Kata Mereka Tentang PARFI dan Kongres PARFI

Yant Yaseer dan suami, Edy Triyono Sumartadi, SH (Foto: Dompri)
_

Kongres PARFI dipercepat, yang berlangsung di Hotel Maharaja Jakarta pada Selasa (10/3/2020) baru saja usai. Aktris senior Alicia Johar (66 tahun) terpilih menjadi Ketua Umum setelah meraih 119 suara, mengalahkan saingannya aktris panas tahun 80-an Lela Anggraeini (54 tahun), yang meraih 83 suara.

Nyaris tanpa perhatian dari kalangan media. Kalau pun ada media yang memberitakan tapi mahluk peliputnya tidak hadir, itu bisa jadi hanya sebagai corong dari kepentingan panitia. Media bisa saja memberitakan, meski tidak hadir di tempat acara. Dalam mekanisme pemberitaan mass media itu biasa, karena ada yang namanya Siaran Pers.

Wartawan – apalagi yang mengklaim sebagai wartawan hiburan atau infotainment – tidak tertarik menghadiri Kongres PARFI, karena PARFI (yang bermarkas di Lt.4 Gedung PPHUI Kuningan Jakarta), memang identik dengan artis-artis tua, yang dianggap tidak layak masuk infotainment atau media hiburan masa kini.  Berbeda kalau PARFI 56 yang dipimpin oleh Marcella Zalianti mengadakan kegiatan. PARFI 56 dianggap menjadi wadah artis-artis muda, walau pun diakui sendiri pendirinya, aktor dan politis Gusti Randa, “PARFI 56 juga enggak ngapa-ngapain!”, alias yang aktif di organisasi, orangnya itu-itu juga. Cuma beberapa gelintir!

Dari sudut pandang yang berbeda, melihat Kongres PARFI “Dipercepat” di Hotel Maharaja kemarin, ada juga sisi menariknya. Yang pertama adalah melihat semangat artis-artis tua untuk mempertahankan organisasi tempat mereka bernaung; semangat untuk memperlihatkan tali persaudaraan di antara anggota; semangat untuk memperlihatkan demokrasi ala PARFI; dan semangat untuk menatap masa depan meski pun usia mereka tidak muda lagi.

Mereka tetap semangat mengikuti kongres walau pun tidak ada pejabat dari Kementerian, utusan dari Badan Perfilman Indonesia atau organisasi perfilman lainnya yang menjadi mitra PARFI. Kali ini PARFI nyaris sendirian!

Beberapa anggota PARFI  yang ditemui menyampaikan harapannya agar PARFI bisa bersatu, menjadi ajang silaturahmi, dan bisa memperjuangkan nasib artis film yang selama ini diperlakukan “tidak terhormat” oleh pelaku industri film.

 

“Alhamdulillah saya bisa hadir dalam kongres kali ini. Minimal saya bisa memberikan satu suara untuk Ketua PARFI yang baru. Semoga lancarlah kongres kali ini,” kata artis film dan sinetron Yanti Yaseer yang datang ke kongres didampingi oleh suaminya, Pengacara Edy Triyono Sumartadi, yang belakangan juga mulai menjajal dunia akting.

Yanti berharap Ketua terpilih bisa memperbaiki PARFI dan dapat mengembalikan marwah PARFI. “Harapannya Parfi ini bisa menjadi satu, jangan sampai terpecah belah. Marilah kita bersatu, bergabung, supaya Parfi ini bermanfaat untuk insan-insan perfilman,” kata Yanti.

Sang suami Edy Triyono, meskipun belum menjadi anggota PARFI, mengaku ikut mengamati dinamika dalam tubuh PARFI. Apalagi ia memiliki latar belakang seni, dan pernah bergabung di teater. Dia merasa aktivitas di film menjadi bagian dari hobi yang dijalaninya.

“Sekarang saya calon anggota Parfi. Sudah terdaftar. Saya juga mencoba ikut membantu Parfi ini. Mudah-mudahan ke depannya ada sebuah organisasi yang bisa mengayomi artis, bisa melindungi hak artis, kebetulan background saya pengacara. Mudah-mudahan hak artis bisa terlindungi, baik dari sisi komersialnya maupun dari sisi penghasilannya,” kata Edy.

Edy melihat ada beberapa hal yang perlu disamaikan kepada pengurus sebagai masukan. Ia melihat PARFI adalah organisasi yang sifatnya entertain, yang berasal dari hobi, bisa saja ini menjadi organisasi yang profit dan profesionalitas itu yang penting.

“Saya lihat ada potensi besar dari PARFI ini, karena banyak pesan-pesan yang belum tersampaikan. Pola rekrutmen anggota juga perlu dibenahi, agar tidak terjebak dalam organisasi yang sering dipertanyakan. Harapan kita Parfi bisa bekerja sama dengan agent artis dengan PH, dan anggotanya harus terdaftar,” tambah Edy.

Artis senior asal Bandung, Zenny Nurjanah juga berharap PARFI bisa mengembalikan marwahnya, bisa bersatu, tidak ada dikotomi artis tua dan artis muda.

Zenny Nurjanah.

“Saya rindu dengan kebersamaannya, rindu dengan kekompakannya,” kata Zenny. “Saya memang pernah bergabung di organisasi artis lain, tapi Parfi adalah rumah saya, rumah kita bersama.”

Komedian anggota Srimulat, Tarzan yang menjadi anggota PARFI sejak era Ratno Timoer berharap PARFI bisa kembali seperti dulu. Organisasinya jelas, ada aktenya ada kantornya da nada pengurusnya. 

“Hanya saya tidak tahu jadinya bagaimana. Ini (kongres) awalnya agak runyam sedikit, tapi saya cukup bangga dengan penggagasnya, berarti dia itu ada kemauan. Karena orang film itu tidak harus diangkat oleh orang lain, tapi diangkat oleh dirinya sendiri. Oleh insan-insan film itu sendiri,” kata Tarzan.

Tarzan melihat yang datang ke Kongres PARFI ini hanya orang-orangtua, karena orang-orang muda tanpa PARFI pun menurutnya bisa hidup. “Tapi anak-anak muda itu kan nilai silaturahimnya kurang, menurut saya. Dan saya  juga berharap pemerintah memberikan perhatian kepada PARFI, organisasi artis yang dulu sangat dihormati.”

Angotta PARFI yang lebih banyak mencurahkan waktu dan tenaganya untuk menjadi kontraktor, David Pranata Boer menganjurkan agar setelah kongres ini pengurus dapat mengurus legalitas organisasi ke Kemenkumham. Sebab sejak era kepemimpinan Aa Gator Brajamusti, PARFI tidak memiliki legalitas dari Kemenkumham.

“Jangan lupa pula setelah kongres ini segeralah lakukan rapat-rapat pengurus terutama dalam menyempurnakan AD / ART dan Pedoman Organisasi, sehingga Parfi menjadi organisasi yang selalu up-date dalam aturan-aturan internal sehingga nanti punya aturan-aturan baku dalam menjalankan roda organisasi. Pertahankan Parfi Kuningan sini sebagai lembaga perkumpulan satu-satunya artis film Indonesia,” ujar David.

Farida Rahim

Silaturahim adalah tujuan para anggota untuk tetap bertahan di PARFI. Farida Rachim, artis yang kini mengenakan hijab, mengaku ingin PARFI tetap ada di mana dia dan teman-temannya bisa kerap bertemu. “Alhamdulilah kita masih bisa bertemu dengan teman-teman. Semoga Parfi bisa memperbaiki perfilman Indonesia,” ujar Farida.

Ketua Organizing Committee (OC) Kongres Sandec Sahetapy berharap, setelah kongres ini PARFI tidak lagi terpecah-pecah. Dia berharap anggota yang masih berada di luar untuk kembali dan bersama-sama memperbaiki PARFI.

Sandec Sahetapy

“Kalau ada pintu atau jendela yang rusak, marilah kita perbaiki sama-sama,” kata putra aktor almarhum Charly Sahetapy ini.

Namun tidak semua anggota PARFI setuju dengan pelaksanaan Kongres PARFI Dipercepat ini. Seperti yang disampaikan oleh Ketua PARFI Cabang Lampung, Hermansya GA.

“Sekarang ini jamannya kebalik. Kok ada (dalam kongres) pertanggungjawaban pengurus disampaiken oleh Ketua DPO (Dewan Pertimbangan Organisasi). Emangnya DPO itu pengurus atau Ketua Parfi? Terus pengurusnya mana?,” kata Herman.

Ia juga menyoroti kata demisioner yang disampaikan dalam kongres, karena pada kenyataannya sejak Febryan Aditya dilengserkan dari Ketua Umum PARFI, sudah tidak ada pengurus lagi. Selain itu dalam kongres kali ini pun tidak ada pembahasan dalam rapat-rapat komisi. “Kongres kok kaya arisan!” katanya.

Aktor Soultan Saladin, yang mengaku mendapat mandat menjadi Pejabat Pelaksana Ketua Umum PARFI dari Aa Gatot Brajamusti setelah Kongres di Lombok, juga mempertanyakan keabsahan Kongres PARFI dipercepat.

Soultan Saladin

“Ini kongres siap yang mengadakan? Dapat mandat dari mana? Saya dengar juga SC-nya mundur. Jadi kongres seperti apa yang mau diadakan? Apalagi cuma berlangsung sehari. Apa ada waktu untuk menyampaikan pertanggungjawaban, membahas AD / ART, penyampaian visi dan missi oleh Calon Ketua Umum? Jangan dipaksainlah!” kata Soultan.

 

Share This: