Ke Pasar Tomohon: Kalau Tidak Kuat, Batalkan Niat!

Seorang wanita melakukan tawar menawar dengan pedagang daging hewan di Pasar Tomohon, pertengahan November 2017 lalu. (Foto: HW)
_

Di sela-sela meliput kegiatan Festival Film Indonesia 2017, Novemver 2017 lalu  Balaikita sempat mengunjungi beberapa kota di Sulawesi Utara yang dekat dengan Manado, yakni Kota Tomohon dan Tondano. Jaraknya juga tidak terlalu jauh, hanya 25,5 kilometer. Disambung ke Tondano, yang pernah disiapkan jadi ibukota Kabupaten Minahasa, hanya tambah 6 kilometer lagi.

Wanita tua pedagang tikus, siap memasuki tikus yang sudah dibayar oleh pembelinya. (Foto: HW)

Bersama seorang teman wartawan, Balaikita berangkat dari Kota Manado pukul 06.00 menggunakan mobil taksi online. Jalan ke Tomohon menanjak, masih diselimuti kabut. Kurang dari satu jam kami sampai di Kota Tomohon. Jalan-jalan masih sepi, karena hari Minggu.

Mobil yang kami sewa berhenti di tepi jalan, dekat jalan masuk menuju Pasar. Jalan menuju pasar bisa dimasuki kendaraan, tetapi di kiri kanan jalan ada penjual menggelar dagangannya.

Umumnya wanita yang berjualan sayuran. Ada pula yang menjual bambu dan daun pisang untuk membuat lemang.  Kira-kira limapuluh meter dari tempat parkir mobil, terdapat gerbang pasar yang bertuliskan : Pasar Beriman Kota Tomohon. Seperti pasar pada umumnya, kesannya tidak ada yang terlihat aneh di pasar ini. Yang terlihat hanya penjual sayur-sayuran.

Seorang pedagang membawa babi yang sudah dipotong. (Foto: HW)

Tetapi begitu kami masuk lebih dalam, di depan pasar buah dan sayuran terdapat sebuah “bakul tikus”, seorang wanita tua yang menjual tikus yang sudah gosong terbakar. Badannya disindik oleh batang bambu hijau kecil. Ada beberapa belas ekor tikus bakar di atas bakulnya. Harganya Rp.25 ribu per ekor. Tikus yang dijual di Pasar Tomohon konon hanya tikus-tikus pohon.

Kami masuk ke los daging yang agak ke dalam pasar. Di sinilah horor yang sesungguhnya terlihat dengan nyata. Di bagian depan saja sudah ada beberapa penjual anjing yang sudah dibakar, juga anjing dan kucing hidup.

Di jalan kami melihat seorang pengendara motor membawa seekor babi besar yang sudah disembelih dan dibuang isi perutnya. Itu merupakan pemandangan biasa di Pasar Tomohon. Di dalam pasar, begitu banyak hewan yang tidak bisa dikonsumsi masyarakat umum diperjualbelikan. Umumnya sudah disembelih dan yang berbulu sudah gosong dibakar bulunya.

Hampir semua pedagang memiliki tabung-tabung gas melon dan selangnya, untuk membakar hewan-hewan berbulu. Di pasar itu kami melihat ada kelelawa besar (kalong) yang sudah dibakar bulunya, babi hutan, ular piton, biawak dan hewan-hewan liar lainnya.

Pembeli silih berganti berdatangan untuk menawar dan membeli. Kami melihat beberapa pembali wanita yang datang. Tidak ada rasa risih sedikit pun melihat hewan-hewan tersebut, dan penjual melayaninya seperti di pasar pada umumnya.

Teman yang datang bersama Balaikita sudah menghilang. Ketika ketemu di luar pasar, terlihat wajahnya merah menahan mual. “Enggak kuat gua!” katanya.

Pasar Tomohon memang bukan tempat yang cocok bagi pencinta binatang atau mereka yang mengharamkan hewan-hewan tertentu. Namun bagi seorang traveller, masuk Pasar Tomohon adalah pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Hanya saja, kalau tidak kuat, sebaiknya tidak usah datang ke Pasar Tomohon!

Dulu Tomohon dikenal sebagai pusat produsen sayur-sayuran, kini predikat itu telah beralih ke Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan. Tomohon kini dikenal sebagai produsen bunga (kembang) di Provinsi Sulawesi Utara.

Tidak hanya itu, letaknya yang diapit oleh tiga gunung aktif, yaitu: Lokon, Mahawu dan Masarang menjadikan wilayah ini sebagai daerah yang subur dan sebagai daerah wisata karena hawanya yang sejuk. Pasar Tomohon dulunya adalah pasar tradisional terbesar di Minahasa.

Share This: