Kembalinya Sang Legenda “Brama Kumbara”

_

Sosok ganteng, gagah dan sakti yang suka naik burung rajawali dari Kerajaan Madangkara itu datang lagi. Ya, siapa lagi kalau bukan Brama Kumbara. Meski pun puluhan tahun telah berlalu, sosoknya tidak berubah. Iya tetap muda seperti dulu.

Brama Kumbara adalah sosok rekaan karya Niki Kosasih (almarhum). Nama Brama Kumbara pertama kali muncul melalui sandiwara radio Saur Sepuh pada tahun 80-an. Tokoh Brama diperankan oleh Ferry Fadly. Di jaman televisi swasta belum ada, sandiwara bisa menjadi hiburan yang disukai oleh masyarakat. Dan sandiwara radio Saur Sepuh menjadi sangat fenomenal.

Pemeran tokoh-tokoh dalam sandiwara itu juga kemudian menjadi bintang terkenal. Tidak cukup mendengar suara mereka di radio, masyarakat juga ingin melihat wajah mereka. Maka Ferry Fadli (pemeran Brama Kumbara), Elly Ermawati (Mantili) sering muncul dalam kegiatan off air di berbagai kota.

Popularitas Brama Kumbara tidak berhenti sampai sandiwara radio. Pada tahun 1987 Imam Tantowi mengangkatnya ke dalam film berjudul Saur Sepuh. Tokoh Brama Kumbara diperankan oleh Fendy Pradana, yang ganteng dan tinggi besar. Film itu juga sukses di pasaran.

Kini legenda fiktif Brama Kumbara diangkat ke layar televisi oleh rumah produksi Sinemart dengan sutradara Karsono Hadi. Tokoh Brama diperankan oleh pemain sinetron Samuel Zygwain, dan Mantili dipercayakan kepada Sabina Ketya Viena Diva, atlit wushu nasional. Sinetron ini akan tayang di SCTV.

Menurut penyusun story line sinetron ini yang juga menjadi sutradara film Saur Sepuh, Imam Tantowi, sinetron dibuat berdasarkan naskah sandiwara radio karya almarhum Niki Kosasih.

“Saya hanya menerjemahkan dari naskah sandiwara radio Niki Kosasih, saya susun bagian-bagian yang menarik. Saya serahkan kepada penulis yg fresh. Film action itu gimmicknya yang penting,” kata Imam Tantowi usai pemutaran kompilasi adegan sinetron Saur Sepuh di Senayan City, Jakarta, (9/8/2017).

Dari pemutaran khusus untuk wartawan kemarin, para pembuat film ini terlihat berupaya keras mewujudkan tontonan berbeda di layar kaca. Adegan-adegan yang dibuat sudah menyamai adegan dalam film layar lebar. Trik-trik perkelahian, penggunaan efek khusus yang menggunakan teknologi komputer canggih, membuat tipuan-tipuan gambar lebih halus.

Sutradara juga berusaha menyajikan adegan dan shot-shot menarik seperti perkelahian di atas air dan di atas pohon, meski itu tak lebih meniru adegan film laga terkenal The Crouching Tiger Hidden Dragon karya sutradara Taiwan, Ang Lee, yang dibuntangi Chou Yun Fat, Michelle Yeoh dan Zhang Ziyi.

Jurus-jurus perkelahian yang digunakan juga sangat stereotype film laga Indonesia, yang gerakan-gerakannya hampir sama. Dan adegan peperangannya juga mirip dengan film-film klasik Mandarin, di mana ada pasukan berkuda membawa panji-panji. Cuma dalam Saur Sepuh produksi Sinemart ini, kesan kolosalnya masih kurang. Pasukan yang berperang masih terlihat terlalu sedikit.

Tetapi sebagai sebuah tontonan televisi, sinetron ini sudah lebih dari cukup dibandingkan sinetron-sinetron tentang geng-geng bermotor yang selalu mengumbar kemarahan.

Share This: