Jay Subiyakto: Tak Ada Yang Nawarin Bikin Film

Jay Subiyakto (Foto: HW)
_

Tahun 98 produser film Mira Lesmana pernah mengumpulkan 13 orang sineas, untuk mengajak mereka membuat film, guna membangkitkan perfilman Indonesia yang sedang terpuruk. Salah satu di antaranya adalah Jay Subiyakto yang dikenal sebagai pembuat video klip.

“Setelah itu semua membuat film, dan sampai sekarang sudah beberapa judul. Cuma saya saja yang belum. Entah kenapa saya takut bikin film. Bayangan saya susah banget. Dan memang enggak ada yang nawarin saya,” kata Jay usai pemutaran film dokumenter Banda, The Dark Forgotten Trail, di Plaza Indonesia Jakarta, Rabu (26/7/2017) siang.

Banda The Dark Forgotten Trail adalah film dokumenter tentang Jalur Rempah Nusantara pada tahun 1500’an dimana pada masa itu, harga pala di Eropa jauh lebih mahal dari harga emas. Monopoli bangsa Arab dan Perang Salib membuat Eropa mencari pulau penghasil rempah.

Kepulauan Banda yang tersebar di Laut Banda dan sekarang masuk Provinsi Maluku dengan kota terbesarnya Bandanaira, pada waktu itu merupakan satu-satunya tempat dimana pohon pala tumbuh. Kepulauan Banda pun diperebutkan, bahkan Belanda rela melepas Nieuw Amsterdam (sekarang Manhattan, New York) demi bisa mengusir Inggris dari Banda.

17 tahun Jay tidak membuat film, sampai suatu saat dihubungi oleh pemikik Lifelike Pictures, Sheila Timothy (Lala). Ia sempat bimbang untuk menerima tawaran itu.

“Terus terang, ketika ngobrol sama Lala saya masih bingung mau ngapain. Tapi sok yakin aja. Barulah setelah di meja editing kepikir untuk ngeberesin,” tutur Jay.

Sebagai pencinta fotografi, Banda dengan segala pernak-perniknya tentu menjadi obyek yang menarik untuk direkam. Jay bersama timnya seperti tak mau berhenti bekerja. Hasilnya adalah kumpulan gambar sebanyak 6 tera (6.000 gigabyte).

Persoalannya kemudian adalah bagaimana memilih gambar-gambar yang ada di dalam harddisc itu.

“Saya bilang sama Aline Jusria (editor), saya aja yang milih-milih gambarnya, karena saya suka gambar-gambar yang enggak fokus atau bergerak. Ternyata luar biasa berat. Saya harus bekerja selama dua minggu hanya untuk memilih gambar, kadang sampe tidur di kursi, bangun lagi, kerja, tidur lagi,” tutur alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia itu.

Bagi Jay, film ini seperti kolase dari teman-temannya. Ia mengandeng penulis skenario Irfan Ramli yang terlibat dalam beberapa film seperti Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Surat dari Praha, dan Filosofi Kopi 2: Ben & Jody itu.

Editing ditangani tiga orang sekaligus, yakni Aline Jusria, Cundra Setiabudhi, dan M Syauqi. Animasi pun dipercayakan Jay kepada SMK Raden Umar Said Kudus atau RUS Animation. Aktor Reza Rahadian dan Ario Bayu membacakan narasi.

Film ini akan beredar di bioskop, dan Dirjen Kebudyaan Hilmar Farid, berjanji akan jadi tontonan wajib pelajar.

Share This: