Jose Purnomo, Kembali ke Titik Awal

Jose Purnomo (Foto: HW)
_

Sutradara Jose Purnomo merupakan orang yang sangat berjasa bagi perfilman Indonesia, walau tidak semua orang tahu kontribusinya yang besar bagi perfilman Indonesia. Karena dialah, salah satunya, yang berhasil membangkitkan film Indonesia dari tidur panjangnya.

Tahun 2001, setelah film Indonesia mati suri, Jose bersama Rizal Mathovani datang membawa film horor berjudul Jailangkung. Film ini tercatat telah ditonton 1,3 juta penonton di layar bioskop setelah dirilis, dengan total penonton sampai sekarang 5,7 juta penonton, dan meraup pendapatan sekitar lima miliar rupiah. Sebuah jumlah yang sangat besar waktu itu.

Sukses film ini dianggap telah menghidupkan film horor Indonesia dan film nasional pada umumnya. Sukses Jailangkung ketika itu langsung mendorong produser lain membuat film, sehingga film Indonesia terus berkembang sampai sekarang.

Kini setalah 16 tahun, Jose kembali membuat film Jailangkung, dan kembali berduet dengan Rizal Mathovani. Ia seperti  kembali ke titik awal, meski tentu saja ada banyak perdebadaan antara film pertama yang telah menjadi lokomitif, dengan film ramake yang akan dirilis pada lebaran 2017 mendatang.

“Ini merupakan film yang ingin saya buat jika saya kembali membuat film layar lebar,” kata Jose dalam acara Press Junket film Jailangkung versi baru di Plaza Senayan Jakarta, Senin (30/5/2017).

Jose mambawa segudang persyaratan bagi produser yang bersedia mebiayai film terbarunya, antara lain dalam memenuhi kebutuhan artistik. Keinginan itu lalu ditangkap oleh Creenplay dan Legacy Pictures. Jose dan Rizal tidak mendapatkan kendala berarti untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dalam membuat film.

Namun dalam wawancara one on one, Jose menegaskan bahwa faktor terpenting dalam sebuah film adalah cerita. Sebagus apa pun art yang dibuat, dan setenar apa pun aktor yang membintanginya, tanpa cerita yang bagus, sebuah film tidak akan menjadi bagus. Itulah sebabnya, menurut mantan suami anggota ABThree Lusy Rahmawati ini cerita dalam film terbarunya Jailangkung dibuat sedemikian rupa agar menjadi menarik.

“Cerita ini penting. Dalam film ini ada tarik ulur dari sini. Kompleksitas cerita, itu dulu yang kita utamakan. Ada sesuatu yang harus diikuti penonton,” katanya.

Cerita, tambahnya, akan menjadi faktor penentu dalam sebuah film. Cerita yang bagus juga bisa mengkatrol bintang. Kesialan pemain adalah kalau tidak mendapatkan cerita bagus. Dan itu sering dialami oleh pemain baru. Apalagi ketika sudah jadi film yang dibintanginya tidak mendapatkan promosi bagus karena produser tidak punya uang.

“Kalau pemain bagus, ada cerita yang datang dia tinggal memilih mana yang paling bagus, jadi film dia bagus terus. Itu keunggulan bintang yang sudah tenar. Tapi apakah itu ada koneksitasnya dengan penonton, bahawa film ini jadi laku karena dibintangi si anu, enggak signifikan. Yang dignifikan itu cerita,” papar Jose.

Artistik, menurutnya, juga penting bagi sebuah film. Sampai batas tertentu bahwa art itu harus dibiayai.

“Tapi pada batas tertentu apakah art itu bisa dijual, belum tentu. Tapi kembali pada stand point di mana film adalah cerita. Mau pemainnya se-top mungkin kalau cerita tidak menarik, film itu tidak menarik,” kata sutradara kelahiran 7 Oktober 1967 ini.

Share This: