Kain Tenun dan Songket Incar Pasar Timur Tengah

_

Perlahan tapi pasti, kain tenun dan songket buatan pengrajin Indonesia, mulai merambah pasar internasional. Setelah diperkenalkan di negara-negara maju di Eropa dan Amerika, kini jenis kain yang dikerjakan secara tradisional itu mengincar pasar di negara-negara Timur Tengah.

“Kami sudah menandatangani kerjasama dengan Arab Saudi dan beberapa negara lain di Timur Tengah, untuk memasukan kain tenun dan songket, yang akan mewarnai fashion masyarakat di negara-negara Timur Tengah,” kata pemilik rumah mode Marsya House, Dr. Anna Mariana, SH, MBA, dalam acara talkshow bertajuk Tren dan Fashion Outlook Lifestyle Pasar Timur Tengah di Balai Kartini Jakarta, Jum’at (10/5/2019) sore.

Acara talkshow yang diadakan untuk mengisi event Forum Bisnis Indonesia International Islamic Fair 2019 itu juga menghadirkan pembicara Deputi Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata, M. Tazbir, dengan moderator Teti Rompis.

Menurut Anna Mariana, peluang untuk memasuki pasar Timur Tengah bagi tekstil Indonesia, terutama kain tenun dan songket, semakin jelas terlihat sejak ia bertemu dengan pihak Kerajaan Arab Saudi, dan perwakilan negara-negara Timur Tengah lainnya.

Pertemuan itu berlangsung ketika Anna Mariana melaksanakan umroh bersama keluarganya, beberapa bulan lalu. Dalam kesempatan itu Anna juga menawarkan untuk membuatkan Kiswah (kain penutup) Ka’bah kepada pihak kerajaan, dan mendapat sambutan positif.

Sebagai negara yang memiliki penduduk mayoritas Islam, Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah lainnya, tidak sembarangan dalam memberikan ijin bagi corak tekstil yang bisa dipakai oleh warganya. Pakaian-pakaian dengan motif mahluk hidup, katanya, tidak dibolehkan dipakai di sana.

“Negara-negara di Timur Tengah kan punya aturan berdasarkan hukum Islam. Rasulullah juga sudah menegaskan pakaian apa saja dan jenisnya yang boleh dipakai. Yang memiliki corak mahluk hidup, apakah manusia atau hewan, dilarang di sana. Makanya saya berkewajiban untuk mengingatkan kepada pengrajin agar mengikitu ketentuan itu jika ingin masuk pasar Timur Tengah,” ujar Anna.

Potensi besar.

Deputi Pariwisata Halal Kemenpar M Tazbir mengatakan, pemerintah sangat serius dalam mengembangkan pariwisata halal. Mengenai peluang kain tenun dan songket Indonesia masuk ke Timur Tengah, menurut Tazbir, sangat terbuka lebar.

Pemerintah, lanjutnya akan mendukung pengusaha atau pengrajin yang ingin memasuki Pasar Timur Tengah.

“Pemerintah punya kantor-kantor di luar negeri yang siap membantu. Di setiap Kedubes kita ada Indonesia Trade Fashion Center. Di jakarta sudah ada Fashion Center, mereka bisa membantu mengembangkan usaha masyarakat di bidang fashion. Ada asuransinya juga,” kata Tazbir.

Saat ini Indonesia bukan saja menjadi pasar yang besar, tetapi juga pemain terbesar di bidang pakaian muslim. Hanya saja untuk memasuki pasar luar negeri, kualitasnya harus diperhatikan.

“Sekarang banyak orang asing yang kawin dengan orang lokal agar mereka bisa mengontrol kualitas kain yang dibuat pengrajin. Tahun 2024 Indoneaia akan menjadi embrio destinasi fashion muslim dunia. Jadi sangat besar peluang kita,” kata Ketua Dekranasda DKI ini.

Tazbir juga mengingatkan agar dalam bisnis tenun dan songket diberlakukan aturan main yang adil, agar pengusaha dan pengrajin juga sama-sama menikmati hasilnya.

Anna Mariana mengatakan tidak ada halangan besar dalam mengejar target pemerintah untuk tahun 2024 tersebut.

Sebagai desainer dan pelopor lahirnya tenun dan songket baru Nusantara, Anna mengaku sangat siap memasuki era terdepan dari Modest Fashion Indonesia. Bersama butiknya House of Marsya, ia bahkan sudah berulang kali melakukan penjualan busana karya etniknya ke beberapa negara di Timur Tengah.

 

 

 

 

 

 

Share This: