Kacamata John de Rantau dan film “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi”

_

Kacamata memiliki banyak fungsi. Bukan hanya membantu penglihatan (kacamata baca dan mata minus), tetapi juga bisa melindungi mata dari sinar yang kuat, bila berada di luar ruangan.

Tetapi sutradara film John de Rantau juga memakai kacamata hitam di ruangan bioskop dengan cahaya yang nyaris temaram, di bioskop XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta, baru-baru ini. Ada apa John?

“Dengan kacamata ini gua melihat semua yang ada di depan gua jujur dan baik-baik saja. Tetapi kalau kacamata gua lepas, yang terlihat adalah kemunafikan! Kepalsuan,” kata John dalam acara launcing poster film terbarunya Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (DMKM).

DMKM adalah film ketujuh John de Rantau sebagai sutradara. Film keenamnya Wage sebuah epic dengan pahlawan nasional Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya.

Dari sekian banyak film yang telah dibuatnya, menurut John, “DMKM” adalah karya terbaiknya. Dibuat dengan serius memperhatikan berbagai aspek hiburan seperti tari, lagu dan dialog-dialog yang lucu. Oleh karena itu ia meminta agar wartawan mendukung filmnya.

DMKM dibuat berdasarkan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma. Film ini dikemas ke dalam genre komedi satire, yang menurut penulis cerpennya sendiri sebagai sebuah genre baru dalam film Indonesia.

DMDKM dibintangi puluhan aktor-aktris senior seperti Mathias Muchus, Anna Tarigan, Ricki Malau, Jurika Prastika, Yan Widjaya, Inggid Wijanarko, Iwan Gardiawan, Anne J.Cotto, Anisa Sheban, J. Sebastian, dll. Sedang pada wajah muda ada Elvira Devina, Fiki Alman, Kathy, Poppy Asya Azzahra, dll.

Meskipun bergenre komedi, John menegaskan sengaja tidak memakai komedian atau komika, yang belakangan ini bertebaran di berbagai film nasional.

“Saya ingin sesuatu yang beda. Saya tidak mau terjebak dengan pemain yang cenderung mencari efek melucu. Saya tidak mau lucunya dibuat-buat. Makanya disini saya pakai pemain dengan berbagai latar belakang mulai model, kontes kecantikan, aktor lulusan sekolah, aktor-aktris otodidak, penari sampai wartawan,” ujar John.

Menurut John, dirinya tidak ingin menghidangkan film ini dengan gaya ber- olok-olok. Tidak ada gaya slapstick, saya cenderung melakukan pendekatan situasional, semua yang disampaikan bukan dengan cara melucu, melainkan serius, seperti beberapa film terdahulu seperti ‘Kejarlah Daku Kau Kutangkap’ dan ‘Kipas-Kipas Cari Angin’,” bebernya.

Seno Gumira sendiri tidak keberatan dengan apa yang dilakukan John. Baginya, ketika sebuah karya tulis diangkat ke dalam sebuah film, maka ekspresi yang muncul adalah hak prerogative sutradara.

“Saya tidak bisa memvisualisasikan adegan yang ada dalam tulisan saya. Hanya sutradara yang mampu. Kalau itu tidak sesuai dengan imajinasi saya, ya wajar saja. Setelah saya lihat hasilnya, lucu. Membuat saya terpingkal-pingkal,” kata Seno Gumira Ajidarma.

DMKM bercerita tentang sosok Sophia (Elvira Devina) gadis cantik yang bikin heboh kampung Lapak yang dihuni multi etnik, multi karakter. Para suami, termasuk para pemuda, mulai menjadi nakal sejak kehadiran Sophia. Fantasi dan imajinasi seks mereka melambung ketika Sophia menyanyi di kamar mandi yang berakibat mereka melakukan maturbasi bersama.

Akibatnya, para isteri protes karena tidak pernah lagi disentuh oleh suami-suami mereka. Mereka menuntut pak RT (Mathias Muchus) agar Sophia diusir dari kampung.

Namun sejak gadis sexy itu pergi, para suami seperti kehilangan kebahagiaan dan gairah. Mereka semua lemas.

Komedi seks? “Ya, mungkin seperti itu,” aku John De Rantau lagi.

 

Share This: