Jalan Jalan ke Cilacap, “Singapore of Java”

Salah satu sudut di Benteng Pendem. (Foto: HW)
_

Kabupaten Cilacap adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Kota Cilacap. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas di utara, Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Kebumen di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Ciamis, Kota Banjar dan Kabupaten Pangandaran (Jawa Barat) di sebelah Barat.           

Berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat, Cilacap merupakan daerah pertemuan budaya Jawa Banyumasan dengan Budaya Sunda (Priangan Timur). Pelan tapi pasti, Kabupaten Cilacap yang terletak di ujung paling Barat bagian Selatan pulau Jawa, terus menggeliat. Kota pesisir yang selama ini lebih dikenal dengan penjara untuk tahanan kelas berat di Pulau Nusa Kambangan ini, terus bebenah diri menjadi kota industri dan pariwisata.

Cilacap sendiri diproyeksikan oleh pemerintah untuk menjadi “Singapore of Java”, kota yang memiliki pelabuhan berstandar internasional yang dapat menyamai Singapura. Untuk menuju ke arah sana, mulai tahun 2018 pemerintah akan membangun jalan tol Selatan Cilacap – Yogyakarta dan Cilacap – Ciamis, yang semuanya mengarah ke Pelabuhan Cilacap, satu-satunya pelabuhan di Pulau Jawa yang menghadap ke Samudera Hindia.

Pelabuhan itu sementara ini dimanfaatkan oleh Pertamina untuk menurunkan minyak mentah bagi kilang-kilang yang ada di Cilacap, dan pengiriman sapi-sapi ke seluruh Pulau Jawa. Investasi besar juga akan masuk Cilacap. Salah satunya dari perusahan minyak asal Saudi Arabia Aramco, yang berkomitmen membuat kilang minyak di Cilacap. Dan pemerintah Kabupaten Cilacap sudah menyiapkan tanah seluas 32 hektar.

Kolam yang menglilingi Benteng Pendem sebagai bagian dari pertahanan. (Foto: HW)

Cilacap ternyata bukan hanya Nusa Kambangan dan kilang-kilang minyak Pertamina. Kota kecil yang menghadap ke Samudera Hindia ini, memiliki obyek wisata menarik dan panorama indah di beberapa tempat. Salah satu obyek wisata paling terkenal di kota ini adalah Benteng Pendem, benteng peninggalan Belanda yang sampai saat ini masih utuh, dan dijadikan obyek wisata sejarah.

Benteng Pendem Cilacap (bahasa Belanda: Kustbatterij op de Landtong te Cilacap), adalah benteng peninggalan Belanda di pesisir pantai Teluk Penyu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang dibangun pada tahun 1861. Bangunan ini merupakan bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun di area seluas 6,5 hektare secara bertahap selama 18 tahun, dari tahun 1861 hingga 1879. Benteng pendem sempat tertutup tanah pesisir pantai dan tidak terurus. Benteng ini kemudian ditemukan dan mulai digali pemerintah Cilacap tahun 1986.                                 

Benteng Pendem dahulunya merupakan markas pertahanan tentara Belanda di Cilacap, Jawa Tengah yang didesain oleh arsitek Belanda. Benteng ini difungsikan untuk menahan serangan yang datang dari arah laut bersama dengan Benteng Karang Bolong, Benteng Klinker dan Benteng Cepiring. Benteng Pendem digunakan hingga tahun 1942 Ketika perang melawan pasukan Jepang, benteng ini berhasil dikuasai Jepang.

Masyarakat memancing di Teluk Penyu, Cilacap. (Foto: HW)

Tahun 1945, Jepang meninggalkan benteng ini karena kota Hiroshima dan Nagsaki dibom oleh sekutu; sehingga benteng ini diambil alih oleh TNI Banteng Loreng Kesatuan Jawa Tengah. Dalam penguasaan TNI, benteng ini digunakan para pejuang kemerdekaan berlatih perang dan pendaratan laut

Bangunan Benteng Pendem terdiri dari beberapa ruang yang masih kokoh hingga kini. Namun, sejak awal ditemukan, ruangan dalam benteng belum sepenuhnya diketahui. Ruangan dalam benteng yang umum diketahui terdiri dari barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, klinik pengobatan, gudang senjata, gudang mesiu, ruang penjara, dapur, ruang perwira, dan ruang peluru. Ada pula yang menyatakan bahwa dalam benteng tersebut terdapat terowongan menuju benteng-benteng lain dan sejumlah gua di Pulau Nusakambangan Namun, hingga kini hal itu belum sepenuhnya terbukti.

 

Benteng Karang Bolong

Tidak hanya di daratan Pulau Jawa, Belanda juga membangun sebuah benteng yang lebih kecil di Pulau Nusakambangan, yang kini diberinama Benteng Karang Bolong.

Untuk dapat sampai ke Benteng Karang Bolong digunakan perahu motor nelayan dari pantai Teluk Penyu menuju kawasan Pulau Nusakambangan. Tidak sampai 15 menit sudah tiba di dermaga Nusakambangan bagian timur melewati Selat Segara Anakan. Sepanjang perjalanan menuju dermaga tersebut saya melihat dua buah kapal minyak yang sedang merapat serta hijaunya Nusakambangan.

Gerbang Benteng Karang Bolong hampir tidak terlihat karena tertutup akar pohon. Sehingga dari jauh mirip sebuah kastil yang angker dan menyeramkan untuk didekati.
Bangunanya berbentuk huruf U terbalik , seperti arsitektur pintu yang ada di Museum Bahari. Diantara bata-bata yang tersusun dan sangat tebal ini ada sebuah celah yang sengaja dibuat sebagai ventilasi udara. Luas benteng ini sekitar 6.000M2 dan digunakan oleh tentara Belanda sebagai benteng pertahanan. Menurut pemandunya sih dibangun sekitar tahun 1855.

Ada juga sebuah meriam yang sangat panjang di dekat pantai. Oleh sebab itu Benteng Karang Bolong juga disebut sebagai benteng alteri sebab segala perlengkapan perang dan ruang-ruang penyimpanan amunisi tersedia di dalam benteng.

Pemandangan lain yang dapat dilihat tidak jauh dari Benteng Karang Bolong adalah pantainya. Pesona pantai laut selatan dengan pasir putih dan karang-karang yang ada ditepi pantai. Menurut pemandunya, konon terdapat lorong bawah tanah yang menghubungkan benteng ini dengan Benteng Pendem denganmelewati dasar laut.

 

Teluk Penyu

 Teluk Penyu merupakan kawasan pantai di selatan Kabupaten Cilacap, utamanya sepanjang pesisir dari Kecamatan Cilacap Selatan yang lokasinya tidak langsung berhubungan dengan Samudera India atau Indonesia karena dikelilingi oleh Pulau Nusakambangan.

Pantai Teluk Penyu berjarak 2 Km ke arah timur dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Cilacap dan dapat dijangkau dengan kendaraan umum dan pribadi. Teluk ini cukup memiliki pemandangan yang indah dengan luas kira-kira 14 ha.

Area Teluk Penyu yang biasa dikunjungi oleh para pengunjung (utamanya penduduk dan wisatawan lokal) biasanya mulai dari pelabuhan perikanan Samudera dari hingga bibir pantai yang biasa disebut Areal 70 (merujuk kepada sebutan masyarakat sekitar terhadap kawasan tangki-tangki penimbunan bahan bakar dari PTPertamina UP IV) dimana para wisatawan atau pengunjung bisa melihat langsung Pulau Nusakambangan dari bibir pantai.

Terdapat beraneka kerajinan kerang dan souvenir lainnya yang dijual di sepanjang koridor jalan masuk lokasi wisata ini. Kawasan wisata ini ramai dikunjungi pada waktu pagi dan sore hari oleh para penduduk Kota Cilacap sedangkan pada siang hari lebih banyak dikunjungi oleh para wisatawan lokal, utamanya pada masa-masa libur sekolah atau pada hari-hari besar/libur. Di sekitar Teluk Penyu terdapat benteng yang disebut Benteng Pendem.

Di sepanjang pantai yang tertata rapi, terutama dari arah pintu masuk area wisata Pantai Teluk Penyu, banyak berdiri kios-kios/warung yang menjajakan ikan asin kering serta ikan-ikan segar/basah yang siap langsung dibakar atau dimasak sesuai dengan keinginan pengunjung.

Pulau Nusakambangan

Nusakambangan dikenal sebagai Pulau untuk penjahat kelas kakap. Padahal Nusakambangan juga potensial untuk dikembangkan sebagai obyek wisata, karena di sini ada pantai yang indah, dan Benteng Karang Bolong.

Ketinggian pulau adalah antara 0 – 50 meter diatas permukaan laut. Di sebelah selatan,barat dan timur berbatasan dengan Samudra Hindia dan sebelah utara berbatasan dengan Selat Segara Anakan, Bengawan Donan, muara sungai Citanduy, dan kota Cilacap. Selain sebagai kawasan cagar alam, Pulau Nusakambangan juga terdapat perkebunan milik warga seperti kelapa.

Nusakambangan tidak berpenduduk kecuali disekitar dermaganya itupun hanya warung-warung makanan dibuka untuk kunjungan wisata atau sebagai tempat singgah penduduk yang akan mengambil panennya. Letak Benteng Karang Bolong berada di bagian timur Nusakambangan.Sedangkan penjara yang ada di Nusakambangan letaknya berada dibagian barat pulau. Dahulu, para napi yang ada diNusakambangan dipekerjakan untuk berkebun disini juga membangun rel kereta api dari Cilacap menuju Jogja.

Cilacap nampaknya sedang mempersiapkan diri menjadi kota masa depan. Sambil menunggu dibangunnya jalan tol yang menghubungkan kota ini dengan Yogyakarta atau Ciamis, Cilacap terus bebenah diri. Hotel-hotel dan tempat-tempat hiburan sebagai penunjang pariwisata juga mulai marak dibangun. Di Cilacap tidak sulit menemukan singing hall seperti karaoke. Baru-baru ini Bupati Cilacap baru saja meresmikan sebuah bioskop 4 layar bernama “Dakota Cinema” yang tidak kalah dengan bioskop di kota-kota besar namanya. Investasi di sektor lain juga akan menyusul.

Kamis (20/4/2017) bioskop yang sudah dibuka sejak seminggu lalu itu diresmikan oleh Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji.  Menurut Bupati, hadirnya bioskop di Cilacap sangat berarti bagi masyarakat. Pertama sebagai sarana hiburan, kedua sebagai sumber informasi, dan ketiga untuk menghidupkan kota ini.“Saya atas nama pemerintah mengapresiasi setinggi-tingginya dengan adanya bioskop di Cilacap ini,” kata Bupati Tatto.

Kehadiran bioskop merupakan sarana penting untuk menunjang Cilacap menjadi Kota Industri dan Pariwisata. Cilacap sendiri diproyeksikan oleh pemerintah untuk menjadi “Singapore of Java”, kota yang memiliki pelabuhan berstandar internasional yang dapat menyamai Singapura.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: