Kawah Ijen: Keajaiban Blue Fire dan Penambang Belerang.

Penambang belerang, membawa pikulan berisi belerang seberat 80 kg menaiki tebing curam menuju pengepul di Kawah Ijen, Banyuwangi (Foto-foto HW)
_

 

Adalah kawah biru atau blue fire, fenomena alam yang unik dan hanya dapat dilihat di Kawah Ijen – Banyuwangi saja. Saking indahnya fenomena ini bahkan mengalahkan popularitas matahari terbit di Banyuwangi yang disebut sebagai matahari pertama di Jawa. Tak hanya itu, banyak wisatawan dari berbagai negara rela datang jauh-jauh sekedar untuk melihat penampakan si Api Biru di kawah Ijen.

Api biru hanya dapat dilihat pada dini hari di Kawah Ijen, yaitu pada pukul 01.00-02.00, sebelum matahari terbit. Puncak momen keindahan Kawah Ijen terletak pada saat matahari sedang berada di belahan bumi lainnya. Warna terang ini berasal dari tingginya suhu yang ada di kawah tersebut.

Cara terbaik untuk mencapai Kawah Ijen adalah melalui Kota Banyuwangi, meski pun Kawah Ijen juga bisa dicapai melalui Bondowoso. Tetapi jalan dari Banyuwangi lebih baik dan jarak tempuhnya lebih pendek.

Penambang belerang, membawa pikulan berisi belerang seberat 80 kg menaiki tebing curam menuju pengepul di Kawah Ijen, Banyuwangi (Foto-foto HW)

Sehari sebelum berangkat ke Kawah Ijen kami memesan kendaraan khusus di hotel tempat menginap. Harga sewa kendaraan sebesar Rp.600 ribu harus dilunasi di hotel, dan pada pukul 01.00 dinihari kendaraan akan datang menjemput. Itu kalau ingin melihat blue fire.

Sesuai waktu yang dijanjikan, pihak hotel menghubungi kamar pada pukul 01.00 karena kendaraan penjemput sudah datang. Kami langsung menuju lobi hotel dan di sana sudah menunggu sopir yang akan membawa kami ke kawah Ijen. Kami berangkat bertiga dengan naik jip trover dengan penggerak empat roda (4 X 4). Mobil melaju tanpa halangan apa pun karena jalan di kota masih sepi. Bahkan sampai masuk ke Kecamatan Licin yang berada di kaki Gunung Ijen, mobil bisa melaju kencang meliuk-liuk di jalan berliku. Sesekali bertemu dengan truk mini pengangkut sayuran.

Pukul 01.45 kami sudah tiba di sebuah pelataran yang sudah dipenuhi mobil. Sudah banyak calon pengunjung Kawah Ijen yang berkumpul. Kami bertemu dengan calon pemandu yang sudah janji melalui telepon. Ada yang berbincang-bincang, ada yang berkumpul di warung untuk menikmati kopi dan sarapan. Kami langsung ke warung untuk menikmati sarapan yang disiapkan dari hotel. Kami hanya memesan kopi di warung Bu Min, isteri seorang penambang belerang yang kini sudah beralih menjadi pemandu turis ke Kawah Ijen.

Selama setengah jam kami minum kopi dan menikmati sarapan di warung Bu Min. Tidak lama kemudian calon pemandu kami, Slamet adalah seorang penambang belerang yang nyambi sebagai pemandu turis. Kami membeli tiket seharga Rp.5000 / per orang, lalu masuk menelusuri jalan pasir selebar kurang dari dua meter menuju Kawah. Jalan menuju kawah cukup berat, karena terus menanjak. Nafas terengah-engah karena harus berpacu dengan waktu untuk mencapai kawah, guna melihat fenomena blue fire.

“Kita harus cepat Mas. Nanti keburu terang, blue firenya hilang,” kata Slamet, sang pemandu.

Setelah berjalan selama satu jam lebih, kami tiba di Kawah Ijen. Pemandu memberikan masker khusus untuk menahan nafas dari bau belerang dan gas yang berbahaya. Dari sana lalu turun lagi menuju tempat penambangan belerang yang berada di mulut kawah. Di tempat itulah blue fire berada. Blue fire adalah api bersuhu tinggi yang mengeluarkan warna biru di malam hari. Warnanya sangat indah. Wisatawan rela begadang dan mendaki bukit serta menuruni kawah untuk melihat dari dekat fenomena blue fire itu.

Sesampainya di dekat tempat menambang belerang, sudah banyak wisatawan yang berkumpul. Masing-masing mencari posisi terbaik untuk mengabadikan fenomena alam itu dengan kamera masing-masing, baik kamera foto maupun video. Namun pengambilan gambar tidak bisa sempurna, karena angin bertiup kencang dan mengombang-ambingkan kepulan asap belerang sehingga menutupi keindahan blue fire. Itu bulan November. Saat terbaik untuk mengambil foto Blue Fire adalah antara bulan Mei – Agustus, ketika udara cerah dan angin tidak terlalu keras.

Hanya sesekali blue fire terlihat jika asap beralih ke arah lain. Ternyata tidak hanya menutupi blue fire, asap belerang yang berbau menyengat juga menerpa wajah kami. Asap yang pekat menyebabkan nafas terasa sesak dan mata perih. Tetapi keadaan itu tidak menyurutkan kami untuk terus mengamati si api biru.

Satu jam berada di lokasi, langit mulai terang. Walau pun matahari belum menampakan ujudnya, tetapi sinarnya yang dipancarkan dari balik bumi mulai terlihat. Seketiga itu pula blue fire menghilang. Kami kurang puas karena blue fire yang muncul tidak terlihat sempurna, sehingga foto-foto yang kami buat tidak seindah foto-foto blue fire yang kami lihat di internet. Namun demikian pengalaman ke Kawah Ijen untuk menyaksikan blue fire cukup menggetarkan.

Setelah udara terang keindahan Kawah Ijen terlihat. Kami ternyata berada di dalam sebuah kawah gunung yang luas. Di bawah terdapat sebuah danau dengan air yang berasap berwarna kehijauan. Tempat munculnya blue fire adalah sebuah aliran belerang yang diberi pipa untuk menyalurkan cairan belerang. Tidak lama kemudian satu persatu berdatangan para penambang, menggali bongkahan-bongkahan belerang yang mulai mengkristal. Mereka juga harus melawan terpaaan asap yang tentunya terasa lebih panas dan perih di mata. Para penambang umumnya menggigit kaus bekas yang dibasahi air, guna mengurangi rasa bau dan perih di mata.

Mereka lalu memasukan bongkahan-bongkahan belerang ke keranjang mereka dan memikulnya mendaki bibir kawah hingga ke atas. Dari sana masih melanjutkan perjalanan sejauh 3 Km untuk menuju tempat penimbangan. Rata-rata penambang dapat membawa belerang seberat 70 – 80 kilogram dalam keranjang mereka. Dan setiap kilogram akan diharga Rp.900 di tempat penimbangan. Sungguh perjuangan yang luar biasa.

Para penambang yang membawa belerang mendaki bukit dan alam sekitar kawah yang indah tak lupa diabadikan oleh seluruh fotografer yang datang ke sana. Begtu banyak foto human interest yang bisa dihasilkan dari sana. Ketika hari beranjak siang, masih banyak turis-turis asing yang berdatangan, terutama para lansia dan wanita. Mereka berhasil mencapai Kawah Ijen walau tidak menyaksikan blue fire. Namun mereka sudah puas menyaksikan keindahan Kawah Ijen.

 

Share This: