Kaukus Perempuan Parlemen RI Bergerak Bersama Menyongsong Pemilu 2019

_

Keterwakilan perempuan dalam pemilu 2014 lalu menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dengan jumlah caleg yang lebih banyak dibandingkan pemilu tahun 2009. Namun kenyataannya di hasil pemilu 2014 keterpilihan perempuan mengalami jumlah penurunan, baik di DPD RI maupun di DPR RI tingkat nasional maupun daerah.

Hal inilah yang mendorong Kaskus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPP-RI) menyelenggarakan Konsolidasi Nasional Kaukus Perempuan Parlemen (Konas KKP III), pada 16-17 November 2017 yang akan dilaksanakan di gedung Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Jakarta.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua OC, Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc bahwa pada 2014 ada lompatan jumlah caleg dibanding pemilu 2009. Hal tersebut dipicu dengan giatnya kerja-kerja KPP-RI menyuarakan
Adanya jumlah kuota sebesar 30% yang harus dipenuhi dan juga kenyataannya partai juga mengakomodir semangat tersebut.

Namun kenyataannya keterpilihan perempuan justru lebih rendah dari pemilu 2009. Hal ini menjadi PR bagi KPP-RI yang bukan hanya berfikir untuk memenuhi target kuota 30% tersebut, tetapi juga meningkatkan kualitas anggota legislatif perempuan.

“Elit partai politik sebagai penentu kebijakan internal, masih sedikit yang menempatkan perempuan di posisi strategis. Hal ini mengakibatkan berbagai kebijakan seringkali luput mempertimbangkan kebutuhan dan kepentingan kader perempuan,” kata Wa Ode yang ditemui di Gedung Parlemen Senayan, Selasa (14/11/2017).

Pentingnya posisi perempuan dalam parlemen dalam menentukan kebijakan,  menurut Wa Ode,  baik dalam legilasi DPR-RI maupun DPD-RI,  mempunyai fungsi yang sama dalam membuat undang-undang yang terdiri dari berbagai aspek. Termasuk juga aspek yang berhubungan langsung dengan kepentingan perempuan dan anak-anak.

“Ini merupakan upaya bagi KPP-RI untuk mencari cara, bagaimana meningkatkan jumlah perempuan di dalm parlemen dan mempunyai fungsi, sebagai penguatan agar konsep sebagai pengaruh utama gender bisa masuk ke dalam segala aspek dari beragam undang-undang yang diciptakan,” tambahnya.

Konsolidasi Nasional (Konas) kali ini merupakan konsolidasi yang ke tiga, setelah di tahun 2008 dan 2012 dilaksanakan. Selama dua hari sebanyak 800 peserta yang berasal dari anggota legislative seluruh daerah akan hadir, dan berkonsolidasi untuk menghadapi pemilu 2019. Tema yang diangkat pada konsolidasi nasional kali ini adalah “Meningkatkan Representasi Politik Perempuan pada Tahun 2019”.

Para perempuan parlemen yang hadir akan merumuskan strategi bersama dalam upaya meningkatkan representasi perempuan pada pemilu legislatif 2019. Selain itu juga akan diberikan pembekalan melalui workshop parallel dengan tema yang relevan dengan pemilu, seperti manajemen kampanye, komunikasi politik dan pengawalan suara.

Sampai sejauh ini persiapan untuk acara tersebut hampir tidak ada masalah yang berarti. Besarnya minat para legislatif perempuan untuk mengikuti acara ini sangat menggembirakan.

“Kami tidak menyangka sambutan para legislatif  perempuan dari berbagai daerah begitu besar. Dari target semula hanya sekitar 300-500 diluar ekspektasi hampir 1000 anggota yang mendaftar untuk mengikuti acara ini” ujarnya tak seraya tak mampu menutupi rasa gembiranya.

Konas III  ini mempunyai pesan yang sama seperti Konas II dan II, dengan target adalah untuk meningkatkan keterpilihan perempuan dalam setiap pemilu dalam hal ini pemilu tahun 2019.

Sejumlah tokoh nasional juga turut hadir dalam konas kali ini, antara lain Presiden Joko Widodo, Yohana Yembise (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Puan Maharani (Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan), Arief Budiman (Ketua Komisi Pemilihan Umum) dan tokoh-tokoh Nasional lainnya.

Setelah Konas ini KPP-RI tidak hanya menjelang pemilu saja melakukan konsolidasi nasional, tetapi sepanjang tahun selama periode lima tahun diharuskan mempunyai kegiatan yang bersifat afirmatif terhadap penguatan dalam kepemilihan perempuan.

Selain konsolidasi KPP-RI juga merencanakan akan melakukan aktifitas dan action yang bukan hanya dilakukan dalam rangka mendekati pemilu saja, tetapi tentunya harus ada action yang dilakukan pasca pemilu. (Yulia Dewi)

Share This: