Jalan-Jalan ke Kamboja: Sisi Lain Siem Reap (Bagian V)

Seorang lelaki memberikan derma kepada seorang pengemis dekat kios bunga khas Kamboja. (Foto: HW)
_

Wihara di Siem Reap (Foto:HW)Sebenarnya masih banyak destinasi wisata di Kamboja, terutama Siem Reap yang belum saya datangi. Antara lain kampung terapung di Danau Tonle Sap, Musium Perang, Musium Killing Field dan lain-lain. Semuanya menarik untuk didatangi, apalagi Musium Perang dan Musium Killing Field, yang terkait dengan sejarah Kamboja modern.

Sayang saya sudah lebih dulu memesan tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta pada tanggal 3 Agustus 2017, melalui Pnom Penh. Sehingga tidak mungkin tinggal lebih lama lagi di Kamboja, kecuali merelakan tiket hangus, dan mengabaikan begitu banyak tanggungjawab yang sudah menunggu.

Saya harus berangkat dari Siem Riep pukul 12.15 waktu setempat, sesuai tiket bus yang sudah saya bayar. Pukul 06.00 saya sudah bangun. Masih ada waktu 6 jam di Siem Reap. Saya sudah minta kepada Charon agar menjemput pukul 11.00 untuk mengantar saya ke agen bus Mey Hong.

Pagi hari setelah mandi saya ke luar penginapan untuk melihat-lihat Pusat Kota Siem Reap sambil membawa kamera. Saya akan memotret apa pun yang menarik dari Siem Reap.

Wanita penjual burung pipit di Taman Siem Reap (Foto: HW)

Saya menyeberang jalan, lalu menelusuri trotoar. Pedagang kaki lima penjual mie – menggunakan mobil – sudah buka. Terlihat ada beberapa orang sarapan. Sebetulnya ingin juga menikmati makanan panas di pagi hari. Tetapi entah kenapa, makanan di Kamboja tidak menggugah selera.

Saya berhenti sebentar di depan Hotal Angkor, mengarahkan kamera ke perampatan Siem Reap, di mana terdapat traffic ligt (lampu merah) dekat sebuah bank dan minimarket. Kendaraan sudah mulai ramai, terutama sepeda motor dan tuk-tuk.

Seorang pengasong souvenir di Taman Siem Reap. (Foto: HW)

Dari sana saya terus berjalan menuju taman, menyeberangi perempatan yang saya potret sebelumnya. Beberapa puluh meter dari minimarket saya melewati sebuah jalan kecil yang banyak kios penjual bunga. Bunga potong di Kamboja bentuknya khas, seperti bunga tulip belum mekar. Beberapa orang sedang membeli bunga itu. Di pojokan, tidak jauh dari kios bunga, ada penjual burung-burung pipit dan kura-kura kecil dalam wadah plastik – belakangan saya baru tahu bahwa bunga, burung pipit dan kura-kura itu penting untuk upacara keagamaan.

Dalam kepercayaan agama Budha dan Kong Hu Cu, melepas burung-burung merupakan salah satu syarat untuk membuang sial. Dan memelihara kura-kura untuk mendatangkan keuntungan. Bunga penting sebagai persembahan untuk Dewa.

Saya berjalan lagi beberapa puluh meter hingga sampai ke Taman. Seorang wanita sedang menyapu jalan tanpa memperdulikan kendaraan yang lalu lalang. Tidak jauh dari tempatnya menyapu terdapat Rumah Kediaman Raja Kamboja Norodom Sihanouk, yang sekarang menjadi tempat kediaman pewarisnya, Pangeran Norodom Sihamoni. Selain memiliki istana di Pnom Penh, keluarga raja memiliki tempat kediaman di Siem Reap. Ketika terjadi kekacauan politik saat Khmer Merah berkuasa, Norodom Sihanouk tinggal di Siem Reap.

Rumah keluarga kerajaan sangat besar, dan luas hingga ke bagian belakang. Ada beberapa penjaga duduk-duduk dekat pintu gerbang yang tertutup. Dari jalan terlihat bangunan bagian belakang yang tak kalah besar dengan bangunan di depannya. Untuk mencapai ke sana dari pintu gerbang, ada jalan yang bisa dilewati kendaraan dengan pohon-pohon besar di sekelilingnya.

Tempat tinggal keluarga kerajaan di Siem Reap juga menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan. Ketika saya berada di sana, banyak wisatawan yang datang berombongan dengan bus, tengah melihat-lihat rumah keluarga raja dari Taman, didampingi oleh pemandu wisata yang terus memberi keterangan. Tidak ada wisatawan yang terlihat masuk ke rumah keluarga kerajaan.

Siem Reap merupakan kota tujuan utama wisatawan ke Kamboja. Karena di provinsi inilah terdapat obyek wisata menarik seperti Angkor Wat, kota kuno Angkor Thom dan Danau Tonle Sap. Tahun 2014 saja terdapat 2,3 juta wisatawan datang ke sini. Bandingkan dengan Kota Yogya yang hanya didatangi oleh….wisatawan dan Borobudur hanya disinggahi oleh 350 ribu wisatawan.

“Nanti kalau selesai musim hujan, musim liburan, Siem Reap penuh dengan turis. Hotel-hotel besar dan penginapan penuh. Jadi kalau mau ke sini harus pesan dulu,” kata pemilik penginapan.

Wisatawan yang datang ke Siem Reap, jauh lebih banyak dari penduduk kota atau provinsi itu sendiri. Pariwisata telah menghidupkan Siem Reap. Kota ini dipenuhi oleh hotel-hotel dan penginapan, mulai dari kelas bintang lima, hingga penginapan yang hanya menempati ruko-ruko. Pariwisata Siem Reap dikelola secara professional oleh pemerintah. Hiburan malam hidup di kota ini. Masyarakat ikut menikmati.

Taman di depan rumah Keluarga Sihanouk luasnya kira-kira 2 hektar. Di tengahnya ada pohon-pohon kamboja, kolam yang di sudut-sudutnya terdapat patung singa, tanaman perdu dan rerumputan. Di pinggir taman menjulang pohon-pohon tinggi dan besar, membuat taman terlindung dari matahari dan terasa sejuk. Banyak burung yang mencari makan bermain-main bebas di taman. Jenisnya seperti Jalak Suren. Di Indonesia burung seperti ini sudah hampir habis dijaring para pemburu, karena laku diperjual belikan (di Indonesia burung apa saja ditangkap dan diperjualbelikan).

Siapa saja datang ke taman itu. Saya melihat ada seorang pelajar wanita yang sedang tekun membaca buku. Di bangku taman yang panjang ada sepasang muda-muda sedang masyuk. Pengemis dan pedagang asongan juga tak ketinggalan.

Taman tersebut dikelilingi oleh jalan. Di sebelah Barat terdapat jalan utama tempat kendaraan dari arah Pnom Penh memutar. Di sebelah Timur terdapat jalan kecil, dimana terdapat wihara Budha di pojok, tempat masyarakat dan wisatawan beragama Budha bersembahyang. Tidak sedikit wisatawan yang datang mampir ke wihara ini untuk sembahyang dan memberi persembahan.

Saya mencoba masuk ke wihara yang tidak terlalu besar itu. Di bagian depan
yang terbuka ada wadah besar tempat menampung pasir untuk menancapkan hio setelah pengunjung sembahyang. Di sebelah kirinya ada semacam tempat untuk menyerahkan persembahan (uang) yang dijaga oleh seorang pemuda.

Naik beberapa anak tangga masuk ke bagian tengah wihara di mana terdapat lilin-lilin besar berwarna kuning berdiri menyala. Pengunjung yang masuk harus membuka alas kaki. Di bagian kiri wihara ada grup musik tradisional sedang memainkan musik, dan disampingnya ada beberapa orang sedang bersila sambil berdoa.

Bagian utama wihara adalah sebuah ruangan gelap dan ada sepasang patung hitang bercahaya kuning di sisi kepalanya. Di depan patung itulah umat yang datang bersembahyang, lalu ke luar lagi untuk menancapkan hio menyala yang digunakannya untuk sembahyang.

Yang menarik, di sana ada tiga orang jurufoto amatir. Mereka dengan sigap mengabadikan pengunjung yang datang, dan menjual hasil fotonya kepada mereka. Pantas ketika saya masuk membawa kamera, mereka melihat dengan tatapan tajam.

Selain taman yang berada di depan rumah keluarga kerajaan, ada taman lain yang tidak terlalu indah di sebelahnya, yang dekat dengan kios-kios bunga dan penjual burung maupun kura-kura. Di Taman ini terdapat Pusat Informasi Pariwisata Siem Reap. Ada petugas yang bekerja di ruangan yang rapih dan bersih.

Di tengah jalan besar dekat penjual bunga terdapat sebuah pura yang terdapat patung Budha di tengah-tengahnya. Ketika saya memasuki Siem Reap dua hari sebelumnya, pura kecil itu cukup ramai dengan orang yang bersembahyang. Pagi itu juga terlihat ada dua orang gadis sedang membakar hio dan bersembahyang.

Setelah meletakkan hio dan memasukan uang persembahan di kantog yang terdapat di bagian depan patung Budha, kedua gadis itu pergi. Tidak lama kemudian seorang pemuda gempal mengambil uang persembahan yang ada di kantong bagian depan Patung Budha. Ia memberikan selembar kepada seorang pengemis perempuan yang duduk di belakang pura bersama anaknya, sambil tersenyum.

Tidak jauh dari kantor pariwisata itu, terdapat sebuah pohon rimbun. Di bawahnya terdapat beberapa bangun panjang yang terbuat dari semen. Seorang lelaki – mungkin tunawisma – sedang tertidur pulas di sana. Dua orang biksu muda juga sedang duduk-duduk dibangku sebelahnya.

Usai mengelilingi taman dan memotret saya berjalan kami kembali ke penginapan. Di tengah jalan, di sebelah minimarket, ada dua tunawisma anak sedang tertidur pulas di kursi panjang di sebelah yang biasa digunakan untuk menikmati kopi atau makanan. Tangan anak tunawisma lelaki masih menggenggam bereapa uang Riel. Beberapa lembar di antaranya terlihat berserakan di tanah. Karena tertidur dia tidak sadar jika uang dalam genggamannya terlepas.

Pukul 11.00 saya meninggalkan hotel menuju agen bus Mey Hong. Tepat pukul 12.15 bus berangkat menuju Pnom Penh. Dua jam kemudian berhenti di Kompong Thom. Saya turun dari bus. Makan di rumah makan Arunas. Nasi dan sayuran seperti capcay yang diberi ikan. Harganya 5 dolar. Tidak lama, bus berangkat lagi. Di pemberhentian kedua saya ikut turun, tapi Cuma ke toilet. Bus memang berhenti tidak lama di situ, dan kembali melanjutkan perjalanan ke Pnom Penh.

Sampai di Pnom Penh pukul 18.20. Saya langsung ke bandara. Malam itu saya sengaja tidak tidur di hotel. Ingin melewati malam di bandara untuk menyelesaikan beberapa naskah dan menikmati kopi. Ternyata Bandara Pnom Penh harus ditutup pukul 24.00. Semua penumpang di ruang tunggu diminta je luar oleh petugas. Pukul 04.00 baru buka lagi. Pk.08.30 pesawat yang saya tumpangi lepas landas dari Bandara Pnom Penh menuju Kuala Lumpur. Saya transit di Bandara KLCC2 sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. (Selesai)

Share This: