Ketika Tenun dan Songket Masuk Gedung MA 

Seorang penenun mendemonstrasikan keahliannya membuat tenunan di auditorium Mahkamah Agung. (Foto: DSP)
_

 

Ternyata bukan hanya perkara-perkara hukum saja yang masuk ke Mahkamah Agung (MA), peragawati-peragawati cantik, disainer, penenun dan alat tenunnya juga bisa masuk ke gedung MA.

Dr. Anna Mariana memberi penjelasan tentang kain tenun dan songket kepada Ketua MA, Hatta Ali. (Foto: DSP)

Bertepatan dengan kegiatan pertemuan Empat Daerah, “DHARMAYUKTI KARINI”, dharmawanita di lingkungan Mahkamah Agung,  menyelenggarakan Lomba Busana Kartini dan Lomba Busana Muslim  dengan peserta datang dari Dharmayukti Karini  Pusat, Provinsi Jawa Barat, Banten,  dan DKI.

Di luar itu,   digelar demo make up dan workshop tentang Tenun dan Songket Betawi oleh DR Hj. Anna Mariana S.H, M.H, M.B.A. Workshop ini sejak awal diarahkan oleh   Ketua Umum Dharmayukti Karini, yakni Ibu Hj. Roosdiaty Hatta Ali,  untuk memberi pencerahan  bagi para anggota Dharmayukti Karini,  agar paham dan mengetahui seluk beluk proses pembuatan songket dan tenun  termasuk perawatannya.  Acara makin meriah, karena koleksi songket Anna Mariana dipresentasikan oleh Peragawati  dari Marsya Boutique, milik Anna Mariana.

Soal munculnya workshop dan peragaan Tenun dan Songket Betawi dalam acara ini, erat kaitannya  dengan hubungan persahabatan Anna Mariana dan Ibu Hj. Roosdiaty Hatta Ali yang sama sama  pencinta kain tenun dan songket Nusantara.  Menurut Anna, “Ibu Roosdiaty ini sejak muda suka berkecimpung dengan dunia mode dan fashion. Ia pencinta kain tradisional dan sangat peduli untuk mengangkat  citra kain sekaligus rutin dan memperkenalkan kain tradisional Nusantara seperti Batik, Tenun dan Songket ke berbagai pihak termasuk di lingkungan Dharmayukti Karini .”

Di mata Anna, sosok Roosdiaty  selalu punya semangat dan termotivasi untuk selalu menjadi wanita tangguh, kuat, cerdas namun tetap penuh kelembutan. “Beliau sosok  inovatif  dan berkarakter. Ia gambaran Kartini di masa kini. Ia berjiwa Nasionalisme tinggi dan selalu cinta Budaya Indonesia.”

Menurut Anna Mariana, ia dan Roosdiaty  selalu punya kesamaan dalam hal kecintaan pada Kain Tradisional. Keduanya punya misi dan visi yang sama, untuk mengangkat dunia kain tradisional  Indonesia agar dapat berkembang  lebih baik lagi dari waktu ke waktu, “Sekaligus juga ingin membuat kain nusantara bisa diminati oleh masyarakat Indonesia sendiri. Karenanya perlu promosi yang berkesinambungan, agar kain tradisonal juga bisa dilestarikan.” ungkap Anna.

Tentang Anna Mariana

Sejak Desember 2016, Anna Mariana, membuat terobosan baru. Wanita kelahiran Solo itu mencetuskan lahirnya Tenun dan Sonket Betawi. Dalam sejarah Betawi, memang tidak dikenal tradisi tenun maupun songket yang digarap secara hand made. Anna Mariana mencoba menciptakan tenun dan songket dengan mengambil motif icon Betawi sepeti Monas, Ondel-ondel dan lain-lain. “Saya selalu ingin membuat ide-ide dan karya yang baik dan bagus. Sebelum ini Betawi hanya punya punya batik. Saya menggagas kain tenun dan songket yang selama ini tidak dimiliki Betawi!”

Pendiri sekaligus pemilik House of Marsya ini sebelumnya telah mendiskusikan tentang hal ini dengan Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi . “Saya juga telah mendaftarkan hak cipta   Tenun dan Songket Betawi  agar   secara resmi terdaftar  menjadi milik kita,” ujar Ketua Yayasan Sejarah Kain Tenun Nusantara  sekaligus Pembina dan Pengelola Pengrajin Tenun Kain dan Kerajinan Bali ini bersemangat. “Kami rencanakan,  bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Jakarta Tenun dan Songket Betawi bisa selesai proses produksi dan  resmi dirilis,” ungkap Anna

Untuk melestarikan proses pembuatan Tenun dan Songket, Anna Mariana yang lebih dari 30 tahun bergelut dengan ini bersungguh-sungguh melakukan pembinaan dan pelatihan pada kaum muda. Ia mengambil anak asuh untuk kegiatan menenun dari beragam  tempat. Termasuk juga dari anak-anak  pesantren. “Saya melatih dan menyediakan bahan untuk mereka, agar mereka tidak  hanya piawai mengaji tapi juga menguasai tenun  dan songket dan menjadikan  sebagai sandaran penghasilan. Hasil karya  anak didik ini kan  saya beli lagi!” katanya bersemangat

Pendidikan dan pelatihan tenun sendiri bisa berlangsung sepanjang 3- 4 bulan. Mereka diajarkan teori juga praktek. Tiori sendiri  menyangkut pengenalan alat tenun hingga pengenalan dan pemahaman  soal pewarnaan benang.

“Mereka wajib tahu, bahan-bahan yang digunakan untuk pewarna benang dan juga prosesnya. Kami selalu menggunakan bahan alami, seperti  dari akar, daun-daunan, rempah-rempah dan lain-lain!” ungkap Anna di tengah anak-anak binaannya saat menyambut Sumarsono . “Jika anak yang kami didik masih awam dengan kegiatan menenun, biasanya proses mengajar tiori dan praktek akan  lebih lama. Bisa enam bulan,” ungkap Anna.

Anna Mariana bersama sang suami,  Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha S.H, M.S, M.S.C, memang punya komitmen kuat untuk terus mencintai sekaligus dan menjaga  kelestarian tenun dan songket. Ia menyebut para anak muda wajib mengetahui  dan paham tentang tenun dan songket. Terlebih dengan  banjirnya produk luar negeri  bermerk Internasioal yang masuk ke Indonesia. “Kita wajib  mencintai  produk asli milik bangsa sendiri.  Kalau bukan anak  muda yang mencintai karya asli milik bangsanya sendiri, siapa lagi yang bisa melestarikan tenun, terlebih jika para senior nantinya sudah tidak ada lagi!’ ujar Anna

Menurut Anna, orang luar negeri  justru sangat  mengapresiasi tenun dan songket, karena prosesnya yang hand made.  Orang di luar negeri sudah meninggalkan proses pembuatan fashion dengan cara menenun dengan menggunakan benang  dan alat kayu . “Karena itulah, orang asing melihat karya tenun dan songket sebagai karya yang sangat menakjubkan. Nah, masak kita malah mengabaikannya,” ungkap  Anna.

Anna Mariana sendiri sebenarnya berprofesi sebagai pengacara. Tetapi kecintaannya kepada kain tenun dan songket membuat wanita kelahiran Solo 1 Januari 1960 mencurahkan waktunya untuk pengembangan kain tenun dan songket.

 

 

 

 

 

 

Share This: