Jumlah Penonton Film Diharapkan Meningkat Jadi 45 Juta

Kepala Bekraf Triawan Munaf. (Foto: HW)
_

Indonesia merupakan pasar yang besar. Dengan masuknya modal asing, diharapkan kualitas film yang dihasilkan semakin baik, dan pada gilirannya akan menumbuhkan penonton film di dalam negeri. Jika tahun lalu total jumlah penonton 36 juta orang, diharapkan tahun ini meningkat menjadi 45 juta orang.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, ketika memberi sambutan dalam acara syukuran film Wiro Sableng 212 produksi bersama Lifelike Pictures dari Indonesia dan perusahaan film asal Amerika, Fox International Production, di Jakarta, Kamis (9/2) sore.

“Kalau kita bisa bikin film yang tingkatnya internasional di Indonesia, kita akan bisa lempar itu ke dunia. Tapi kalau kita hanya main di lokal dengan keterbatasan modal, kita enggak akan ke mana-mana,” kata Triawan.

Menurut Triawan, untuk meningkatkan jumlah penonton, dibutuhkan lebih dari sekedar co production. Akan tetapi dibutuhkan juga layar-layar bioskop di seluruh Indonesia, karena basis penonton ada di luar kota-kota besar.

“Itu yang belum kita jangkau, supaya film-film seperti Warkop, seperti Wiro Sableng bisa ditonton oleh orang banyak pada waktu bersamaan. Karena film punya masa kadaluarsa, harus hangat ketika di konsumsi, warm, hot, enggak boleh dipanasin lagi. Kalau bioskopnya banyak layarnya banyak bisa langsung dikonsumi. Dan itulah tujuan kita membuka DNI atau Daftar Negatif Investasi untuk bisa pemain asing bisa membuka layar yang banyak, saya udah dapat indikasi itu,” papar Triawan.

Triawan menambahkan, masuknya Fox ke Indonesia adalah salah satu hasil dibukanya investasi film dari luar negeri, yang selama 35 tahun itu dilarang. Dengan dibukanya DNI, pemerintahan menjaring modal modal yang kuat ke indonesia agar biasa pelaku film di dunia berbagi pengalaman dan modalnya.

“Karena indonesia adalah pasar yang baik. Saya tidak bisa membantu lebih dari itu kepada pemain film indonesia selain membuka regulasi yang lebih mendorong, gain changing policies, masalah pajak, masalah ketenagakerjaan. Dulu orang mau syuting di sini masih susah. Harus bolak-bali ke Singapura untuk mengurus itu visanya. Alhamdulillah sekarang pejabat di kementerian terbuka untuk ini,” katanya.***

 

 

 

 

 

Share This: