Ka Pusbang Film: Produksi Film Meningkat, Kesejahteraan Masyarakat Harus Meningkat

Kiri-kanan: Wina Armada, SH, Agung Sentausa dan DR. Mochamad Sobari. (Foto: HW)
_

Peningkatan jumlah produksi film nasional akhir-akhir ini tidak ada artinya jika tidak diikuti oleh meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Karena dengan meningkatnya jumlah produksi, jumlah pekerjanya pun akan bertambah. Jika pekerja makin banyak, berarti jumlah masyarakat yang lebih sejahtera akan bertambah.

Ka Pusbang Film, DR Maman Wijaya.

Kepala Pusat Pengembanhan Perfilman (Pusbang Film) DR. Maman Wijaya menyampaikan hal itu ketika membuka seminar perfilman yang mengusung tema Film Nasional Sebagai Unsur Ketahanan Budaya Bangsa, di PPHUI Kuningan Jakarta, Rabu (24/10/ 2016).

“Harapan kita film makin maju, ketahanan budaya makin kokoh, kesejahteraan masyarakat meningkat,” kata Maman dalam seminar yang diadakan atas kerjasama Organisasi Karyawan dan Televisi (KFT) Indonesia dengan Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm).

Seminar didahului dengan pemutaran film Darah dan Doa karya H. Usmar Ismail.

Seminar menghadirkan pembicara budayawan Mochamad Sobari, pengurus BPI Agung Sentosa dan wartawan film Wina Armada, SA. Staf Kepresidenan Jend. (Purn.) Moeldoko yang rencananya akan menjadi salah satu pembicara, tidak hadir.

Pengurus BPI Agung Santausa dalam memaparkan, saat ini Indonesia memiliki 270 jt penduduk. Namun hanya ada 1700 layar bioskop dengan pertumbuhan 60 layar pertahun. Dari jumlah itu 70 persen ada di Jawa, dan 60 persen di antaranya ada di jabodetabek.

Perkembangan film Indonesia juga cukup menggembirakan, rata-rata per tahun diproduksi lebih dari 100 judul film, dan tahun 2018 ini diperkirakan mencapai 200 judul.

Sementara ini, tahun 2018 jumlah film Indonesia yang ditonton lebih banyak daripada film asing. “Kalau kita bicara ketahanan budaya, orang Indonesia lebih suka nonton film Indonesia dengan konten Indonesia,” kata Agung.

Budayawan Mochamad Sobari mengatakan, Indonesia memiliki modal budaya yang jauh lebih hebat dibandingkan Korea, dan bisa digunakan untuk menjadi konten pembuatan film.

“Film adalah citra kita, potret masyarakat kita, dan wajah kebudayaan kita. Kalau para pembuat film mau melihat sejarah atau budaya kita, itu bisa menjadi modal penting bagi pembuat film,” kata Sobari.

“Kita jangan khawatir dengan film Korea. Kita bisa membuat film lebih hebat,” tambahnya.

Wartawan senior Wina Armada mengemukakan
saat ini Indonesia dijajah oleh Amerika secara ekonomi, melalui film. Indonesia menyediakan karpet merah kepada film-filmHollywood.

Menurut Wina, karena biaya produksinya tinggi, seharusnya pajak film impor juga lebih tinggi, tidak bisa disamakan dengan film Indonesia.

“Kenyataannya sekarang kan film Amerika tiketnya sama dengan film Indonesia. Itu sama saja dengan dumping,” kata Wina.

Agar perfilman Indonesia ke depan lebih baik lagi, pemerintah juga harus memberikan perhatian yang lebih besar kepada perfilman. Salah satunya adalah dengan menaikan kedudukan Kepala Pusbang Film.

“Saat ini kan Kepala Pusbang hanya eselon dua di kementerian. Harusnya eselon satu setara dengan Dirjen. Kalau ditingkatkan, wewemang dan pengaruhnya juga akan beda,” kata Wina.

 

 

 

Share This: