Jelang Imlek, Wihara dan Klenteng Ramai Dikunjungi

Seorang wanita tengah sembahyang menyambut Imlek Tahun 2017 di Wihara Dharma Bakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta, Jum'at (27/1) malam. (Foto-foto: HW)
_

Menjelang perayaan Imlek Tahun 2017, rumah-rumah peribadatan umat Khong Hu Cu dan Budha di berbagai daerah di Indonesia

, mulai diramaikan oleh masyarakat Tionghoa yang memeluk agama / kepercayaan tersebut.

Wihara Dharma Bakti yang terletak di Kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta, misalnya, Jum’at (27/1) malam sudah ramai dikunjungi masyarakat Tionghoa yang ingin sembahyang. Asap hio dan dupa memenuhi hampir seluruh ruangan, dan lilin-lilin besar menerangi bagian dalam wihara yang pada tahun lalu terbakar itu.

Peribadatan umat Khong Hu Cu / Budha di Wihara merupakan moment menarik bagi para fotografer untuk mengabadikan peristiwa yang datang setahun sekali tersebut. Sementara di halaman depan, di pinggir jalan masuk ke Wihara, puluhan pencari rejeki sudah menggelar tikar menunggu hari baik. Biasanya mereka yang akan sembahyang juga membagi-bagi angpao kepada kepada “pencari rejeki” tersebut.

Tahun Baru Imlek 2017 akan jatuh pada tanggal 28 Januari 2017. Menurut penanggalan Tionghua, Tahun Baru Imlek 2568 menandai dimulainya Tahun Ayam, atau tepatnya Tahun Ayam Api.

Tahun Ayam Api, yang dimulai dari tanggal 28 Januari 2017 (Tahun Baru Imlek China atau Festival Musim Semi China) dan berlangsung sampai dengan tanggal 15 Februari 2018. Elemen Api (Yin) menjadi unsur dominan di tahun ini yang menunjukkan kehangatan serta ketenangan batin di dalam menjalin hubungan antar pribadi dan keluarga. 

Selama ini masyarakat sulit membedakan antara Wihara dan Klenteng. Wihara adalah tempat peribadatan Umat Budha, sedangkan Klenteng tempat peribadatan Umat Khong Hu Cu. Sekilas tatacara peribadatan keduanya hampir sama. Hanya penganutnya yang bisa membedakan.

Ketidaktahuan masyarakat untuk membedakan Klenteng dengan Wihara, menurut Rick Mathew dalam tulisannya di Kompasiana tanggal 15 Desember 2009, disebabkan oleh peraturan pelarangan segala sesuatu yang mengandung Budaya Tionghoa pada masa Order Baru.

Pada masa ini, Umat Tri Dharma beserta tempat ibadah Klenteng menghadapi ‘paksaan halus’ untuk memeluk salah satu dari 5 agama yang ada. Sebagian besar dari mereka akhirnya mengaku sebagai Buddhist atau beragama Buddha. Klenteng pun berganti nama menjadi Vihara supaya tidak dibredel rezim masa itu.***

 

 

 

 

 

Share This: