Ki Manteb Sudarsono: Dalang Itu Netral dan Merdeka!

Ki Manteb Sudarsono (Foto: HW)
_

Dalang terkenal Ki Manteb Sudarsono mengakui tahun politik adalah masa panen bagi dirinya. Banyak partai politik yang menanggapnya untuk main. Secara bergurau Ki Manteb mengatakan memiliki lima baju yang warnanya berbeda-beda. Ada merah, kuning, hijau, biru dan warna campuran. 

“Tapi kalau yang kuning ada dua. Yang satu dari Oskadon,” katanya kepada wartawan di Teater Kautaman Gedung Perwayangan TMII Jakarta, Selasa (27/2/2018).  

Namun Ki Manteb punya prinsip yang dipegang teguh. Ketika mendalang dalam hajatan partai politik, tidak tidak mau menjelek-jelekkan partai politik lain atau berteriak “hidup!!!” bagi tokoh partai yang mengundangnya. “Enggak usahlah begitu!” katanya.

Dalang  itu menurutnya profesi yang netral dan merdeka. Diundang oleh siapa pun boleh. Kalau harus menyampaikan visi missi pengundang akan disampaikan di kelir.

“Kalau sudah saya sampaikan, yang berkepentingan saya suruh naik untuk mendhiko kepada pengikutnya.itu terjadi juga pada Gubernur atau Bupati, saya suruh naik. Lalu saya akan tanya, nanti kalau sudah berhasil Kabupaten sini akan dijadikan apa Pak? Masyarakat juga saya tanya, apa permintaannya, saya suruh ngomong,” kata dalang asal Kota Karang Anyar, Jawa Tengah ini.

Belum lama ini ia diundang oleh salah satu partai politik. Usai menyampaikan visi missi partai dalam kelir, ia meminta pimpinan partai itu untuk naik ke panggung. Lalu ia meminta pimpinan partai politik itu sendiri yang menyampaikan janji-janjinya kepada masyarakat.

Monggo panjenengan Mendhiko kepada anak buah. Karena yang punya pikiran panjenengan. Saya ini hanya mengumpulkan orang nonton. Supaya banyak.

Mungkin saya hanya bertanya, kalau partai Anda berhasil ke depannya akan dijadikan apa negara ini?” tutur Ki Manteb.

Sikap itu menurutnya bukan berarti dalang tidak tahu politik. Justru dalang harus tahu politik! Tapi jangan politik praktis.  Jangan satu warna tadi. Kalau satu warna, sudah hancur pasti. Karena menurutnya warna itu hanya (berkuasa) lima tahun. Nanti setelah lima tahun yang belum tentu.

“Pandai-pandainya saja dalang itu ngemong,” kilahnya.

Ki Manteb sadar bahwa ini adalah tahun politik”.  “Kalau saya tahun politik ya karepmu, bukan ya karepku. Saya punya berharap jangan sampai di belakang saya dalang-dalam muda kena pengaruh. Nanti kalau kena pengaruh ya bisa-bisa dalam satu rumah saja tidak rukun karena membela partai!”

Share This: