Ketua LSF: Pelanggaran Batas Umur Penonton Masih Terjadi

Perwakilan dari PT Demigisela Citra Sinema (kanan) menerima award dari LSF (Foto: HW)
_

Pelanggaran batas umur yang ditentukan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) di bioskop masih terus terjadi hingga saat ini. Meskipun LSF sudah menentukan klasifikasi usia penonton bagi film-film yang disensor, masih banyak penonton yang tidak sesuai umurnya, masuk ke bioskop.

Ketua LSF Dr. Ahmad Yani Basuki mengungkapkan hal itu dalam pidatonya pada acara LSF Award 2017 yang berlangsung di Balai Kartini Jakarta, Senin (6/11/2017) malam.

LSF Award merupakan penghargaan yang diberikan LSF kepada film, sinetron dan iklan yang melakukan penyensoran di LSF. Selain itu LSF juga memberikan hadiah untuk pemenang lomba penulisan, poster dan sensor madiri.

Ahmad Yani Basuki memaparkan, pelanggaran batas umur yang terjadi di bioskop terjadi karena bioskop sering tidak berdaya menghadapi penonton yang kadang memaksa masuk, meski pun film yang akan ditontonnya tidak sesuai.

“Dalam kesempatan ini saya meminta agar semua pihak menghormati ketentuan batas umur yang sudah ditentukan,” kata Yani.

Adapun langkah lain yang dilakukan LSF untuk mengedukasi penonton untuk menonton film-film yang sesuai adalah melalui sosialisasi sensor mandiri. Kegiatan ini dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.

Acara LSF Award Senin malam dihadiri oleh Mendikbud Muhadjier Effendy, Kepala Pusbang Film Dr. Maman Wijaya, Ketua PPFI HM Firman Bintang, Ketua Pafindo HM Bagiono, Ketua KFT dan Parfi Febryan Aditya dan undangan lainnya. Acara ini juga dimeriahkan oleh stand-up comedyan Soleh Solihun, penyanyi Mahadewi dan tari-tarian daerah.

Para peraih LSF Award antara lain sinetron “Para Pencari Tuhan” (PT. Demigisela Film), Film “Silariang” (PT. Art2tonic / Makassar), dan FTV “Namaku Sugeng Rawuh” (PT. Dharmawangsa Studio).

 

Share This: