Kadir Sanggah Tudingan Tak Bisa Melucu Sendiri

Kadir (Foto: HW)
_

Pelawak eks anggota Srimulat, Kadir, menyanggah tudingan pelawak lama angkatannya tidak bisa melawak sendirian. Sanggahan itu disampaikan untuk menjawab pertanyaan wartawan dalam jumpa pers pemutaran trailer film Generasi Kocak 90-an Vs Komika, di Jakarta, Selasa (24/1) siang. Sebelumnya seorang wartawan mengatakan pelawak lama seangkatan Kadir sulit melucu sendirian, karena biasa tampil ramai-ramai dalam sebuah grup, berbeda dengan komika yang bisa tampil sendiri dalam panggung stand-up comedy.

“Saya ini dulu pemain ludruk. Kalau main ludruk itu mesti melawak sendiri. Kalau sekarang kan dibilang stand-up, kalau dulu dibilang nyolo, asal kata solo, sendirian. Jadi setiap mulain kita nyolo, setelah itu beberapa waktu kemudian baru yang lain ke luar. Nah giliran nyolo itu bergantian. Sekarang siapa, besoknya siapa,” tandas Kadir.

Menurut pelawak yang bergabung dalam kelompok ludruk Srimulat ini, di Srimulat setiap pemain dituntut untuk bisa melawak sendiri, pada saat pementasan dimulai. “Kita di Srimulat biasa begitu. Justru pelawak-pelawak muda itu masuk Srimulat tidak bisa. Sebab apa, stand-up komedi itu pakai konsep, sedangkan Srimulat improvisasi.”

Kadir yang lahir di Lumajang, Jawa Timur, 3 September 1951 setamat SMP memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya dan menjadi tukang tarik layar pada tahun 1967. Ia Terlahir dengan nama Mubarak dari ibu keturunan Jawa dan ayah keturunan .Arab

Mengawali karier melawaknya dengan bergabung dengan grup lawak Srimulat.. Pada tahun 1986, Kadir meninggalkan Srimulat dan membentuk Grup Merdeka bersama Basuki, Timbul, Nurbuat dan Rohana namun tidak bertahan lama. Selepas itu, bersama Basuki dan Timbul, Kadir membentuk Grup Lawak Batik (yang merupakan akronim dari Basuki, Timbul dan Kadir) namun hanya bertahan 3 tahun grup ini pun bubar.

Logat Madura merupakan ciri khas nya, meskipun bukan orang Madura tetapi pada masa kecilnya di Bondowoso Kadir pernah hidup di antara orang-orang Madura. Ciri logat ini mulai dilakukan pada tahun 1987 saat ia membintangi film Cintaku di Rumah Susun. Sutradara film tersebut, Nya Abbas Akup mengerti Logat Madura dan beberapa kali mengkoreksi Kadir apabila terdapat kesalahan pada logat nya.

Film inilah yang mempertemukannya dengan rekan melawaknya Doyok. Bersama Doyok, Ia membintangi beberapa judul film layar lebar nasional meskipun sebagai pemeran pembantu. Duet ini akhirnya mendapatkan peran utama untuk pertama kalinya pada film Ikut-Ikutan (1990). Setelah film nasional meredup, ia beralih ke dunia sinetron***

 

Share This: