju komplek Angkor Wat. Jembatan untuk pengunjung Angkor Wat merupakan jembatan mengapung (floating brigde) yang terbuat dari semacam kubus-kubus plastik yang dirangkai, dengan lebar 3 meter dan panjang 5meter. Itu karena jalan asli yang dibuat oleh pembuat Angkor Wat sedang direnovasi dan tertutup.

Di ujung jembatan adalah halaman depan Angkor Wat dan bagian bangunan yang megah. Panjangnya dari ujung ke ujung mungkin 100 meter. Ada tiga pintu gerbang untuk memasuki candi yang dibangun oleh Raja Suryavarman II pada abad ke XII itu. Dari pintu gerbang itu sudah terlihat sebuah koridor jalan memanjang, di kiri kanannya terdapat lapangan berumput dan kolam yang dipenuhi bunga teratai dan bangunan-bangunan yang lebih kecil.

Setelah memotret dari berbagai sudut di bagian depan candi, saya turun ke tanah lapang sebelah kanan, dekat bangunan canti yang kecil. Di ujung kolam sebelah kanan sudah berkumpul wisatawan yang masing-masing memegang kamera atau telepon genggam mereka, untuk mengabadikan mahatari yang perlahan bergerak naik mulai dari bawah hingga melewati ketiga bagian tertinggi Angkor Wat. Saya juga berhenti di situ untuk mengambil gambar.

Dari sana saya berjalan mengikuti jalan setapak yang ada di sebelah bangunan utama candi. Ada seekor kuda yang terlentang di bawah pohon. Kelihatannya sedang sakit. Ketika beberapa wisatawan mendekatinya, kuda itu bangun, tetapi tetap duduk.

Saya bergerak ke dekat sebelah kiri bangunan utama, lalu mendekati pembatas batu (balustrade) berbentuk ular kobra berkepala 7 memanjang yang sudah patah-patah di beberapa bagian. Dari sana mengambil gambar dengan angle berlawanan dari pengambil pertama yang melihat bayangan siluet candi ketika matahari mulai terbit.

Dari situ terlihat betapa besarnya Kompleks Angkot Wat. Dari balustrade tempat saya berdiri hingga ke pintu gerbang saja mungkin jaraknya 150 meter. Belum lagi jika ditambah dengan jalan yang melewati danau buatan di depan.

Saya berjalan ke kolam sebelah kanan, melewati koridor dan tangga menuju bangunan utama. Dari tepi kolam sebelah kanan saya memotret lagi bangunan candi kecil bagian kanan di kejauhan dengan latar depan teratai yang sedang berbunga.

Koridor yang menghubungkan bagian depan dengan pusat bangunan Angkor Wat. (Foto: HW)

Setelah memotret saya berjalan lagi menelusuri pinggir kolam, hingga tiba di bagian ujung yang penuh pohon sengon yang rindang. Di bawah pohon-pohon itu terdapat kios-kios penjual minuman, kelapa muda dan souvenir. Di halaman kios di susun bangku-bangku plastik yang jumlahnya lebih dari 100 buah. Saya memotret sebentar aktivitas pada pedagang dan wisatawan yang lalulalang.

Sisi kiri / kanan Angkor Wat, koridor dengan dinding penuh relief (Foto: HW)

Di ujung kios ternyata ada jalan masuk menuju bangunan utama Angkor Wat dengan tangga batu. Saya naik dari situ dan mulai memasuki bagian kanan bangunan utama Angkor Wat. Tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang wisatawan dari mancanegara. Dari fisiknya mereka datang dari berbagai-bagai bangsa di dunia: Ada wisatawan Eropa, wisatawan dari Asia Timur, Asia Selatan, bahkan dari Afrika.

Dinding kanan Angkor Wat dipenuhi oleh relief yang menggambarkan peperangan. Di samping dinding ada koridor menuju bagian tengah dan belakang bangunan. Di ujungnya terdapat lorong ke kiri dan kanan. Ke kiri menuju luar bangunan, menghadap hutan yang penuh pohon-pohon sengon besar. Rindang dan teduh. Ke kanan menuju pusat bangunan Angkor Wat yang menjulang.

Bagian tengah Angkor Wat dengan salah satu bagian tertinggi. (Foto; HW)p

Sebelum turun dari bagian kanan bangunan menuju bangunan puncak, ada lorong kecil yang terdapat patung-patung Budha. Sayang hampir semua patung telah kehilangan kepalanya. Sama seperti kasus di Candi Borobudur yang banyak patung Budha-nya kehilangan kepala.

Untuk menjaga agar tidak terjadi pencurian dan vandalisme, hampir di setiap sudut Angkor Wat ada petugas pengawas berseragam biru muda (atas) dan tua (bawah). Kasus pengunjung yang melakukan swafoto di Puncak Borobudur dekat Patung Utama Budha mungkin tidak akan terjadi jika pengelola Borobudur juga menempatkan petugas seperti di situs-situs kuno di Kamboja.

Pengunjung bisa naik ke puncak bangunan pusat Angkor Wat yang memiliki ketinggian sekitar 30 meter – dengan cungkupnya mungkin sekitar 40 meter – dengan menaiki tanggal buatan yang dibuat dari kayu dan besi penyangga. Memang banyak tangga buatan di Angkor Wat, karena tangga asli dari batu terlalu curam, licin atau sudah rusak.

Kondisi Angkor Wat sendiri memang sudah mulai rusak di sana-sini. Selain faktor manusia, juga faktor alam. Banyak tiang penyangga yang mulai bergeser atau patah. Dinding-dinding bangunannya juga banyak yang pecah atau terkelupas. Jenis bebatuan yang digunakan untuk membangun Angkor Wat atau candi-candi lain di Kamboja nampaknya lebih rapuh dibandingkan dengan batu-batu candi di Indonesia.

Banyak patung yang kehilangan kepala. (Foto: HW)

Saya tidak naik ke bagian utama Angkor Wat. Karena untuk naik jumlahnya dibatasi sehingga harus antri. Saya lebih suka memotret ke bagian-bagian lain, sehingga tidak terasa batere kamera drop. Saya tidak memiliki batere kamera cadangan, sehingga tidak bisa memotret untuk obyek wisata lain yang akan saya datangi di Kota Tua Angkor Thom.

Setelah batere kamera drop saya tidak semangat lagi untuk menelusuri bagian lain Angkor Wat. Apalagi kalau melihat candi ini dibangun simetris. Artinya bagian kanan dan kiri sama saja. Saya menyimpulkan cukup melihat bagian kanan, karena di kiri mungkin sama.

Pukul 10.00 saya meninggalkan bangunan utama Angkor Wat. Saya ke luar melewati bagian kanan yang terdapat kios-kios penjual minuman dan souvenir. Di belakang kios itu terdapat bangunan besar dan sebuah vihara, serta toilet umum untuk pengunjung. Untuk masuk toilet harus bayar R-1000 (seribu Riel, setara dengan Rp.3.300,-).

Saya menemui Charon di tempat parkir. Setelah membeli dua botol air mineral seharga 2 dolar (26 ribu). Kami berangkat. “Kita ke Angkor Thom,” kata Charon.

Jarak Angkor Thom sekitar 3 kilometer dari Angkor Wat. Melewati hutan-hutan dengan pepohonan besar yang terjaga. Di depan Pintu Gerbang Selatan (South Gate), Charon menghentikan Tuk-tuknya. “Kalau mau foto-foto dulu turun di sini. Nanti setelah itu kita baru masuk ke Angkor Thom,” kata Charon.

Gerbang Selatan adalah gerbang utama untuk masuk ke Angkor Thom, sebuah kota tua yang berisi beberapa candi besar. Gerbang Selatan adalah sebuah gerbang batu yang di atasnya berupa bangunan berbentuk kepala manusia, seperti dalam film Tom Ryder. Sebelum memasuki Pintu Gerbang Selatan, pengunjung harus melewati sebuah jembatan yang dikiri – kannya berjajar patung Budha setengah badan.

Ternyata batere kamera yang sudah merah masih bisa memotret beberapa shoot di Pintu Gerbang Selatan. Tetapi udara sangat panas, sehingga hasil gambar kurang maksimal. Dari sana masuk ke bagian dalam Kota Tua Angkor Thom.

Angkor Thom adalah reruntuhan kompleks ibukota Kerajaan Khmer kuno di Kamboja. Angkor Thom meliputi bagian tengah kompleks kota kuno Angkor. Ibukota ini didirikan oleh Raja Jayawarman VII, mencangkup kawasan seluas 9 Km2.

Di komplek Angkor Thom terdapat beberapa candi yang besar. Masing-masing memiliki keuninkan sendiri seperti Candi Bayon bagian-bagian cungkupnya berbentuk wajah manusia berukuran besar dengan tinggi lebih dari 20 meter. Candi ini sudah rusak di beberapa bagian, beberapa cungkup harus disangga dengan besi dan kayu-kayu keras agar tidak runtuh.

Begitu banyak candi yang bisa dimasuki dengan keunikan arsktekturnya. Ini tidak akan habis untuk didatangi dalam sehari. Di sini banyak wisatawan yang datang berkelompok. Mereka dipandu oleh pemandu wisata resmi berseragam. Dari bahasa yang digunakan, bisa diketahui dari mana saja wisatawan berasal. Kementerian Pariwisata Kamboja telah menyiapkan pemandu wisata yang bisa melayani turis dari manapun.

Wisatawan naik ke bagian tertinggi Angkor Wat, (Foto: HW)

Memasuki tiga candi dan naik ke bagian-bagiannya yang tinggi, rasanya seperti naik gunung. Apalagi sejak pagi saya belum sarapan. Badan lemas, lapar dan haus.

Dari candi terakhir dekat Bayon, Charon akan mengajak saya ke Ta Phrom, candi tempat syuting film Tomb Raider berlangsung. Tetapi fisik rasanya tak mampu lagi. Kalau dihitung, sudah belasan kilometer berjalan kaki menelusuri candi demi candi dan menaiki bagian-bagian atasnya.

Perut terasa sangat lapar. Saya mengatakan kepada Charon harus menemukan rumah makan. Katanya di dekat candi Takeo ada rumah makan. Setelah berputar sebentar melewati Ta Prhom, Gerbang Kaki Gajah dan tempat lain, kami tiba di depan candi Takeo. Charon menunjukkan sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan. Kelihatanya sepi. Seorang perempuan muda mendekati sambil tertawa, menyapa dengan bahasa Khmer. Saya tidak paham. Tetapi melihat situasi di rumah makan itu saya tidak tertarik, dan meminta Charon untuk membawa saya kembali ke penginapan. Saya hanya melihat Candi Takeo yang sedang direnovasi dari kejauhan.

Tuk-tuk yang dikemudikan Charon kembali ke arah kota Siem Reap, melewati jalan lurus yang penuh pepohohan besar di kiri kanan. Kami sempat menemui beberapa ekor monyet bermain di tengah jalan. Anak-anak monyet bercengkerama tanpa memperdulikan kendaraan yang lewat. Kamera saya sudah tidak bisa digunakan lagi. Kurang dari satu jam, kami sudah sampai di penginapan. Setelah membayar 17 dolar kepada Charon, saya langsung masuk kafe yang ada di penginapan, memesan makanan dan segelas kopi, seharga 5 dolar. (Bersambung)

Share This: