Keira, Sebuah Thriller Psikologi dari Harry Dagoe

Angelica Simperler (Foto: HW)
_

Harry “Dagoe” Suharyadi dikenal dengan film-filmnya yang selalu mengajak penonton untuk berpikir. Artinya, tidak mudah mencerna jalan cerita dan maksud sang sutradara. Mungkin penonton perlu mengikuti nasihat Drs. Asrul Sani, agar menonton dua kali untuk memahami isi film karya Harry Dagoe.

Melalui film terbarunya, Keira, Harry Dagoe kembali berakrobat menampilkan sebuah karya sinema yang mungkin hanya bisa dipahami dengan mudah oleh para sufi perfilman. Atau setidaknya mereka yang berulangkali mengikuti workshop kritik film yang diadakan oleh Pusbang Film.

Keira adalah sebuah psychology thriller, yang menggambarkan sosok seorang gadis dengan tujuh kepribadian. Bagi penonton yang baru menonton karya Harry Dagoe, bisa jadi bakalan pontang-panting memahami bahasa gambar yang disajikan Harry Dagoe, agar bisa memahami secara utuh tentang pesan yang dikandung dan menikmati dramaturgi dalam film ini.

Keira, yang dijadikan judul, adalah nama tokoh dalam film ini. Sejak kecil ia menyaksikan ayahnya yang sering membunuh orang — semuanya perempuan, bahkan isterinya sendiri — untuk tumbal pesugihan yang dijalaninya.

Traumatik itulah yang membuat Keira tumbuh menjadi gadis dengan tujuh kepribadian. Sekali waktu dia bersikap sangat lembut, lalu berubah menjadi gadis dengan nafsu berkobar-kobar, kemudian bertransformasi menjadi seniman musik, tetapi di waktu kemudian menjadi pembunuh berdarah dingin, atau berujud seperti tokoh wayang.

Perubahan-perubahan karakter Keira coba digambarkan Harry Dagoe melalui sosok yang berbeda baik dalam perilaku maupun sosok sang gadis.

Perubahan-perubahan yang divisualisasikan oleh Harry Dagoe — seringkali tanpa transisi dan gradasi — sehingga penonton harus berpikir keras nyaris di setiap scene yang menggambarkan perubahan karakter Keira.

Butuh ketrampilan membaca sebuah film untuk memahami karya Harry Dagoe yang satu ini, sebagaimana penonton harus memahami film-filmnya. Bukan saja perubahan karakter tokohnya yang instan dalam Keira, struktur  yang melompat-lompat, seringkali tanpa informasi awal, membuat kita, penonton, harus memeras otak lebih keras.

Mengambil lokasi di provinsi Lampung yang banyak memiliki destinasi wisata menarik, dalam sepuluh menit awal film ini seperti menjanjikan sebuah tontonan yang gurih dan bergizi.

Kelincahan lumba-lumba berlompatan di Kiluan, kerucut-kerucut tajam batu hiu dan pantai yang dangkal dengan air yang jernih menjadi intro yang sangat menarik, walau pun di bagian awal penonton sudah disajikan sebuah adegan kekerasan mengerikan.

Namun setelah cerita bergulir jauh keindahan provinsi Lampung yang coba dikatrol dalam film ini, kurang tereksplorasi dengan baik.

Bukan saja kamera tidak berhasil menghadirkan gambar-gambar  yang indah karena DoP atau camera person yang kurang mengeksplorasi kemampuan teknis fotografi, sehingga destinasi-destinasi indah di Provinsi Lampung menjadi terkesan biasa-biasa aja.

Andaikata pengambilan gambar dilakukan lebih sabar, menunggu cakrawala menampilkan auranya yang mempesona, angle-angle yang lebih kaya, niscaya film ini bukan saja enak diikuti alurnya, tetapi akan memanjakan mata, sehingga penonton tidak terlalu sesak napas memahami isi ceritanya.

Menggantikan Angelica Simperler dengan pemeran lain untuk menunjukkan kepribadian Keira yang berubah, rasanya juga membuat adonan yang diracik untuk film ini kembali mentah, karena perubahan itu dilakukan tiba-tiba, non gradual, meskipun kadang tokoh yang berbeda itu masih memakai kostum yang sama.

Mungkin akan lebih menarik, hemat penulis, jika hanya karakternya saja yang berubah, tetapi fisiknya tetap. Artinya dia mau waras atau jadi gila, cukup diperankan Angelica Simperler saja. Mengganti pemeran untuk menggambarkan perubahan karakter tokoh, malah membingungkan.

Sentuhan horor dalam film ini juga membuat premis yang dirancang jadi melenceng. Harry Dagoe seperti tidak percaya diri dengan aliran surealis yang diusungnya.

Mengapa harus muncul bayangan wajah Dewi pembawa kemakmuran di air terjun, atau sosok perempuan berpakaian wayang yang melayang-layang sambil mengayunkan belatinya ke sama ke mari untuk mencari korban. Ini membuat konsep thriller psychology yang dibangunnya terkesan murahan. Atau ini cara Harry Dagoe berkompromi dengan arus utama perfilman di Indonesia yang sedang gandrung genre horor?

Dagoe memang belum bisa sepenuhnya masuk dalam arus industri. Ia masih terikat dengan mahzab yang digenggamnya. Melihat Keira seperti ada bayang-bayang Sunya — film Harry Dagoe sebelumnya — yang menggambarkan problem kejiwaan tokohnya.

Yang kurang dari Keira adalah adegan erotis yang kerap muncul dalam film-film Harry Dagoe sebelumnya. Entah jika pihak sensor terlalu bengis dan tidak mau berkompromi.

Bagi penggemar film-film psychothriller, karya Harry Dagoe ini bisa jadi tontonan yang memuaskan dahaga, meski pun harus siap memeras otak untuk memehami ceritanya, sambil berusaha maklum dengan beberapa ketidakcermatan yang ada. Saran penulis, jangan ngobrol atau main HP ketika menonton film ini.

Para pemain juga tidak jelek-jelek amat. Andaikata penata rias bekerja lebih keras memoles wajah pemain sehingga memperkuat karakter yang ingin ditampilkan, gregetnya akan lebih terasa.

Harry juga kurang sabar mengaksplorasi kemampuan pemain agar memperlihatkan ekspresi yang lebih kuat. Tokoh lelaki yang diperankan oleh wartawan senior Yan Widjaya (ayah Keira) misalnya, masih kurang menunjukan mimik ekspresif dalam angkaranya. Persoalan yang sama juga dialami Angelica. Dalam konteks ini Tiga Setia Gara lebih kuat.

Di tengah serbuan film-film horor yang makin baik secara teknis, tetapi makin menjemukan karena over supply, Keira adalah tawaran menarik yang tidak boleh dilewatkan. Secara tematik, film ini memberikan suatu tontonan berbeda.

 

 

Share This: