Kasus STT Setia: Tommy Sihotang Duga Ada Kriminalisasi Terhadap Kliennya.

Terdakwa Ermawaty Simbolon (kiri) dan Matheus Mangentang. (Foto: HW)
_

Pengacara terkenal Tommy Sihotang SH menduga ada kriminalisasi terhadap kliennya, Rektor Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar (STT Setia) Matheus Mangentang dan Direktur Ernawaty Simbolon.

Keduanya saat ini menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, atas tuduhan pemalsuan ijazah. Sebelumnya kedua terdakwa ditahan oleh Jaksa selama beberapa hari, lalu diubah statusnya menjadi tahanan kota, setelah mendapat jaminan dari pengacara.

Tommy Sihotang, SH (Foto: HW)

Tommy menyatakan keheranannya terhadap kasus ini. “Nggak ngerti kita. Ada perdata di Jakarta Barat, pidana di Tangerang, dan pidana di (Jakarta) Timur lagi., “ ujar Tommy Sihotang.

Masalah aset, lanjut Tommy, kliennya sudah menang, pidana sudah bebas, sudah punya keputusan Mahkamah Agung.

“Saya pribadi malu sebenarnya. Saya Kristen, malu saya , “ keluhnya usai mendampingi kliennya dalam sidang di PN Jaktim, Senin (7/5/2018).

Menurut Tommy, Jaksa terlalu menyudutkan kliennya, dengan pertanyaan yang berputar-putar. Dimulai dengan tuduhan menyalahgunakan ketentuan dalam menyelenggarakan pendidikan, hingga pembuatan ijazah palsu.

“Siapa saja boleh menyelenggarakan pendidikan di negara ini. Kalau perlu perijinan kan tinggal diurus. Ini kok dipermasalahkan. Persoalan sebenarnya adalah perebutan aset milik yayasan,” tandas Tommy.

Terdakwa Matheus Mangentang dan Ernawaty Simbolon, dalam sidang ke-13 di PN Jaktim, Senin siang, menjawab pertanyaan dari ketiga orang Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum maupun Tim Pengacaranya.

Kedua terdakwa dimintai keterangan tentang program pendidikan yang diselenggrakan oleh STT Setia dan status ijazah yang diberikan. Dipertanyakan pula, seputar program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang menjadi permasalahan dan disebut sebagai “program pelengkap.

Jaksa melihat ada beberapa prinsip penyelenggaraan pendidikan yang diabaikan oleh terdakwa, termasuk penerbitan ijazah yang tidak sesuai dengan UU No.30 tahun 2003 tentang pendidikan.

Matheus Mangentang maupun Ernawaty Simbolon menjelaskan, lembaga pendidikan yang dikelolanya didirikan untuk memenuhi kebutuhan dunia pendidikan di Indonesia, terutama di wilayah pedalaman yang belum dijangkau oleh pemerintah.

STT Setia banyak menugaskan mahasiswanya untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat, melalui kegiatan pengajaran dan pendidikan, khususnya di bidang agama Kristen, di wilayah-wilayah yang belum terjangkau pendirikan, baik oleh pemerintah maupun swasta lainnya.

“Saya ini tahun 2000 mendapat tugas pengabdian kepada masyarakat di Ketapang, di lahan gambut sejuta hektar, di tempat Suku Anak Dalam, dan di tempat lainnya. Pemerintah tidak sampai menjangkau ke sana. Saya harus jalan kaki beberapa jam. Jadi visi missi kami adalah untuk mengabdi kepada masyarakat,” ungkap Ernawaty Simbolon.

Matheus Mangentang menjelaskan, ijazah yang dikeluarkan sekolahnya untuk keperluan internal. Diakuinya pengeluaran ijasah STT Setia tak sepengetahuan Dirjen Dikti.

STT Setia memiliki SK No.180 Tahun 1997 dari Kementerian Agama dan dalam SK tersebut hanya diperuntukkan untuk Prodi Teologia dan Pendidikan Agama Kristen (PAK) serta Ujian Negara, tidak dikatakan boleh menambahkan prodi (program pendidikan ) umum merupakan ranah Kementerian Riset Tehnologi dan Dikti.

Menurut keterangan, ada 659 ijazah STT Setia dibatalkan setelah lolos ujian menjadi PNS karena saat dicek ternyata ijazah yang digunakan tidak memiliki ijin.

Rektor dan Direktur STT Setia ditetapkan sebagai terdakwa atas dakwaan melanggar UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 dengan ancaman 10 Tahun Penjara.

Perkara STT Setia akan menjalani tiga kali sidang lagi, dengan agenda saksi meringa kan, ahli, penuntutan, dan pembacaan putusan. Sidang akan  dilanjutkan Rabu (9/5/2018).

.

 

 

Share This: