Jangan Iseng Merekam Film di Bioskop, Bisa Masuk Penjara

Kiri-kanan: Angga Dwimas Sasongko, Chico Jerikho, Stephen Jenner, Ari Juliano dan Fauzan Zidni ketika memberi keterangan kepada wartawan di Kassablanka XXI Lounge Jakarta, Selasa (14/3) sore. (Foto:HW)
_

Gadget yang dilengkapi kamera beresolusi tinggi, apalagi bisa membuat rekaman audiovisual, memang menyenangkan untuk digunakan. Apa saja direkam, mulai dari aktivitas pribadi, hewan kesayangan, maupun moment-moment penting yang terjadi di sekitar kita.

Tetapi salah merekam bisa berakibat fatal, walau pun tindakan itu hanya perbuatan iseng belaka. Merekam film di bioskop, walau cuma beberapa menit dan tidak untuk mencari keuntungan ekonomi, termasuk kategori pembajakan, dan pelakunya dapat dipidana, karena telah melanggar Undang-undang Hak Cipta.

Menurut sutradara film  Angga Dwimas Sasongko, sekarang muncul fenomena baru yang cukup meresahkan, yaitu pembajakan untuk mengejar poularitas lewat media sosial seperti Bigolive, Instagramstory, Snapchat dan lain sebagainya.

“Sekarang banyak anak-anak muda yang iseng merekam film yang sedang main di bioskop, lalu diaplod ke media sosial. Itu jelas kesalahan. Mereka melakukannya memang bukan untuk keuntungan ekonomi, tetapi perbuatan itu telah merugikan orang-orang seperti kami, para kreator,” kata Angga dalam peluncuran iklan anti pembajakan di Kassablanka XXI Lounge Jakarta, Selasa (14/3) sore.

Angga adalah sutradara yang membuat film anti pembajakan tersebut, dengan bintang utama aktor Chico Jerikho dan Tio Pakusadewo. Selain peluncuran iklan anti pembajakan, acara itu juga sekaligus deklarasi anti pembajakan. Hadir pula perwakilan dari Motion Pictures Association (MPA), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi), Direktur Penyelidikan dan Penyelesaian Sengketa Kemenkumham, serta perwakilan dari tiga jaringan bioskop, yani XXI, CGV Cinemas dan Cinemaxxx.

Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual dan Regulasi Bekraf, Ari Juliano mengatakan, Indonesia memiliki potensi ekonomi kreatif yang sangat besar. Karena itu harus dijaga ekosistemnya dan menjaga lingkungan berkembangnya, agar potensi ekonomi kreatif dapat terus berkembang secara maksimal. Salah satunya adalah dengan memastikan ekosistem ekonomi kreatif bebas dari pembajakan.

“Sejak tahun 2011 kami telah mengajak pelaku ekonomi kreatif untuk melawan pembajakan. Tetapi sejak adanya Undang-undang Hak Cipta, kita tidak boleh melakukan tindakan jika tidak ada pengaduan. Oleh karena itu kami bersama Aprofi membuat pengaduan. Selain itu kami juga ingin mengedukasi masyarakat dengan membuat iklan anti pembajakan, dengan harapan masyarakat menghargai karya orsinil,” kata Ari.

Ketua Umum APROFI Fauzan Zidni memaparkan, APROFI dan MPA yang bergabung dalam tim antipembajakan di bawah koordinasi Bekraf telah melaporkan 176 website yang melanggar hak cipta ke Kemenkumham dan telah dilakukan peblokiran oleh Kemenkominfo pada 13 Januari 2017.

APROFI yang beranggotakan 40 produser film Indonesia dan MPA merupakan representasi 6 studio besar Hollywood, sebelumnya telah mengirimkan surat aduan sebanyak tiga kali, dan berhasil menutup akses terhadap 85 situs yang memiliki konten film Indonesia dan film asing secara ilegal.

“Kita harus memberikan kesempatan kepada situs-situs legal seperti Netflix, Iflix, HOOQ, VIU dan lainnya untuk tumbuh secara bisnis, karena menjadi peluang baru bagi produser seperti kami. Sumber distribusi ini menjadi pendapatan tambahan yang bisa digunakan untuk membiayai investasi film baru,” kata Fauzan.

Fauzan menambahkan, selama tiga bulan terkahir, APROFI telah melakukan investigasi ke pusat-pusat perbelanjaan di beberapa kota besar. Hasilnya ditemukan 38 dari 100 mal di Jakarta, 3 ari 10 mal di Bogor, 4 dari 8 mal di Jogja, 4 dari 4 mal di Makassar, dan 13 dari 14 mal di Surabaya masih menjual DVD bajakan.

“Kami akan menempuh jalur hukum bagi pusat perbelanjaan yang masih membiarkan terjadinya penjualan DVD bajakan. Jalur hukum juga akan kami tempuh terhadap situs situs ilegal yang berulangkali mengganti alamat, setelah ditutup aksesnya oleh Kemenkominfo,” tandas Fauzan.

Vice Presiden Communication MPA Stephen Jenner mengatakan, setiap penikmat film di Indonesia mempunyai kontribusi terhadap masa depan industri film di Indonesia, dengan memilih menonton film di bioskop, televisi atau menonton melalui video online resmi.

“MPA mendukung kegiatan kampanye antipembajakan. Kita berharap kampanye ini berhasil mengetuk kesadaran penikmat film di seluruh Indonesia,” katanya.

Dukungan juga datang dari tiga jaringan bioskop, XXI, CGV Cinemas dan Cinemaxxx. Dukungan yang diberikan adalah dengan ikut membantu pengawasan terhadap penggunaan telepon genggam di bioskop.

Menurut pihak bioskop, terutama CGV Cinemas dan Cinemaxxx, di dalam semua gedung bioskopnya dipasangi CCTV jenis night hawk yang bisa melihat dalam kegelapan. Selain itu setiap 15 – 30 detik ada petugas yang berkeliling memperhatikan pengunjung yang memakai HP. Jika kedapatan merekam film yang sedang main, penonton tersebut akan diminta menghentikan aktivitasnya atau menghapus gambar yang sudah direkam. Petugas proyeksionis yang berada ada di atas untuk memutar film juga ikut mengawasi aktivitas penonton di bawah.

Direktur Penyidikan dan Penyelesaian Sengketa Kemenkumham Salmon Pardede mengungkapkan, pembajakan akhir-akhir ini semakin menggila, karena bukan saja film dan lagu yang dibajak, tetapi sudah sampai obat-obatan.

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan teman-teman yang memiliki hak cipta. Selama ini kami bekerja sama dengan APROFI untuk menutup situs-situs ilegal,” kata Pardede.

Pembajakan merupakan masalah klasik yang tak pernah bisa diselesaikan di Indonesia. Anak-anak muda yang menggunakan gadgetnya untuk merekam gambar di bioskop, kemudian mengaplod di media sosial untuk kesenangan atau popularitas, tentu bukan kelompok yang paling berbahaya, meski perbuatan mereka salah.

Pertanyaannya, siapa yang telah merekam film-film secara utuh dan kemudian diedarkan? Mungkinkan hanya dengan telepon genggam diperoleh film yang utuh dengan kualitas yang bagus, seperti banyak ditemui dalam film-film bajakan baik dalam bentuk DVD maupun di internet? Dan itu sudah terjadi sejak jaman kuda gigit besi, hingga menjelang lebaran kuda ini.

Share This: