Keragaman Yang Membuat Indonesia Kaya dan Menarik

Tim Kesenian Pemuda Maluku dalam Jambore Pemuda 2018 di Toboali, Bangka Selatan. (Foto; HW)
_

Kelebihan Indonesia dibandingkan banyak negara lain di dunia, bukan hanya karena negara yang berada di garis Khatulistiwa ini terdiri dari belasan ribu pulau atau diapit oleh dua lautan — Lautan Hindia dan Pasifik — tetapi kekayaan budaya dan keragamannya.

Pemuda dari Sumatera Barat mengenakan pakaian daerah dalam JPI 2018 di Toboali, Bangka Selatan. (Foto: HW)

Di negara sepanjang 8.514 kilometer ini — jika dihitung dari Sabang sampai Merauke — dihuni oleh lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia, atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.

Tiap-tiap suku memiliki kekhasan dan karakteristik tersendiri, mulai dari bahasa, budaya dan adat istidat. Perbedaan itu tercermin dari jenis-jenis makanan, kebiasaan hingga berpakaian.

Pemudi dari Provinsi Aceh dalam JPI 2018 di Toboali, Bangka Selatan. (Foto: HW)

Memang seiring perkembangan jaman sudah banyak sukubangsa di Indonesia yang telah kehilangan identitasnya, tetapi masih banyak yang tetap memelihara adat istiadatnya. Yang terutama adalah dalam bidang seni dan budaya.

Keanekaragaman budaya di Indonesia merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Indonesia boleh tertinggal dalam bidang iptek, Indonesia boleh memiliki saingan dari negara lain dalam soal keindahan, tetapi kalau soal kekayaan dan keragaman budaya, Indonesia jangan dilawan.

Pemuda dari Sumut dalam JPI 2018 di Toboali, Bangka Selatan. (HW)

Kekayaan dan keragaman budaya itulah yang menjadi daya tarik Indonesia, sehingga banyak turis mancanegara mau datang ke Indonesia. Kekayaan budaya itu menjadi sangat unik dan eksotik. mana saja di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pula Rote, akan ditemui masyarakat yang berbeda adat istiadat dan budayanya di wilayah geografis yang berbeda.

Memang bisa sama di daerah-daerah tertentu sudah terjadu akulturasi atau pengaruh agama atau kepercayaan tertentu di dalam budaya masyarakat, namun tetap tidak menghilangkan muatan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Kontingen Pemuda Kalsel dalam JPI 2018 di Toboali, Bangka Selatan. (Foto: HW)

Misalnya kesenian Betawi sangat dipengaruhi oleh kesenian Cina, atau Aceh yang dipengaruhi budaya Timur Tengah, tetapi tetap saja muatan-muatan lokal atau kreasi masyarakat setempat tetap kuat, sehingga berbeda dengan asal muasal kesenian yang mempengaruhinya.

Keragaman dan kekayaan budaya itulah yang membuat Indonesia menjadi sangat menarik sebagai sebuah bangsa. Apalagi perbedaan itu tidak membuat satu sama lain bersaing dan merasa kurang cocok, melainkan saling melengkapi.

Namun akhir-akhir ini kita mendengar kabar yang mengagetkan sekaligus mencemaskan. Yakni tentang terusiknya budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyaralat di suatu daerah.

Kekayaan budaya itu mulai terusik karena ada pihak-pihak yang menyatakan ketidaksetujuannya, dan bahkan mengekspresikan ketidaksetujuan itu dengan tindak kekerasan.

Pelarangan-pelarangan dan keberatan terhadap kegiatan budaya seperti yang terjadi dalam Sedekah Laut di Pantai Baru Yogyakarta, dan pagelaran tari Gandrung Sewu di Banyuwangi, baru kali ini terjadi. Padahal kegiatan itu sudah berlangsung sejak dulu.

Banyak kegiatan budaya di berbagai wilayah di Indonesia sudah menjadi tradisi yang diadakan sejak ratusan tahun lalu. Lepas dari apa yang mempengaruhi dan tujuan kegiatan budaya tersebut, semua itulah yang membuat Indonesia menjadi kaya dan menarik.

Share This: