Jika Pulau Komodo Ditutup, Wisatawan Masih Bisa Melihat Komodo di Pulau Rinca

Acara promosi Labuan Bajo di Car Free Day Jakarta, Minggu (1/3/2019) - Foro: HW
_

Isu rencana penutupan Pulau Komodo bagi wisatawan asing, cukup mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Banyan wisatawan yang beranggapan, jika Pulau Komodo ditutup, mereka tidak bisa melihat komodo, hewan purba yang habitat aslinya hanya ada di NTT. Padahal komodo tidak hanya berada di Pulau Komodo, tetapi juga ada di Pulau Rinca.

“Kalau hanya ingin melihat komodo kan cuma sekali, dan itu tidak hanya terdapat di Pulau Komodo, tetapi ada juga di Pulau Rinca. Jadi penutupan Pulau Komodo sebenarnya tidak mempengaruhi kepuasan wisatawan. Selain itu kita juga punya Manta Point, Pink Beach, kita juga punya sunset yang bagus, Batu Cermin, dan lain-lain,” kata Direktur Utama Badan Otorita Pelaksana (BOP) Labuan Bajo, Shana Fatina.

Shana menyampaikan itu di tengah acara “Ada Labuan Bajo di Car Free Day Jakarta”, yang berlangsung di kawasan Park and Ride Thamrin 10 Jakarta, Minggu (3/3) pagi. Berbagai atraksi menarik yang dipersembahkan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini mewarnai acara tersebut.

Menurut Shana, isu penutupan Pulau Komodo sangat berpengaruh bagi kunjungan wisata ke Labuan Bajo. Banyak agen perjalanan dan Kedubes RI di luar negeri mempertanyakan hal itu.

“Kami jelaskan itu belun ada. Tapi namanya market kalau ada isu begitu pasti berpengaruh. Makanya ke depan kalau ada hal seperti kini kita bicarakan,” tandasnya.

Yang perlu dilakukan sekarang, Shana menanbahkan, dalah mempublikasikan hasil rapat dengan Pemda NTT, untuk menentukan study apakah perlu dilakukan penutupan Pulau Komodo atau tidak.

“Kalau pun ditutup kemungkinan tahun 2020, bukan tahun ini. Jadi tahun ini tidak ada perubahan, baik harga maupun status Pulau Komodo,” katanya.

Guna menarik wisatawan agar, BOP Labuan Bajo mempromosikan lokasi baru yang berbeda dari sebelumnya, selain itu mengusahakan agar lebih banyak flight ke Labuan Bajo, juga kapal-kapal Pelni dari Surabaya ke Labuan Bajo.

Kepala Bidang Pemasaran Area II Rergional III Kemenpar, Hendry Noviardi menjelaskan, pihaknya sangat mendukung optimalisasi kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Labuan Bajo. Antara lain dengan promosi melalui berbagai media dan kegiatan, termasuk membuat acara Car Free Day di Jakarta.

Kemenpar juga berusaha menjaga kenyananan wisatawan, dan mendengar keluhan-keluhan mereka, terutana mengenai kebersihan di Taman NasionalmLabuan Bajo.

“Wisatawan mengeluhkan kebersihan. Kita sosialisasi ke masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan. Umumnya masyarakat mendukung karena dampak pariwisata ke Labian Bajo juga terasa bagi mereka,” kata Hendry.

Secara khusus Labuan Bajo memang terus diangkat oleh Kemenpar. Selain menjadi daerah super prioritas pariwisata, Labuan Bajo memiliki pesona yang tak diragukan. Saking indahnya Labuan Bajo pun menjadi rujukan liburan banyak publik figur dunia. Sebut saja penyanyi Katy Perry, artis Gwyneth Paltrow, pesepakbola dunia Arjen Robben, Marco Llorente, juga Chris Smalling. Rider Motto GP Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo serta yang lainnya.

“Labuan Bajo ini sangat fenomenal dan spesial. Kami mengundang sahabat, teman, dan saudara untuk datang. Pokoknya program Pesona Labuan Bajo ini jangan sampai terlewatkan. Kami pun mempromosikannya disalah satu program talkshow iRadio pada 26 Februari kemarin,” ungkap Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi dan Media Kemenpar Don Kardono.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pun menyambut baik digelarnya Pesona Labuan Bajo di CFD Jakarta. Ia mengatakan, tiga kunci utama dalam pengembangan pariwisata adalah 3A (Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas). Semua itu harus didukung dengan promosi yang baik.

“Sasaran kota Jakarta bukan saja wisatawan mancanegara (wisman) tetapi juga wisatawan nusantara (wisnus). Jakarta merupakan pangsa pasar potensial pergerakan wisatawan nusantara. Apalagi saat ini telah banyak penerbangan langsung dari Jakarta ke Labuan Bajo. Ini yang harus kita dorong,” terang Menpar.

Saat wisatawan terbesar yang datang ke Labuan Bajo berasal dari Australia, kemudian dari Amerika, Eropa dan Asia Tenggara.

 

 

Share This: