Jalan-jalan ke Kamboja: Tuk-tuk dan Dolar. (Bagian I).

_

Norodom Sihanouk, Kamboja, Pnom Penh, Angkor Wat dan Danau Tonle Sap adalah nama-nama yang sudah penulis ketahui sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Norodom Sihanouk adalah Raja Kamboja, sebuah negara yang dulu dikenal dengan sebutan Khmer. Pnom Penh ibukota Kamboja di mana istana raja berada. Angkor Wat, Angkor Thom adalah nama-nama candi yang menjadi sejarah mahakarya Bangsa Khmer. Seperti Borobudur dan candi-candi lainya di Jawa. Dan Tonle Sap adalah nama danau besar di Kamboja. Itulah sejarah tentang nama-nama terkenal dalam pelajaran sejarah di bangku Sekolah Dasar.

Ketika mendapat kesempatan untuk meliput Festival Film Asia Pasifik ke-57 yang berlangsung di Pnom Penh, penulis sengaja mempepanjang masa kedatangan di Kamboja (extend) selama 3 hari, karena ingin mengunjungi Angkor Wat dan kompleks kota kuno Angkor Thom. Referensi lengkap tentang nama terkenal itu saat ini dengan mudah diperoleh. Tinggal buka internet cerita lengkap tentang Angkor Wat, Angkor Thom dan sekitarnya, sudah bisa diperoleh.

Seorang wisatawan berjalan menuju Pintu Gerbang Selatan (South Gate) Angkor Thom. (Foto: HW)

Terus terang, meliput FFAP bukan sesuatu yang istimewa bagi penulis, karena ini bukan yang pertama kali, tetapi yang ketiga. Yang pertama tahun 1992 di Seoul Korea Selatan, dan kedua tahun 1994 di Sydney Australia. Kali ini di Pnom Penh, dengan delegasi jauh lebih sedikit dan hanya pemberian award karena untuk acara pembukaan yang meriah, seleksi film-film dan film market diadakan di Hanzhou, China. Jadi, melihat-lihat Pnom Penh dan Kompleks candi-candi dan kota tua di Siem Reap, menjadi agenda pribadi yang penting.

Maka ketika anggota delegasi kembali di Indonesia, penulis memutuskan tinggal di Kamboja, dan berangkat ke Siem Reap, tempat Angkor Wat dan candi-candi lain berada — seorang diri.

Bersama beberapa orang anggota Delegasi Indonesia yang akan menghadiri FFAP ke-57 – di antaranya dari Pusat Pengembangan Film dan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) – penulis berangkat pukul 06.30 menggunakan pesawat Air Asia. Karena tidak ada penerbangan langsung ke Pnom Penh, harus ganti pesawat perusahaan yang sama di Kuala Lumpur, dan sempat transit selama 5 jam di Bandara Sepang.

Pesawat yang kami tumpangi tiba di Pnom Penh pukul 16.30. Langit masih cerah. Meskipun ada bagian-bagian yang baru dibangun, bandara ini masih terlihat sederhana. Tidak terlalu padat. Wisatawan yang berkunjung ke Pnom Penh tidak terlalu ramai, karena tujuan wisata utama Kamboja adalah Kota Siem Reap, di Provinsi Siem Reap, tempat Angkor Wat dan candi-candi lainnya berada. Danau Tonle Sap yang terkenal dengan Kampung Apung, berada tidak jauh dari Kota Siem Reap.

Karena wisatawan tidak terlalu ramai, suasana bandara juga tidak terlalu ramai oleh kendaraan umum. Hanya ada beberapa buah taksi yang parkir, dan tuk-tuk, moda transportasi paling terkenal di Kamboja.
Tuk-tuk adalah sejenis becak yang dihela dengan sepeda motor. Sepeda motor berada di depan, hanya tersisa setengahnya untuk pengendara, sedang bagian belakanganya dimodifikasi, dibuat as untuk sambungan kereta yang bentuknya seperti bendi atau kereta kuda milik bangsawan, tetapi ukurannya lebih kecil. Ada dua bangku panjang saling berhadapan yang bisa diduduki 4 orang, masing-masing dua di depan, dan dua belakang. Kalau berbadan kecil bisa dimuati 6 penumpang.

Tuk tuk merupakan jenis angkutan yang sangat dominan di Pnom Penh. Di semua ruas jalan bisa ditemui Tuk-tuk. Bahkan di Bandara Pnom Penh saja kendaraan ini seperti mendapat keistinewaan. Langsung bisa masuk gratis ke dekat pintu masuk penumpang, dan tidak perlu membayar parkir.Tuk tuk bisa menjadi Raja Jalanan di Pnom Penh. Kendaraan ini bisa berada di mana saja. Di jalan pun tuk-tuk bisa tiba-tiba memotong dari arah berlawanan.

Pengemudi tuk-tuk membawa kendaraan membelah kepadatan jalan di Pnom Penh. (Foto: HW)

Lalu lintas di Pnom Penh sangat semrawut. Jalan-jalan di Pnom Penh tidak terlalu lebar, banyak perempatan tanpa lampu, dan kendaraan sangat banyak. Mayoritas yang melintas adalah tuk tuk, sepeda motor dan kendaraan pribadi. Cukup mengherankan banyak kendaraan mewah bersliweran, terutama merek Audi dan Lexus.

Pengemudi sepeda motor di Pnom Penh lebih urakan dibanding pesepeda motor di Jakarta. Di perempatan-perempatan – jarang traffic light di Pnom Penh – sepeda motor sering merangsek untuk mendapatkan jalan, bila jalan padat.

Pnom Penh merupakan kota yang sedang tumbuh. Banyak gedung-gedung pencakar langit yang sedang dibangun. Tidak terlalu banyak mal. Satu-satunya mal besar adalah Aeon, yang ukurannya tidak terlalu besar dan masih baru. Entah kalau gedung-gedung tinggi itu jadi, apakah nanti akan ada mal di bawahnya.

Pnom Penh nampaknya sudah mempersiapkan diri untuk berkembang. Sebuah kawasan baru telah disiapkan. Tanah kosong seluas ribuan hektar di pinggiran Pnom Penh. Alat-alat berat sibuk bekerja, ada apartemen dan perumahan mewah mewah yang telah berdiri, dan kapling-kapling siap bangun. Hotel Garden City, tempat seluruh delegasi dan acara Awarding FFAP berlangsung, juga terletak di kawasan ini, bersebelahan dengan lapangan golf. Letaknya sekitar 15 kilometer dari kota. Saking jauhnya, kami merasa berada di lokasi pengasingan karena tidak bisa ke mana-mana, kecuali dengan fasilitas antar jemput yang disediakan pihak panitia. Itu pun waktunya dibatasi.

“Orang gila yang bikin hotel di sini. Siapa mau datang? Jangan-jangan ini dibangun untuk pencucian uang,” kata T. Simon, salah satu anggota delegasi Indonesia.

Dua kali panitia memberi kesempatan anggota delegasi Indonesia untuk ke luar “kamp konsentrasi”. Yakni hari pertama setelah kedatangan, dan hari kedua. Hari pertama kami langsung diajak melihat-lihat Istana Raja, yang juga menjadi salah satu tujuan wisata di Pnom Penh. Istana yang menghasap ke Sungai Mekong itu terkihat indah. Ada foto besar Ibu Suri Kerajaan di depan, yang mencerminkan sosok wanita cantik, anggun dan terkesan datang dari kalangan atas. Di depan istana ada lapangan besar yang selalu dipenuhi wisatawan untuk berfoto, dengan latar belakang istana.

Sayang kami tidak masuk istana, karena hari itu tertutup untuk kunjungan wisatawan. Istana hanya dibuka untuk wisatawan hari Sabtu dan Minggu.

Dari sana kami diajak ke Monumen Norodom Sihanouk dan Menumen Kemerdekaan di Jakan Preah Norodom Sihanouk Boulevard. Di jalan itulah, dekat bundaran yang terdapat Monumen Kemerdekaan, terdalat rumah Kediaman Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. Ukuran dan arsitektur rumahnya seperti rumah-rumah di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Tidak lama kami berada di sana, pemandu wisata langsung mengajak pergi ke tempat lain. Memang tak mungkin berlama-lama di sana selain untuk foto-foto, karena cuaca di Pnom Penh pada siang hari sangat panas, berkisar antara 32 – 35 derajat Celcius.

Oleh pemandu wisata kami dibawa ke sebuan restoran besar. Diberikan voucher untuk makan. Di dalam pengunjung sudah penuh. Kami sudah disediakan tempat khusus di sebuah ruangan untuk tamu-tamu VIP. Tamu-tamu yang datang ke restoran kebanyakan kelompok-kelompok. Itu terlihat dari susunan meja-meja panjang yang terpisah-pisah, meski ada pula meja kecil dengan dua kursi untuk tamu yang datang perorangan. Di pojok restoran ada bar yang menyediakan berbagai jenis minuman beralkohol, mulai dari bir, wine, hingga minuman berkasar alkohol tinggi.

Makanan disediakan dengan sistem buffet (prasmanan). Pengunjung bisa mengambil dan memilih sendiri makanan, mulai dari salad, sayuran matang, umbi-umbian, kentang, nasi, berbagai jenis olehan ikan – umumnya ikan air tawar, udang dan kerang – dan juga berbagai jenis daging. Bagi umat muslim harus jeli dalam memilih, karena ada daging babi (pork), baik yang diberi bumbu maupun di panggang. Sebagai cuci mulut disediakan buah-buahan segar dan es buah maupun cendol yang rasanya enak.

Panggang ikan dan daging: jangan salah pilih. (Foto: HW)

Mencari makanan halal bagi umat muslim di Kamboja, Pnom Penh khususnya, memang sangat sulit. Semua rumah makan, bahkan yang kaki lima sekali pun, selalu menyediakan daging babi. Biasanya menu yang disediakan adalah daging ayam, sapi, daging babi dan ikan air tawar. Soal ikan, terutama ikan air tawar di Pnom Penh, tidak diragukan lagi kesegarannya. Dijamin tidak pake formalin dan masih segar. Bahkan ikan-ikan air tawar yang dijual dipasar masih hidup. Ikan gabus air tawarnya besar-besar.

Usai makan kami dibawa ke Central Market, pasar yang dibangun pada tahun 1935 oleh arsitek Perancis Jean Debouis dan mulai digunakan 2 tahun kemudian. Pasar ini terbagi dua. Yang di depan dengan bentuk seperti pasar tradisional di Indonesia, menjual aneka tekstil seperti pakaian dan kain-kain khas Kamboja seperti scaarf kotak-kotak maupun yang terbuat dari sutra, serta berbagai jenis cendera mata.

Di gedung yang dibangun oleh Jean Debouis merupakan pusat penjualan batu mulia khas Kamboja. Batu-batunya indah, berbagai jenis. Entah batu alam asli atau buatan, sulit membedakannya jika bukan ahli. Ada pedagang yang memiliki alat elektronik yang katanya bisa mendeteksi keahlian batu. Jika alat itu ditekan mengeluarkan bunyi, berarti batunya asli. Kami terpaksa percaya.

Central Market, pusat penjualan batu mulia di Pnom Penh, Kamboja, transaksi umumnya menggunakan dolar (Foto: HW)

Semua barang yang dijual di Pasar Sentral dibandrol dengan harga dolar, meski pun kita bisa membayar dengan Riel, mata uang Kamboja yang nilainya sama dengan Rp.3,3 untuk satu Riel. Tetapi membayar dengan dolar lebih umum dan disukai di Pnom Penh. Mungkin juga di kota-kota lain di Kamboja. Jadi kalau ingin ke Kamboja, tidak perlu repot menukar rupiah kita dengan riel. Cukup bawa dollar, tapi banyakin pecahan kecil satu hingga sepuluh dolar.

Pedagang pakaian dan souvenir di Central Market: pakai dolar (Foto: HW)

Tidak hanya di pasar- pasar besar, pedagang kaki lima hingg tuk-tuk pun akan membuka harga dengan dolar. Kalau ada riel, mereka juga mau setelah dikonversi dengan harga dolar yang ditawarkan. Ingat, dalam membayar sesuatu jangan terpaku dengan kecilnya angka dolar, misalnya 2 tau 5 dolar. Sebab kalau dikurs dengan Rupiah, nilainya gede banget.

Belanja di Central Market, atau umumnya di Kamboja, bila tidak dituliskan harganya, kita harus pandai-pandai menawar. Sebab batu mulia yang ditawarkan US$ 30 (30 dolar) bila ditawar bisa diperolah dengan harga 10 dolar, atau yang 100 dolar bisa ditawar jadi 60 dolar. Begitu juga dengan gantungan kunci, scaarf, dompet atau souvenir lain. Intinya, belanja di Kamboja kita harus berani menawar. Kalau perlu adu kuat mental dengan pedagangnya.

Share This: